Saat ini, pusat bibit siklon 91S berada sekitar 1.100 kilometer di barat daya Kota Padang. Jarak yang relatif dekat tersebut membuat dampaknya mulai terasa, terutama dalam meningkatkan dinamika atmosfer di wilayah Indonesia bagian barat. Aliran angin yang menguat disertai suplai uap air dari sistem ini berpotensi memicu pertumbuhan awan hujan secara masif.
Widget Artikel Samping
Sementara itu, di kawasan Sri Lanka, sistem monsun low yang bertahan selama kurang lebih dua hari mengalami peningkatan intensitas. Pada Sabtu malam, sistem tersebut resmi meningkat statusnya menjadi bibit siklon tropis baru setelah tekanan udara, struktur awan, dan sirkulasi angin dinilai semakin stabil. Bibit siklon ini kemudian diberi nama 90B.
Bibit siklon 90B saat ini memiliki kecepatan angin sekitar 30 km/jam dengan tekanan pusat 1009 hPa. Posisinya terpantau berada sekitar 750 kilometer di barat daya Kota Banda Aceh. Meski masih tergolong lemah, keberadaan 90B tetap perlu mendapat perhatian karena berpotensi memengaruhi pola angin regional serta distribusi awan hujan di kawasan sekitarnya.
Kombinasi dua sistem atmosfer tersebut, yakni bibit siklon 91S dan 90B, diperkirakan akan berdampak pada kondisi cuaca di wilayah Sumatra hingga Jawa. Potensi hujan sedang hingga lebat, angin kencang, serta peningkatan tinggi gelombang laut perlu diwaspadai, khususnya di wilayah pesisir dan perairan terbuka.
Masyarakat di wilayah terdampak diimbau untuk tetap meningkatkan kewaspadaan, memantau informasi cuaca terkini dari sumber resmi, serta mengantisipasi kemungkinan perubahan cuaca ekstrem yang dapat terjadi secara cepat.(**)
Ikuti acehindependent di Google News
Dapatkan berita acehindependent terbaru dan terpercaya langsung melalui Google News.
Buka Google News