IRAN – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat tajam setelah Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengumumkan peluncuran gelombang ke-81 dalam operasi militer yang mereka sebut sebagai “Janji Sejati 4”. Dalam pernyataan resminya, Iran mengklaim telah mengerahkan berbagai jenis rudal balistik dan drone tempur untuk menyerang puluhan target strategis di wilayah Israel.
Mengutip laporan Press TV, IRGC menyebutkan bahwa rudal-rudal berpemandu presisi seperti Emad, Qiam, Khorramshahr-4, hingga Qadr digunakan dalam serangan tersebut. Target yang disasar disebut meliputi kota-kota penting seperti Haifa, fasilitas di sekitar Dimona, serta sejumlah wilayah di utara dan selatan Tel Aviv.(26/3/2026).
Dalam narasi yang disampaikan, IRGC mengklaim lebih dari 70 titik telah berhasil dihantam secara akurat. Bahkan, mereka menyebut dampak dari serangan tersebut cukup signifikan dengan jumlah korban di pihak Israel yang disebut telah melampaui 2.500 orang, baik tewas maupun luka-luka. Namun, klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen oleh pihak luar.
Tidak hanya memaparkan hasil serangan, IRGC juga melontarkan pernyataan keras bernada propaganda dan ancaman. Mereka menuding Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai pihak yang memicu konflik dan menyesatkan opini publik internasional.
Dalam pernyataan yang cukup provokatif, IRGC bahkan mengingatkan masyarakat Amerika agar tidak terpengaruh oleh narasi yang mereka sebut sebagai “distorsi realitas perang”. Mereka juga memperingatkan konsekuensi besar jika konflik terus bereskalasi, termasuk ancaman langsung terhadap kota-kota utama Israel.
“Iran akan meratakan Tel Aviv dan Haifa hingga ke tanah,” demikian salah satu kutipan pernyataan keras IRGC yang dirilis ke publik. Pernyataan tersebut mempertegas eskalasi retorika yang semakin tajam di tengah konflik yang kian meluas.
Lebih lanjut, IRGC mengungkapkan bahwa sejak awal konflik yang mereka klaim dipicu oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari 2026, Iran telah meluncurkan lebih dari 700 rudal dan sekitar 3.600 drone ke berbagai target yang dianggap sebagai musuh.
Di sisi lain, mereka juga mengklaim keberhasilan sistem pertahanan udara Iran dalam menghadapi serangan balasan. Menurut IRGC, lebih dari 200 target udara, termasuk rudal jelajah dan jet tempur canggih, berhasil dicegat dan dihancurkan.
Konflik ini disebut-sebut semakin kompleks setelah muncul laporan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, termasuk sejumlah pejabat militer tinggi, tewas dalam serangan sebelumnya. Jika benar, hal ini berpotensi menjadi titik balik besar dalam dinamika politik dan militer kawasan.
Hingga kini, situasi di Timur Tengah masih berada dalam ketidakpastian tinggi. Klaim dari masing-masing pihak terus bermunculan, sementara dunia internasional menaruh perhatian serius terhadap potensi eskalasi konflik yang lebih luas.(**)






