Yusra Amri Daud, ACEH INDEPENDENT
Kedatangan para penyair ke Tanah Gayo Aceh Tengah dalam rangkaian Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV, menyimpan berbagai kisah. Salah satunya lahirnya energi yang menyatu untuk membangun Takengon menuju kota sastra.
Selasa 23 Juni 2026 malam, Wakil Bupati Aceh Tengah Muchsin Hasan, didampingi Sekda Mursyid, bersama unsur Forkopimda menyambut kedatangan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, Hafidz Muksin, beserta peserta PPN XIV di Pendopo Bupati Aceh Tengah.
Sudah menjadi bagian kearifan lokal, tamu-tamu kehormatan yang baru menginjakkan kaki di Bumi Malim Dewa, dikalungi syal kerawang Gayo; sebagai simbol penghormatan.
Jabat tangan perkenalan terekat. Lalu musik terdengar diiringi hadirnya para penari khas Gayo. Senyum merekah pun tersimpul di antara sejuknya udara malam kota dingin.
Selain itu, juga disuguhkan seni budaya syair Gayo; Didong. Yang tampil adalah group Teruna Jaya pimpinan Ceh Kabri Wali dan group Timang Rasa pimpinan Ceh M Din.
Didong Gayo merupakan salah satu syair terbanyak di dunia menurut penelitian Salman Yoga yang diabadikan dalam desertasinya. Seperti diketahui, Dr. Salman adalah Ketua Dewan Kurator PPN XIV Aceh-Indonesia.
Mengamati sejarah Didong tiga dasawarsa terakhir, Salman juga menjelaskan bahwa penerjemahan karya Didong ke dalam bahasa Indonesia sudah dilakukan sejak tahun delapan puluhan oleh Prof. Dr. MJ. Melalatoa dari Universitas Indonesia, LK. Ara dan sejumlah tokoh masyarakat Gayo di Jakarta pada tahun 80-an.
Demikian juga kolaborasi antara Didong dan puisi modern yang pernah melibatkan artis dan pembaca puisi nasional Neno Warisman dalam bentuk kaset vita.
Hafidz Muksin yang hadir sebagai perwakilan Kemendikdasmen, menegaskan komitmen untuk mengembangkan, membina, dan melindungi sastra Gayo di Aceh Tengah. PPN XIV, merupakan goresan histori.
“Kegiatan ini merupakan catatan sejarah bagi para penyair yang hadir karena menempuh jarak yang jauh untuk melahirkan syair-syair,” katanya.
“Dalam hal ini, kami juga berkomitmen untuk mengembangkan, membina, dan melindungi sastra Gayo di Aceh Tengah,” tegas Hafidz.
Penegasan Hafidz, dikukuhkan dengan rangkaian Momerandum Of Understanding (MoU) antara Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen dengan Kabupaten Aceh Tengah Tentang Pengembangan, Pembinaan, Perlindungan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah.
Secara terpisah dalam wawancara singkat, Hafidz juga berujar perhelatan PPN adalah bagian dari silaturahmi sesama umat. Dia berharap masyarakat Gayo dapat berdiri lebih kuat pascabencana yang melanda.
Sementara, Muchsin Hasan dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan tersebut menjadi momen untuk memperkenalkan syair Gayo berupa Didong Gayo. Dia mengharapkan Didong Gayo dapat dijadikan warisan budaya tak benda.
“Selamat datang Bapak dan Ibu para peserta PPN XIV Tahun 2026. Kegiatan ini menjadi ajang memperkenalkan syair Didong Gayo kepada seluruh peserta yang hadir dari 14 negara,” kata Muchsin.
Seperti halnya asa Salman Yoga, orang nomor dua di Aceh itu senada menyampaikan harapannya. Ini juga bagian dari menyatunya energi.
“Kami mengharapkan dukungan Bapak Hafidz untuk menjadikan Didong Gayo sebagai warisan budaya tak benda,” ungkap Wabup Muchsin.
Sembari Muchsin memperkenalkan destinasi wisata di Aceh Tengah, dia sempat berkelakar tentang dua musim dan kuliner khas di dataran tinggi Gayo Takengon.
“Di sini, ada dua musim. Yakni, dingin dan dingin sekali,” kata Muchsin disambut gelak tawa.
Sementara masakan daerah khas Takengon. “Di sini ada dua jenis rasa kuliner Gayo. Yaitu, enak dan enak sekali,” imbuhnya, yang juga disambut tawa tamu undangan.
Muchsin menaruh harapan para peserta PPN XIV, dapat mengabarkan kepada khalayak ramai bahwa Kabupaten Aceh Tengah telah bangkit dari bencana. Oleh karenanya, siap dikunjungi oleh wisatawan domestik dan mancanegara.
Malam itu, juga ajang memperkenalkan secara langsung syair Didong kepada seluruh penyair dari penjuru nusantara maupun perwakilan yang hadir dari 14 negara.
“Selain sekaligus seni tradisi, Didong adalah bentuk sastra lisan. Didong merupakan kasta tertinggi dalam peradaban Gayo dan sebagai proto Melayu tua di nusantara,” sahut Ketua Vanue Aceh Tengah PPN XIV Purnama K Ruslan.
Dalam Didong, adalah perpaduan unsur syair, vokal, dan gerak. Di satu sudut Pendopo Aceh Tengah pada malam itu, Samsuddin, penyair asal Negeri Jiran, ingin tahu makna sebuah syair yang dilantunkan. Judulnya Aman.
“Merdu sangat suaranya. Khas,” kata Samsuddin, menaruh apresiasi dalam tepukan tangan; berirama. “Enak mendengarnya,” tuturnya, tampak suka cita.
Di antara kepulan asap dari sebagian sela jemari, bukan hanya ia; satu-dua penyair di ujung sana ikut bertepuk runcang. Tentunya ikut dalam gerakan.
Ada juga sebuah rangkaian setelah jamuan makan malam tamu kehormatan; para panitia Aceh Tengah sempat dihadirkan ke atas panggung. Munculnya “pasukan berani berdarah” tersebut atas permintaan Direktur PPN XIV Novi MR, usai memberi kata sambutan. Agar semua mata tahu. ()








