Mahasiswa Aceh Kecam Kekerasan Aparat, Soroti Pola Brutalitas yang Terus Berulang

Mahasiswa Aceh, Misbah Hidayat, menyampaikan kecaman terhadap dugaan kekerasan aparat serta mendesak penegakan hukum yang transparan dan keadilan bagi korban.
Widget Artikel Samping

Tujuh Muda-Mudi Pesta Miras dan Seks Diserahkan ke Kejari

Baca Selengkapnya

Banda Aceh – Seorang mahasiswa asal Aceh, Misbah Hidayat, melontarkan kecaman keras terhadap sejumlah tindakan kekerasan yang diduga dilakukan aparat negara dalam beberapa waktu terakhir. Ia menilai, insiden penyiraman terhadap Andrie Yunus serta peristiwa tertabraknya Ibu Ani Maryati bukanlah kejadian yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari pola kekerasan yang terus berulang dan tidak boleh dinormalisasi.

Dalam keterangannya pada Senin (6/4), Misbah menegaskan bahwa bayang-bayang kekerasan oleh aparat masih terus menghantui masyarakat. Menurutnya, praktik-praktik represif yang seharusnya sudah ditinggalkan justru masih terjadi, bahkan cenderung semakin mengkhawatirkan.

Bacaan Lainnya

Ia juga menyinggung peristiwa sebelumnya, termasuk dugaan penghilangan aktivis serta kasus penabrakan terhadap pengemudi ojek online oleh aparat Brimob saat aksi pada 28 Agustus 2025. Peristiwa tersebut, kata dia, telah meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat dan memperkuat ketidakpercayaan publik terhadap aparat.

“Hari ini kita terus melihat aparat negara melakukan kekerasan yang brutal, seolah merasa superior. Padahal kenyataannya, rakyatlah yang menjadi korban. Aparat yang seharusnya melindungi justru melukai warga sipil,” ujar Misbah dengan nada tegas.

Lebih jauh, Misbah mengingatkan bahwa masyarakat Aceh memiliki sejarah panjang terkait konflik dan kekerasan aparat. Berbagai kasus di masa lalu, mulai dari intimidasi saat pengamanan aksi hingga tindakan kekerasan fisik seperti penembakan dan pemukulan, masih menyisakan trauma kolektif yang belum sepenuhnya pulih.

Ia menilai, setiap tindakan kekerasan yang terjadi saat ini seakan menghidupkan kembali ingatan pahit masa konflik, di mana pelanggaran hak asasi manusia menjadi bagian dari realitas yang harus dihadapi masyarakat Aceh.

“Setiap tindakan brutal hari ini menghidupkan kembali trauma kolektif masa konflik. Luka lama itu belum sembuh, tapi justru kembali dibuka oleh kejadian-kejadian serupa,” katanya.

Misbah pun mendesak adanya pertanggungjawaban yang nyata dari pihak terkait. Ia meminta agar setiap kasus kekerasan diproses secara transparan melalui peradilan umum, bukan mekanisme internal semata. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya pemulihan bagi para korban dan keluarga mereka, baik secara fisik maupun psikologis.

Menurutnya, jika tindakan kekerasan terus dibiarkan tanpa penegakan hukum yang jelas, maka yang akan tumbuh di tengah masyarakat bukanlah rasa aman, melainkan ketakutan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

“Jangan biarkan kekerasan menjadi kebiasaan yang dimaklumi. Jika ini terus terjadi, masyarakat akan hidup dalam bayang-bayang ketakutan, bukan rasa aman,” tutupnya.(**)

Widget Artikel Samping

Prediksi Paling Akurat Liga-Liga Eropa ada di sini! lengkap, tajam, dan bikin kamu selalu update

Baca Selengkapnya

Pos terkait