Kondisi tersebut diungkapkan oleh salah seorang pedagang pengumpul hasil bumi yang bermarkas di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Ia menyebutkan, fluktuasi harga minyak pala sudah berlangsung cukup lama dan hingga awal tahun 2026 belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
Widget Artikel Samping
“Kalau untuk minyak nilam masih bisa dibilang mendingan. Saat ini saya tampung di kisaran Rp720.000 sampai Rp725.000 per kilogram,” ujar H. Bustami, pedagang rempah-rempah yang telah lama berkecimpung di kawasan Pantai Barat–Selatan Aceh, saat dihubungi, Jumat malam (9/1/2026).
Namun demikian, harga minyak nilam saat ini masih jauh dibandingkan kondisi pada akhir 2024 lalu. Menurut Bustami, pada Oktober 2024 harga minyak nilam sempat mencapai titik tertinggi dengan kisaran Rp2,3 juta hingga Rp2,5 juta per kilogram.
“Waktu itu nilam benar-benar mentereng. Setelah mencapai puncak, harganya perlahan turun. Sekarang sudah di bawah Rp1 juta per kilogram,” jelasnya.
Berbeda dengan minyak nilam yang masih memiliki daya serap pasar, minyak pala justru mengalami penurunan yang lebih tajam dan terasa lesu. Bustami mengungkapkan, harga minyak pala saat ini berada di kisaran Rp570.000 hingga Rp590.000 per kilogram.
“Itu pun rasanya dingin. Distributor seperti kurang bernafsu mengambil barang,” kata Bustami yang juga dikenal bergelar Insinyur tersebut.
Lesunya permintaan, menurutnya, menjadi salah satu faktor utama yang membuat harga minyak pala sulit bangkit. Kondisi ini berdampak langsung pada petani dan penyuling di wilayah Barat–Selatan Aceh yang selama ini menggantungkan penghasilan dari komoditas rempah tersebut.
Meski demikian, para pelaku usaha berharap harga kedua komoditas andalan Aceh ini dapat kembali membaik seiring pulihnya permintaan pasar, baik di tingkat nasional maupun internasional, dalam beberapa bulan ke depan.(**)
Ikuti acehindependent di Google News
Dapatkan berita acehindependent terbaru dan terpercaya langsung melalui Google News.
Buka Google News