Prediksi Paling Akurat Liga - Liga Asia, Eropa ada di sini! lengkap, tajam, dan bikin kamu selalu update
Baca SelengkapnyaACEH INDEPENDENT, LHOKSEUMAWE — Keluarga almarhum Muhammad Rasya Fadhila mendesak Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati membuka informasi seluas-luasnya terkait kondisi dan peristiwa yang dialami putra mereka sebelum meninggal dunia.
Ayah Muhammad Rasya Fadhila, Andi (48), meminta pihak kampus memberikan akses informasi kepada media, kuasa hukum keluarga, penyidik, maupun pihak terkait lainnya. Menurutnya, keterbukaan informasi penting agar seluruh fakta mengenai kematian putranya dapat terungkap secara transparan.
“Kami mohon Poltekpel Malahayati membuka selebar-lebarnya ruang, baik untuk media, pengacara, tim penyidik maupun semua elemen untuk bisa mengakses informasi,” kata Andi kepada wartawan, Sabtu (3/10/2026).
Andi mengaku masih mempertanyakan sejumlah hal, terutama terkait penanganan medis terhadap putranya sebelum meninggal dunia. Ia menyebut pihak keluarga terlambat mendapatkan informasi mengenai kondisi Muhammad Rasya hingga akhirnya diberi tahu ketika kondisi anaknya disebut sudah sangat kritis.
“Kami masih mempertanyakan, kenapa keluarga terlambat diberi tahu? Kenapa ketika sudah sekarat baru keluarga diberi tahu? Apakah memang seperti itu prosedurnya sekarang di perkuliahan,” ujarnya.
Menurut Andi, pertanyaan tersebut perlu mendapat penjelasan secara terbuka dari pihak kampus sehingga keluarga mengetahui secara jelas rangkaian kejadian yang dialami Rasya sebelum mengembuskan napas terakhir.
Selain persoalan penanganan medis, keluarga juga meminta aparat penegak hukum mengusut dugaan adanya kekerasan yang mungkin terjadi di lingkungan kampus. Andi menegaskan, dugaan tersebut harus diperiksa secara menyeluruh dan tidak menutup kemungkinan melibatkan pihak mana pun.
Ia memahami bahwa pendidikan di lingkungan pelayaran memiliki sistem kedisiplinan dan pembentukan karakter yang cukup ketat. Namun, menurutnya, kedisiplinan tidak boleh dilakukan dengan cara-cara yang mengarah pada kekerasan fisik hingga membahayakan keselamatan peserta didik.
“Anak saya kami antarkan ke sana untuk pendidikan, bukan untuk dipukul. Kalau pembentukan karakter dengan perlakuan yang masih dapat ditoleransi, kami sebagai orang tua masih bisa menerima. Tapi kalau sudah pemukulan fisik, kami tidak bisa menerima karena ini menyangkut nyawa,” tegas Andi.
Kecurigaan keluarga semakin menguat setelah melihat kondisi jenazah Muhammad Rasya. Andi menyebut terdapat lebam pada tubuh putranya serta bagian yang menurut keluarga tampak seperti bekas jeratan atau ikatan tali.
Kondisi tersebut membuat keluarga mempertanyakan penyebab sebenarnya dari kematian Rasya. Terlebih, menurut Andi, pihak keluarga sebelumnya mendapat informasi bahwa Rasya mengalami demam.
“Saya seumur hidup belum pernah melihat kondisi jenazah seperti ini. Awalnya disebut meninggal karena demam, tetapi ketika kami melihat kondisi tubuhnya, ada lebam dan seperti bekas jeratan atau ikatan tali,” ungkapnya.
Keluarga berharap seluruh rangkaian peristiwa yang terjadi sebelum Muhammad Rasya Fadhila meninggal dapat diungkap secara terang. Mereka meminta proses penyelidikan dilakukan secara profesional, transparan, dan berdasarkan bukti sehingga tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.
Keluarga juga menegaskan tidak ingin menuduh pihak tertentu sebelum adanya hasil pemeriksaan dan penyelidikan resmi. Namun, mereka meminta seluruh dugaan, termasuk kemungkinan adanya kekerasan, diperiksa secara serius demi mendapatkan kepastian mengenai penyebab kematian Muhammad Rasya Fadhila.(**)
Ikuti acehindependent di Google News
Dapatkan berita acehindependent terbaru dan terpercaya langsung melalui Google News.
Buka Google News






