BI Dorong Pengembangan Ayam Petelur untuk Stabilkan Inflasi

Asisten II Sekda Aceh T. Robby Irza (Tiga dari kiri), Bank Indonesia (BI) Perwakilan Aceh dan Pemkab Aceh Besar terus mendorong penguatan sektor peternakan ayam petelur sebagai salah satu upaya menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi di daerah, Kamis (5/3). Rakyat Aceh/Rusmadi
Widget Artikel Samping

Tujuh Muda-Mudi Pesta Miras dan Seks Diserahkan ke Kejari

Baca Selengkapnya

ACEHINDEPENDENT.COM, ACEH BESAR – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Aceh terus mendorong penguatan sektor peternakan ayam petelur sebagai salah satu upaya menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi di daerah.

Kepala Perwakilan BI Aceh, Agus Chusaini, mengatakan telur merupakan salah satu komoditas yang sering memengaruhi
pergerakan inflasi karena pasokan dan harganya cenderung tidak stabil.

Bacaan Lainnya

“Telur ini termasuk komoditas yang sering muncul dalam perhitungan inflasi. Hal ini karena pasokannya kadang tidak
stabil dan harganya sering naik turun mengikuti permintaan pasar,” ujar Agus pada Serah Terima Program Implementasi
Kebijakan Ekonomi dan Keuangan Daerah (PI-KEKDA) kepada 6 (enam) kelompok (terdiri dari sektor pertanian, peternakan,
dan sektor usaha garam rakyat) di Gampong Cot Bada, Kecamatan. Ingin Jaya, Aceh Besar, Kamis (5/3).

Untuk mengatasi persoalan tersebut, BI berupaya membantu peternak ayam petelur meningkatkan kapasitas produksi. Salah
satu langkah yang dilakukan adalah mendorong terbentuknya ekosistem usaha peternakan yang lebih kuat dan terintegrasi,
mulai dari penyediaan pakan hingga bibit ayam.

Menurut Agus, biaya terbesar dalam usaha peternakan ayam petelur berasal dari pakan. Oleh karena itu, penguatan sektor
produksi pakan menjadi fokus penting agar biaya produksi dapat ditekan dan usaha peternakan dapat berkembang secara
berkelanjutan.

“Kami mencoba membantu para peternak, khususnya peternak ayam petelur, agar kapasitas produksi telurnya dapat
meningkat. Salah satunya dengan memperkuat ekosistem usaha, mulai dari produksi pakan, penyediaan ayam petelur, hingga
bibit ayam,” jelasnya.

Ia menambahkan, saat ini ekosistem usaha peternakan ayam petelur di Aceh mulai terbentuk meskipun masih dalam tahap
awal. Beberapa komponen seperti penyediaan bibit ayam atau DOC (day old chick) masih didatangkan dari daerah lain.
Namun secara bertahap, BI berharap ekosistem tersebut dapat berkembang sepenuhnya di Aceh.

“Kita memang masih dalam tahap awal dan masih skala kecil. Tapi kami berharap ke depan bisa berkembang lebih besar
sehingga kebutuhan pakan maupun bibit ayam dapat dipenuhi dari dalam daerah,” katanya.

Dalam pengembangan usaha ini, BI juga menggandeng pelaku usaha peternakan lokal untuk menjadi mitra pendamping bagi
peternak baru. Salah satunya adalah peternak yang diharapkan dapat membantu membina dan memberikan pelatihan kepada
calon peternak ayam petelur lainnya.

Dengan adanya pendampingan tersebut, calon peternak baru diharapkan dapat belajar terlebih dahulu melalui program
magang sebelum memulai usaha secara mandiri.

“Kami berharap nantinya akan muncul peternak ayam petelur baru yang bisa memperluas produksi telur di Aceh. Peternak
yang sudah berpengalaman bisa menjadi pendamping bagi peternak baru, misalnya melalui program magang sebelum mereka
membuka usaha sendiri,” ujarnya.

Melalui penguatan sektor peternakan ayam petelur ini, BI berharap pasokan telur di Aceh dapat lebih stabil. Dengan
begitu, fluktuasi harga telur yang selama ini sering terjadi dapat ditekan sehingga berdampak positif terhadap
pengendalian inflasi di daerah.

Agus menegaskan bahwa program pengembangan peternakan ayam petelur tersebut juga merupakan bagian dari upaya BI dalam mendukung pengembangan ekonomi daerah, khususnya di sektor riil yang memiliki dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.

Widget Artikel Samping

Prediksi Paling Akurat Liga-Liga Eropa ada di sini! lengkap, tajam, dan bikin kamu selalu update

Baca Selengkapnya

Pos terkait