Diskusi bertajuk “20 Years of Helsinki MoU: Successes and Challenges” ini nggak main-main. Hadir Wali Nanggroe Aceh, perwakilan Crisis Management Initiative (CMI), Ketua Badan Reintegrasi Aceh, para duta besar, bupati/wali kota, plus akademisi dan aktivis perdamaian.
Widget Artikel Samping
Dalam sambutannya, Mualem bilang dua dekade damai Aceh tuh bukti kalau penyelesaian konflik bisa berjalan bermartabat. Dia ngajak semua pihak buat terus jaga warisan damai ini.
“Hari ini kita kumpul dalam suasana persaudaraan. Ini proses yang harus terus dijaga. Mari kita teguhin tekad buat jaga warisan damai ini, bukan cuma dua dekade, tapi selamanya,” katanya.
Ketua Badan Reintegrasi Aceh, Jamaluddin, S.H., M.Kn., bilang diskusi ini penting buat ngulik arti 20 tahun damai Aceh dan bikin rekomendasi buat Pemerintah Pusat. Dia tekankan perdamaian harus menyeluruh dan berkelanjutan.
“Hasil diskusi publik ini bakal jadi referensi pemerintah buat bikin kebijakan perdamaian Aceh yang komplit dan awet,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan CMI, Minna Kukkonen Kalender, bilang perdamaian Aceh adalah hasil tekad semua pihak, nggak cuma elit politik, tapi juga perempuan dan anak muda Aceh. CMI siap terus dukung perdamaian berkelanjutan di Aceh.
“Kami siap jadi teman masyarakat Aceh, dukung perdamaian yang awet. Anak muda Aceh nggak cuma inget masa lalu, tapi juga semangat bangun masa depan Aceh yang lebih keren,” tutupnya.
Ikuti acehindependent di Google News
Dapatkan berita acehindependent terbaru dan terpercaya langsung melalui Google News.
Buka Google News