Menanggapi capaian satu tahun tersebut, Wakil Ketua Komisi III DPRK Banda Aceh, Tuanku Muhammad, menilai bahwa Banda Aceh sebagai Kota Kolaborasi semakin dikenal luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.
“Dalam satu tahun pemerintahan Illiza-Afdhal, Kota Banda Aceh semakin ‘Dithe le Donya’ (dikenal oleh dunia). Terlihat dari kiprah, penghargaan, serta banyaknya tokoh yang datang mengunjungi dan berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Banda Aceh. Ini adalah kemajuan yang harus diapresiasi,” ujar Tuanku.
Sinergi Pemerintahan dan Pembangunan
Menurutnya, dalam setahun terakhir, roda pemerintahan berjalan dengan sinergi dan kondusif, terutama antara unsur eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Sejumlah program pembangunan juga dinilai mulai terlihat tertata dengan baik, meskipun kondisi keuangan daerah masih tergolong terbatas.
Ia menambahkan bahwa komitmen dalam penegakan syariat Islam juga semakin terasa di masa kepemimpinan Illiza–Afdhal, baik melalui razia maupun pembinaan kepada masyarakat. Namun demikian, masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah yang perlu dituntaskan dalam memperkuat implementasi syariat Islam di Kota Banda Aceh.
Evaluasi dan Harapan Tahun Kedua
Tuanku Muhammad menyampaikan bahwa satu tahun kepemimpinan tentu belum cukup untuk melakukan evaluasi menyeluruh. Namun, indikator awal dapat dilihat dari pelaksanaan visi dan misi yang tertuang dalam RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah).
“Patokan keberhasilan tentu berdasarkan capaian yang telah dan sedang dijalankan sesuai RPJMD,” katanya.
Ia pun berharap pada tahun kedua kepemimpinan ini, pasangan Illiza–Afdhal dapat semakin tancap gas dalam merealisasikan program-program pembangunan yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat, khususnya dalam menekan angka pengangguran yang masih relatif tinggi di Kota Banda Aceh.
Dengan semangat kolaborasi dan pembangunan berkelanjutan, Banda Aceh diharapkan terus melangkah maju dan semakin “Dithe le Donya.”






