Iran Klaim Serang Ratusan Tentara AS di Dubai, Situasi Timur Tengah Kian Memanas

Caption Foto: Kendaraan ambulans dan tim penyelamat dilaporkan bergerak di lokasi yang diklaim sebagai titik serangan Iran terhadap posisi militer Amerika Serikat di Dubai, di tengah meningkatnya eskalasi konflik Timur Tengah.(29/3/2026).
Widget Artikel Samping

Tujuh Muda-Mudi Pesta Miras dan Seks Diserahkan ke Kejari

Baca Selengkapnya

IRAN – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat tajam setelah Iran mengklaim telah melancarkan serangan balasan yang menargetkan ratusan personel militer Amerika Serikat (AS) di Dubai, Uni Emirat Arab. Klaim ini disampaikan oleh Markas Besar Khatam al-Anbiya, yang merupakan pusat komando pertahanan utama Iran.

Juru bicara markas tersebut, Ebrahim Zolfaghari, menyatakan bahwa lebih dari 500 personel militer AS menjadi korban dalam serangan yang dilakukan menggunakan rudal presisi dan drone. Serangan tersebut disebut sebagai bagian dari operasi balasan Iran terhadap aksi militer sebelumnya yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.

Bacaan Lainnya

Menurut pernyataan resmi yang dikutip dari Tasnim News Agency, Minggu, 29 Maret 2026, target serangan berada di dua lokasi berbeda di Dubai yang disebut sebagai tempat persembunyian pasukan AS. Lokasi pertama diklaim menampung lebih dari 400 personel, sementara lokasi kedua dihuni lebih dari 100 personel militer.

“Dalam beberapa jam terakhir, dua tempat persembunyian mereka telah teridentifikasi dan menjadi sasaran serangan rudal serta drone oleh Pasukan Udara dan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC),” ujar Zolfaghari. Ia juga menambahkan bahwa serangan tersebut mengakibatkan korban jiwa yang signifikan, serta puluhan lainnya mengalami luka-luka.

Pihak Iran mengklaim bahwa ambulans terlihat hilir mudik di lokasi kejadian untuk mengevakuasi korban tewas dan luka. Namun hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi dari pihak Amerika Serikat maupun Uni Emirat Arab terkait kebenaran klaim tersebut.

Situasi ini disebut sebagai bagian dari eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan, menyusul serangan besar-besaran yang sebelumnya dilancarkan oleh AS dan Israel terhadap Iran. Serangan itu diklaim Iran sebagai aksi tanpa provokasi yang menargetkan berbagai fasilitas militer dan sipil, serta menyebabkan banyak korban jiwa.

Iran juga menyebut bahwa serangan tersebut terjadi setelah terbunuhnya Pemimpin Revolusi Islam, Ali Khamenei, bersama sejumlah komandan militer senior dan warga sipil dalam insiden pada akhir Februari lalu. Peristiwa tersebut menjadi titik balik meningkatnya ketegangan secara drastis di kawasan.

Sebagai respons, Iran meluncurkan serangkaian operasi balasan yang menargetkan posisi militer Amerika Serikat dan Israel di berbagai titik strategis di Timur Tengah, termasuk pangkalan militer dan wilayah yang dianggap sebagai pusat operasi.

Pernyataan keras juga disampaikan oleh pihak Iran yang memperingatkan bahwa kehadiran militer Amerika di kawasan tersebut akan menghadapi konsekuensi serius. Bahkan, dalam retorika yang tajam, disebutkan bahwa wilayah tersebut bisa berubah menjadi “kuburan” bagi pasukan AS jika konflik terus berlanjut.

Meski demikian, para analis menilai bahwa klaim dari kedua belah pihak dalam konflik seperti ini sering kali perlu diverifikasi secara independen, mengingat tingginya intensitas perang informasi yang menyertai konflik militer modern.

Hingga kini, dunia internasional terus memantau perkembangan situasi dengan kekhawatiran akan potensi meluasnya konflik menjadi perang regional yang lebih besar.(**)

Widget Artikel Samping

Prediksi Paling Akurat Liga-Liga Eropa ada di sini! lengkap, tajam, dan bikin kamu selalu update

Baca Selengkapnya

Pos terkait