Washington DC – Pernyataan mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu perhatian dunia internasional setelah ia secara terbuka menyebut kemungkinan penguasaan aset energi Iran di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Dalam wawancara eksklusif bersama Financial Times, Trump menyampaikan pandangannya yang dinilai kontroversial terkait strategi Amerika Serikat terhadap Iran, (29/3/2026).
Dalam pernyataannya, Trump secara blak-blakan menyebut bahwa salah satu opsi yang menurutnya “menarik” adalah mengambil alih sumber daya minyak Iran. Ia menilai, langkah tersebut dapat menjadi bagian dari strategi tekanan terhadap Teheran, meskipun ia mengakui bahwa gagasan tersebut tidak sepenuhnya mendapat dukungan dari semua pihak di dalam negeri Amerika Serikat.
“To be honest with you, my favourite thing is to take the oil in Iran,” ujar Trump, menegaskan pendekatan yang selama ini dikenal agresif dalam kebijakan luar negerinya.
Tak hanya itu, Trump juga menyinggung kemungkinan tindakan terhadap Pulau Kharg, sebuah pulau kecil di Teluk Persia yang memiliki peran sangat vital dalam sistem ekspor minyak Iran. Pulau ini diketahui menangani sebagian besar distribusi minyak mentah Iran ke pasar global, menjadikannya salah satu titik paling strategis dalam peta energi dunia.
“Mungkin kita akan merebut Pulau Kharg, mungkin juga tidak. Kita punya banyak pilihan,” kata Trump, memberi sinyal bahwa opsi militer tetap terbuka. Ia bahkan menambahkan bahwa jika langkah tersebut diambil, maka kehadiran militer Amerika Serikat di wilayah tersebut kemungkinan harus berlangsung dalam jangka waktu tertentu.
Pernyataan ini sontak menimbulkan kekhawatiran baru di kalangan pengamat internasional. Mengingat posisi strategis Pulau Kharg, setiap upaya penguasaan wilayah tersebut berpotensi memicu eskalasi konflik yang lebih luas, tidak hanya antara Amerika Serikat dan Iran, tetapi juga melibatkan negara-negara lain di kawasan Timur Tengah.
Lebih lanjut, ketika ditanya mengenai kesiapan pertahanan Iran di sekitar Pulau Kharg, Trump memberikan pernyataan yang cukup mengejutkan. Ia menyebut bahwa Iran dinilainya tidak memiliki pertahanan yang memadai untuk melindungi wilayah tersebut.
“Saya rasa mereka tidak memiliki pertahanan apa pun. Kita bisa merebutnya dengan sangat mudah,” ujarnya.
Pernyataan ini dinilai oleh sejumlah analis sebagai bentuk retorika yang berpotensi memperkeruh situasi. Pasalnya, Iran selama ini dikenal memiliki kemampuan militer yang cukup signifikan, khususnya dalam pengamanan wilayah strategis di Teluk Persia.
Secara geopolitik, wacana penguasaan Pulau Kharg memiliki implikasi yang sangat luas. Selain berpotensi memicu konflik militer terbuka, langkah tersebut juga dapat mengguncang stabilitas pasar energi global. Gangguan terhadap ekspor minyak Iran berisiko menyebabkan lonjakan harga minyak dunia, yang pada akhirnya berdampak pada ekonomi global, termasuk negara-negara berkembang yang sangat bergantung pada impor energi.
Di sisi lain, pernyataan Trump ini juga kembali mengingatkan dunia pada dinamika hubungan tegang antara Amerika Serikat dan Iran yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Rivalitas kedua negara sering kali menjadi salah satu faktor utama ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah.
Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Iran terkait pernyataan tersebut. Namun, berbagai pihak mendesak agar semua negara menahan diri dan mengedepankan jalur diplomasi guna menghindari konflik yang lebih besar.
Situasi ini pun menjadi perhatian serius komunitas internasional, mengingat setiap eskalasi di kawasan Timur Tengah hampir selalu berdampak luas terhadap stabilitas global, baik dari sisi keamanan maupun ekonomi.(**)






