Pulang Berobat dari Malaysia, Wali Nanggroe Singgah di Aceh Timur

Wali Nanggroe Aceh, Paduka Yang Mulia (PYM) Malik Mahmud Al Haytar, menyempatkan diri singgah di Basecamp Aceh Foundation, Idi Cut, Kecamatan Darul Aman, Aceh Timur, Senin (28/9/2026), dalam perjalanan pulang setelah menjalani pengobatan di Malaysia. Foto/Istimewa
Widget Artikel Samping

Prediksi Paling Akurat Liga - Liga Asia, Eropa ada di sini! lengkap, tajam, dan bikin kamu selalu update

Baca Selengkapnya

ACEH INDEPENDENT,  ACEH TIMUR – Wali Nanggroe Aceh, Paduka Yang Mulia (PYM) Malik Mahmud Al Haytar, menyempatkan diri singgah di Basecamp Aceh Foundation, Idi Cut, Kecamatan Darul Aman, Aceh Timur, Senin (28/9/2026), dalam perjalanan pulang setelah menjalani pengobatan di Malaysia.

Kehadiran Wali Nanggroe di tengah masyarakat Aceh Timur tersebut menjadi momentum silaturahmi dengan jajaran Komite Peralihan Aceh (KPA), mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), eks Tripoli, sejumlah Panglima Sagoe, mantan Tentara Negara Aceh (TNA), tokoh masyarakat, serta masyarakat setempat.

Bacaan Lainnya
Widget Artikel Samping

Suasana pertemuan berlangsung penuh keakraban. Wali Nanggroe disambut Staf Khusus Gubernur Aceh, Faisal Riza Hasan, bersama jajaran KPA dan sejumlah tokoh masyarakat.

Penyambutan juga diwarnai prosesi adat peusijuek atau tepung tawar, yang dipimpin Tgk Muhammad Salihin dan Tgk Zikrul Falaq.

Prosesi adat tersebut menyentuh perasaan Wali Nanggroe. Malik Mahmud mengatakan, peusijuek mengingatkannya pada tradisi masyarakat Aceh pada masa lalu, khususnya ketika pasukan tempur kembali dari medan peperangan.

Menurutnya, tradisi dan adat Aceh tersebut memiliki nilai sejarah serta makna kebersamaan yang penting untuk terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Oleh karenanya, lestarikan budaya dan adat istiadat ini hingga menjadi warisan untuk anak cucu kita,” ujar PYM Malik Mahmud Al Haytar.

Dalam kesempatan itu, Wali Nanggroe juga menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga kekompakan dan kebersamaan dalam membangun Aceh.

Ia menegaskan bahwa hubungan silaturahmi, persaudaraan dan kebersamaan yang telah terbangun di tengah masyarakat Aceh harus terus dipelihara.

Malik Mahmud mengaku sangat merindukan sekaligus menyayangi seluruh mantan kombatan GAM dan masyarakat Aceh. Karena itu, ia berharap semangat kebersamaan yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat Aceh tidak luntur dan terus dipupuk.

“Yang paling penting adalah kekompakan dan kebersamaan. Kita harus terus menjaga persaudaraan dan bersama-sama membangun Aceh,” pesannya.

Tetap Bertemu Masyarakat Meski Masih Berobat

Pertemuan tersebut berlangsung ketika Wali Nanggroe masih menjalani pengobatan jalan. Ia mengungkapkan kondisi kesehatannya mengalami penurunan dalam beberapa pekan terakhir.

Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya berhenti melakukan silaturahmi dan menemui masyarakat di berbagai wilayah Aceh.

Malik Mahmud juga menyampaikan bahwa kondisi kesehatan Gubernur Aceh, H. Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem, juga mengalami penurunan.

“Saat ini saya masih berobat jalan, tapi demi masyarakat dan rakyat, kami tetap mengunjungi dan melihat masyarakat di seluruh Aceh,” ujarnya.

Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan keinginannya untuk tetap berada dekat dengan masyarakat, meskipun dirinya masih harus menjalani proses pemulihan kesehatan.

Bagi Wali Nanggroe, bertemu langsung dengan masyarakat bukan hanya menjadi bagian dari agenda silaturahmi, tetapi juga kesempatan untuk mendengar dan melihat secara langsung kondisi yang dihadapi masyarakat di berbagai daerah.

Singgung Kondisi Ekonomi Pascabencana

Dalam pertemuan itu, Wali Nanggroe turut menyinggung kondisi masyarakat Aceh setelah dilanda bencana banjir.

Menurutnya, dampak bencana tidak hanya berkaitan dengan kerusakan fisik, tetapi juga berpengaruh terhadap aktivitas dan perekonomian masyarakat.

Ia menilai kondisi ekonomi masyarakat Aceh hingga kini masih belum sepenuhnya stabil setelah menghadapi berbagai dampak bencana.

Meski demikian, Malik Mahmud menyampaikan keyakinannya bahwa masyarakat Aceh memiliki kemampuan dan semangat untuk bangkit serta melewati kondisi tersebut.

Semangat kebersamaan, menurutnya, menjadi salah satu modal penting dalam menghadapi berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Silaturahmi di Basecamp Aceh Foundation tersebut pun menjadi momentum untuk kembali memperkuat hubungan antara para mantan kombatan, tokoh masyarakat dan masyarakat Aceh Timur.

Di tengah kondisi kesehatan yang masih dalam tahap pengobatan, kehadiran Wali Nanggroe di Idi Cut juga memperlihatkan kuatnya hubungan emosional dengan masyarakat Aceh, khususnya mereka yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan sejarah dan dinamika Aceh.

Pesan untuk menjaga adat, persaudaraan, kekompakan dan kebersamaan menjadi salah satu poin utama yang disampaikan Wali Nanggroe dalam pertemuan tersebut.(**)

Ikuti acehindependent di Google News

Dapatkan berita acehindependent terbaru dan terpercaya langsung melalui Google News.

Buka Google News

Pos terkait