BANDA ACEH – Komitmen dalam memperjuangkan kesejahteraan masyarakat kembali ditunjukkan oleh Wakil Ketua DPRK Banda Aceh, Musriadi Aswad. Melalui program pokok-pokok pikiran (pokir) tahun anggaran 2026, ia berhasil merealisasikan pembangunan rumah layak huni bagi warga kurang mampu di sejumlah wilayah di Kota Banda Aceh, Sabtu, 28 Maret 2026.
Program ini menjadi salah satu bukti nyata peran legislatif dalam menjembatani aspirasi masyarakat dengan kebijakan pemerintah daerah. Rumah yang dibangun tidak hanya sekadar tempat berteduh, tetapi juga diharapkan mampu memberikan rasa aman, nyaman, serta meningkatkan kualitas hidup penerimanya.
Pada tahun ini, pembangunan difokuskan di dua kecamatan, yakni Ulee Kareng dan Syiah Kuala. Sejumlah gampong yang menjadi sasaran antara lain Pango Deah, Pango Raya, Ilie, Ceurih, Lamteh, hingga Alue Naga. Selain pembangunan unit baru, program ini juga mencakup rehabilitasi rumah yang mengalami kerusakan berat, khususnya di kawasan Pango Deah.
Menurut Musriadi, seluruh penerima manfaat telah melalui proses seleksi yang ketat. Data mereka telah diverifikasi dan disesuaikan dengan sistem data terpadu, sehingga bantuan benar-benar tepat sasaran. Ia menegaskan bahwa program ini lahir dari aspirasi masyarakat yang diserap saat kegiatan reses tahun sebelumnya.
“Rumah bukan sekadar bangunan fisik. Di dalamnya ada kehidupan, harapan, dan masa depan keluarga. Karena itu, kami ingin memastikan setiap warga memiliki tempat tinggal yang layak, sehat, dan bermartabat,” ujar Musriadi.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa usulan tersebut diperjuangkan melalui perencanaan pembangunan daerah dan dikawal hingga masuk dalam program prioritas pemerintah kota. Sinergi antara DPRK dan Pemerintah Kota Banda Aceh, khususnya melalui dinas terkait, menjadi kunci terealisasinya program ini.
Kehadiran program ini pun disambut haru oleh para penerima manfaat. Syahrial, seorang juru parkir yang sehari-hari bekerja di kawasan Jembatan Pango, mengaku tidak menyangka impian memiliki rumah layak akhirnya terwujud.
“Ini seperti mimpi bagi kami. Selama ini kami hanya berharap, tapi sekarang benar-benar jadi kenyataan. Terima kasih atas perhatian dan bantuan ini,” ujarnya penuh haru.
Hal serupa disampaikan Cut Asna, warga Gampong Ilie yang bekerja sebagai buruh setrika. Ia menilai bantuan tersebut sangat berarti bagi keluarganya yang selama ini tinggal dalam kondisi serba terbatas.
“Bantuan ini bukan hanya memperbaiki rumah kami, tapi juga memberi semangat baru untuk menjalani hidup,” katanya.
Program rumah layak huni ini diharapkan tidak berhenti di tahun 2026 saja. Masyarakat berharap program serupa dapat terus dilanjutkan dan diperluas jangkauannya, sehingga semakin banyak warga kurang mampu yang merasakan manfaatnya.
Langkah yang dilakukan Musriadi Aswad ini menjadi gambaran bagaimana aspirasi masyarakat dapat diwujudkan menjadi program konkret yang berdampak langsung. Di tengah berbagai tantangan ekonomi, kehadiran hunian yang layak menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun kehidupan yang lebih sejahtera.(**)






