Prediksi Paling Akurat Liga - Liga Asia, Eropa ada di sini! lengkap, tajam, dan bikin kamu selalu update
Baca SelengkapnyaACEH INDEPENDENT, ACEH TENGGARA – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Aceh Tenggara, Julkifli, menjadi pembina upacara di SMA Negeri 1 Kutacane, Senin (24/8/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak seluruh siswa untuk menjadikan kedisiplinan sebagai bagian penting dalam membentuk karakter sekaligus mempersiapkan diri menjadi generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Di hadapan para peserta upacara, Julkifli menegaskan bahwa keberhasilan seorang siswa tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga oleh karakter, sikap, tanggung jawab, dan kedisiplinan yang dibangun sejak berada di bangku sekolah.
Menurutnya, disiplin merupakan salah satu fondasi utama dalam perjalanan seorang siswa untuk meraih cita-cita. Kebiasaan sederhana seperti menghargai waktu, datang tepat waktu ke sekolah, mengikuti proses pembelajaran dengan tertib, serta mematuhi tata tertib sekolah merupakan bagian dari pembentukan karakter yang akan sangat berguna bagi siswa di masa depan.
“Keberhasilan seorang murid ditentukan oleh beberapa hal, di antaranya disiplin waktu dan kepatuhan terhadap tata tertib sekolah. Karena itu, kedisiplinan harus dibangun sejak dini dan menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Julkifli dalam arahannya.
Ia menjelaskan, sekolah bukan hanya tempat untuk memperoleh pengetahuan dan mengejar prestasi akademik, tetapi juga menjadi ruang penting untuk membentuk kepribadian dan karakter peserta didik. Karena itu, setiap siswa diharapkan mampu memahami bahwa aturan sekolah bukanlah sesuatu yang membatasi, melainkan menjadi pedoman untuk membentuk sikap bertanggung jawab.
Julkifli juga menekankan pentingnya siswa memiliki kesadaran untuk menjalankan aturan meskipun tidak sedang diawasi oleh guru. Menurutnya, karakter disiplin yang sebenarnya akan terlihat ketika seseorang mampu melakukan kewajibannya atas dasar kesadaran diri, bukan semata-mata karena takut mendapatkan teguran atau sanksi.
“Seorang murid harus mempunyai tanggung jawab. Patuh terhadap tata tertib sekolah harus dilakukan meskipun tanpa harus selalu diawasi oleh guru,” katanya.
Ia menambahkan, setelah kedisiplinan mulai terbentuk, hal terpenting berikutnya adalah menjaga konsistensi. Kebiasaan baik tidak akan memberikan hasil maksimal apabila hanya dilakukan sesekali. Sebaliknya, kedisiplinan yang dilakukan secara terus-menerus akan tumbuh menjadi karakter dan pada akhirnya menjadi kebutuhan bagi setiap individu.
“Kalau hal tersebut sudah berjalan, maka harus dilakukan secara konsisten. Jadikan disiplin sebagai kebutuhan diri, bukan sebagai beban,” tegasnya.
Dalam arahannya, Julkifli juga mengaitkan pentingnya pembentukan karakter siswa dengan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Gerakan tersebut dinilai relevan untuk membangun kebiasaan positif di kalangan pelajar, sehingga mereka tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga mempunyai karakter kuat, mandiri, bertanggung jawab dan mampu menghadapi tantangan zaman.
Menurutnya, generasi muda saat ini merupakan calon pemimpin dan sumber daya manusia yang akan menentukan wajah Indonesia di masa mendatang. Karena itu, pembentukan karakter harus dimulai dari lingkungan terdekat, terutama keluarga dan sekolah.
Ia berharap para siswa SMA Negeri 1 Kutacane dapat menerapkan berbagai kebiasaan positif tersebut dalam kehidupan sehari-hari, baik ketika berada di sekolah maupun di tengah keluarga dan masyarakat.
Selain memberikan pembinaan terkait kedisiplinan dan karakter siswa, pada kesempatan itu Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tenggara juga melakukan sosialisasi Surat Instruksi Bupati Aceh Tenggara Nomor 411 Tahun 2026 tentang Pembacaan Surat-Surat Pendek Al-Qur’an dan Sholawat sebelum pelaksanaan belajar/mengajar pada satuan pendidikan dalam Kabupaten Aceh Tenggara.
Sosialisasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pembinaan karakter dan nilai-nilai keagamaan di lingkungan pendidikan. Pembiasaan membaca surat-surat pendek Al-Qur’an dan sholawat sebelum kegiatan belajar mengajar diharapkan dapat menciptakan suasana pendidikan yang lebih religius sekaligus membentuk sikap dan akhlak peserta didik.
Julkifli berharap seluruh satuan pendidikan di Aceh Tenggara dapat menjalankan instruksi tersebut dengan baik dan konsisten. Menurutnya, pendidikan karakter dan pendidikan keagamaan perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas akademik.
Dengan demikian, sekolah diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak, kedisiplinan, tanggung jawab dan kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya.
Kegiatan pembinaan melalui upacara tersebut sekaligus menjadi momentum bagi jajaran pendidikan untuk terus mengingatkan siswa mengenai pentingnya mempersiapkan masa depan sejak sekarang. Sebab, cita-cita besar menuju Indonesia Emas 2045 membutuhkan generasi muda yang memiliki kompetensi sekaligus karakter yang kuat.
Melalui pembiasaan disiplin, kepatuhan terhadap aturan, tanggung jawab, konsistensi serta penguatan nilai-nilai keagamaan, para siswa diharapkan mampu tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan.
Bagi Julkifli, pendidikan yang berhasil bukan hanya tentang seberapa tinggi nilai yang diperoleh siswa, tetapi juga tentang seberapa baik mereka mampu menerapkan ilmu, menjaga sikap, menghargai waktu, bertanggung jawab dan menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Karena itu, pesan yang disampaikan dalam upacara di SMA Negeri 1 Kutacane tersebut menjadi pengingat bahwa membangun generasi unggul harus dimulai dari kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten setiap hari.(**)
Ikuti acehindependent di Google News
Dapatkan berita acehindependent terbaru dan terpercaya langsung melalui Google News.
Buka Google News






