Prediksi Paling Akurat Liga - Liga Asia, Eropa ada di sini! lengkap, tajam, dan bikin kamu selalu update
Baca SelengkapnyaACEH INDEPENDENT, Belajar kewirausahaan tidak selalu harus dimulai dari ruang kelas. Di tangan orang-orang kreatif, sampah yang kerap dianggap tidak bernilai justru dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Semangat inilah yang dibawa sekitar 70 mahasiswa Himpunan Mahasiswa Teknik Pertambangan (HMTP) Universitas Syiah Kuala (USK) saat mengikuti pertemuan ketiga Kelas Kewirausahaan Divisi Dana Usaha di KamiKita Community Center, Gampong Mulia, Banda Aceh, Sabtu (24/10/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang belajar langsung bagi mahasiswa untuk mengenal praktik 3R (Reduce, Reuse, Recycle) sekaligus melihat peluang usaha yang tumbuh dari pengelolaan sampah. Kehadiran mahasiswa disambut hangat oleh Pak Indra bersama tim KamiKita Community Center, yang memperkenalkan berbagai proses kreatif mengubah sampah menjadi produk bernilai guna.
Antusiasme mahasiswa terlihat ketika menyaksikan secara langsung proses pencacahan sampah plastik yang kemudian diolah menjadi papan palet dan elemen dekoratif. Mereka juga diperkenalkan pada proses pencacahan botol kaca untuk menghasilkan aneka produk pasir kaca dekoratif yang memiliki potensi sebagai bahan kerajinan dan ornamen.
Pengalaman tersebut membuka perspektif baru bahwa persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan kebersihan lingkungan, tetapi juga menyimpan peluang ekonomi apabila dikelola melalui inovasi, kreativitas, dan pendekatan kewirausahaan yang tepat.
Ketua Panitia, Dedek Emilianda, mengatakan bahwa kegiatan ini dirancang agar mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih dekat dengan praktik nyata.
“Melalui kunjungan ini, kami ingin teman-teman mahasiswa melihat bahwa kewirausahaan tidak selalu harus dimulai dengan modal besar atau bahan baku baru. Sampah pun bisa menjadi peluang usaha jika kita mampu melihat potensi, berinovasi, dan mengolahnya dengan baik. Harapannya, pengalaman ini dapat menginspirasi mahasiswa untuk mengembangkan ide usaha yang kreatif sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan,” ujar Dedek.
Dosen Pembina HMTP USK, Ir. Febi Mutia, S.T., M.Sc., menilai bahwa pembelajaran kewirausahaan berbasis praktik seperti ini penting untuk membangun pola pikir mahasiswa yang adaptif dan peduli terhadap keberlanjutan.
“Mahasiswa Teknik Pertambangan perlu memahami bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari nilai ekonomi, tetapi juga dari kemampuan kita mengelola sumber daya dan mengurangi dampak terhadap lingkungan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa belajar bahwa prinsip ekonomi sirkular dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan bahkan dikembangkan menjadi peluang bisnis yang berkelanjutan,” ungkapnya.
Kunjungan ini menjadi pengingat bahwa perubahan dapat dimulai dari cara sederhana dalam memandang sampah. Dari material yang sering terabaikan, lahir peluang untuk berkreasi, membangun usaha, dan menjaga lingkungan.
Dengan semangat “Sampah Yes, Nyampah No”, Kelas Kewirausahaan Divisi Dana Usaha HMTP USK diharapkan mampu menumbuhkan generasi muda yang tidak hanya berani berwirausaha, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan masa depan yang lebih berkelanjutan.
Ikuti acehindependent di Google News
Dapatkan berita acehindependent terbaru dan terpercaya langsung melalui Google News.
Buka Google News






