BNPB Catat Banjir, Angin Kencang, Kekeringan hingga Karhutla di Sejumlah Daerah

BNPB mencatat sejumlah bencana hidrometeorologi melanda berbagai wilayah Indonesia, mulai dari banjir di Bandung dan Gorontalo Utara, angin kencang di Kalimantan Selatan, kekeringan di Bima hingga kebakaran lahan di Lhokseumawe. Pemerintah bersama BPBD setempat terus melakukan penanganan darurat dan mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem serta musim kemarau.
Widget Artikel Samping

Tujuh Muda-Mudi Pesta Miras dan Seks Diserahkan ke Kejari

Baca Selengkapnya

Jakarta – Indonesia kembali dihadapkan pada berbagai ancaman bencana hidrometeorologi, baik basah maupun kering, yang melanda sejumlah wilayah dalam beberapa hari terakhir. Mulai dari banjir, banjir bandang, angin kencang, kekeringan hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla), berbagai kejadian tersebut menimbulkan dampak terhadap masyarakat dan menjadi perhatian serius pemerintah pusat maupun daerah.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau Badan Nasional Penanggulangan Bencana merangkum perkembangan situasi kebencanaan di sejumlah wilayah Indonesia dalam periode Selasa (26/5) hingga Rabu (27/5) pukul 07.00 WIB. Berdasarkan laporan yang dihimpun dari berbagai daerah, bencana yang terjadi didominasi oleh faktor cuaca ekstrem, perubahan musim, dan fenomena kekeringan akibat minimnya curah hujan.

Bacaan Lainnya

Di wilayah Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, banjir dilaporkan menerjang tiga desa di dua kecamatan pada Sabtu (23/5) malam sekitar pukul 20.20 WIB. Hasil kaji cepat dari BPBD Kabupaten Bandung menunjukkan bahwa desa terdampak meliputi Desa Bojongsoang di Kecamatan Bojongsoang serta Desa Dayeuhkolot dan Desa Citeureup di Kecamatan Dayeuhkolot.

Bencana tersebut berdampak pada sedikitnya 152 kepala keluarga atau sekitar 360 jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 75 warga terpaksa mengungsi ke shelter desa akibat tingginya genangan air yang merendam pemukiman mereka. Para pengungsi berasal dari RW 05 dan RW 14 Desa Dayeuhkolot yang dinilai paling terdampak.

Petugas gabungan bersama perangkat desa langsung turun tangan melakukan asesmen lapangan, pendataan kebutuhan mendesak warga, serta membantu proses penanganan darurat di lokasi. Hingga Selasa (26/5), kondisi tinggi muka air di sejumlah titik masih bervariasi, mulai dari 10 sentimeter hingga mencapai 120 sentimeter.

Tak hanya di Jawa Barat, bencana banjir bandang juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo. Peristiwa yang terjadi pada Selasa (26/5) pukul 16.00 WITA tersebut dipicu oleh hujan deras dengan intensitas tinggi dan durasi panjang sehingga menyebabkan meluapnya Sungai Didingga.

Akibat luapan sungai tersebut, lima desa di Kecamatan Biau terdampak cukup parah, yakni Desa Biau, Desa Bualo, Desa Omuto, Desa Didingga, dan Desa Luhuto. Sedikitnya 529 kepala keluarga terdampak, termasuk akses jalan desa yang ikut terganggu akibat tingginya debit air yang mencapai antara 40 hingga 200 sentimeter.

Dalam penanganan awal, BPBD Gorontalo Utara bersama petugas terkait langsung melakukan asesmen serta membantu masyarakat mengamankan barang-barang penting ke lokasi yang lebih aman. Beruntung, tidak ada laporan korban jiwa maupun warga yang harus mengungsi. Seiring menurunnya intensitas hujan, kondisi air mulai berangsur surut meski petugas masih bersiaga untuk mengantisipasi potensi banjir susulan.

Sementara itu, cuaca ekstrem berupa angin kencang melanda dua desa di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, pada Selasa (26/5) sekitar pukul 13.30 WITA. Peristiwa tersebut menerjang Desa Benua Anyar, Kecamatan Astambul dan Desa Pematang Baru, Kecamatan Martapura Timur.

Hembusan angin kuat menyebabkan sedikitnya 11 unit rumah warga mengalami kerusakan dengan tingkat kerusakan bervariasi. Menyikapi kejadian itu, BPBD Kabupaten Banjar bergerak cepat melakukan pendataan kerusakan, berkoordinasi dengan instansi terkait serta menyalurkan bantuan logistik kepada warga terdampak. Hingga kini, proses penanganan rumah-rumah rusak masih berlangsung dengan kondisi cuaca dilaporkan mulai membaik.

Selain ancaman hidrometeorologi basah, BNPB juga menyoroti bencana hidrometeorologi kering yang mulai meningkat di sejumlah daerah seiring masuknya musim kemarau di sebagian wilayah Indonesia.

Di Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat, kekeringan mulai dirasakan warga akibat fenomena hari tanpa hujan (HTH). Pemerintah daerah melalui BPBD Kabupaten Bima bergerak cepat menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat di Desa Bajo, Kecamatan Soromandi.

Distribusi air bersih dilakukan sejak Selasa (26/5) siang hingga sore hari dan diprioritaskan untuk 299 kepala keluarga atau sekitar 1.195 jiwa di Dusun Ndanondere dan Dusun Rasabou. Warga mengalami kesulitan air bersih setelah mesin pompa air yang selama ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mengalami kerusakan.

Sedikitnya empat rit kendaraan tangki dengan total sekitar 20 ribu liter air bersih berhasil disalurkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Selain itu, pemerintah daerah juga melakukan sosialisasi kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana pada masa transisi musim serta mengedukasi masyarakat terkait langkah mitigasi menghadapi ancaman kekeringan yang mungkin semakin meluas.

Di Provinsi Aceh, kebakaran hutan dan lahan juga dilaporkan terjadi di Gampong Blang Pulo, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe pada Senin (25/5) malam. Titik api pertama kali terdeteksi sekitar pukul 21.05 WIB dan langsung mendapat respons cepat dari petugas gabungan.

Tim pemadam yang terdiri dari Damkar BPBD Regu B Kota Lhokseumawe, Tim Reaksi Cepat, unsur TNI-Polri, relawan hingga masyarakat setempat bergerak menuju lokasi untuk memadamkan kobaran api. Dua unit armada pemadam kebakaran dikerahkan guna mempercepat proses pemadaman dan pendinginan area terdampak.

Setelah berjibaku selama beberapa waktu, api akhirnya berhasil dipadamkan. Meski demikian, sekitar dua hektare lahan dilaporkan hangus terbakar. Hingga saat ini, penyebab kebakaran masih dalam proses penyelidikan pihak berwenang.

BNPB mengingatkan bahwa memasuki bulan Juni, sebagian wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau yang berpotensi memicu kekeringan, kelangkaan air bersih, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan. Di sisi lain, masa pancaroba atau peralihan musim juga menghadirkan ancaman cuaca ekstrem seperti hujan deras disertai angin kencang yang dapat memicu banjir, longsor maupun kerusakan pemukiman.

Karena itu, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah maupun kering. Masyarakat diminta rutin memantau informasi cuaca, menjaga kebersihan saluran air, memangkas ranting pohon yang rawan tumbang, menjaga kesehatan tubuh serta menyiapkan tas siaga bencana guna mengantisipasi situasi darurat kapan saja.(**)

Widget Artikel Samping

Prediksi Paling Akurat Liga-Liga Eropa ada di sini! lengkap, tajam, dan bikin kamu selalu update

Baca Selengkapnya

Pos terkait