acehindependent.com— Erosi Sungai Meureubo di kawasan Gampong Pasi Aceh Tunong dan Pasi Aceh Baroh, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat, semakin parah. Jalan sepanjang dua kilometer yang membentang di tepi sungai itu terancam amblas, menyusul kikisan tanah yang terus terjadi setiap kali banjir datang.
Tak hanya mengancam akses transportasi utama, belasan rumah warga yang berdiri di sepanjang bantaran sungai kini masuk dalam zona merah longsor. Warga resah, bukan hanya karena potensi kerugian material, tetapi juga keselamatan jiwa yang dipertaruhkan.
“Setiap kali banjir, bantaran sungai terus tergerus. Kini kondisinya sangat rawan. Jalur ini bisa terputus kapan saja kalau tidak segera ditangani, Sebahagian mulai terjadi longsor ,” kata anggota DPRK Aceh Barat, T. Muhammad Arfan, kepada wartawan, Kamis, 15 Mei 2025.
Menurut T.Muhammad Arfan, erosi tersebut telah berlangsung lama namun belum ada penanganan serius dari instansi terkait. Ia mendesak Pemerintah Provinsi Aceh dan Balai Wilayah Sungai Sumatera segera turun tangan sebelum kerusakan makin meluas.
“Ini bukan jalan lokal biasa. Puluhan gampong di Kecamatan Meureubo dan Kaway XVI bergantung pada jalur ini. Kalau sampai putus, dampaknya sangat besar—baik dari sisi ekonomi maupun sosial,” ujar politisi Partai Aceh itu.
Ia menekankan perlunya mitigasi jangka pendek dan solusi jangka panjang, seperti pembangunan tanggul penahan atau penguatan struktur bantaran sungai. Tanpa langkah konkret, erosi dipastikan akan terus menggerus wilayah tersebut dan memutus akses antar desa. (*)






