BI Aceh Perkuat SDM Unggul Lewat Program Pendidikan Kebanksentralan 2026

Widget Artikel Samping

Tujuh Muda-Mudi Pesta Miras dan Seks Diserahkan ke Kejari

Baca Selengkapnya

Banda Aceh – Bank Indonesia melalui Kantor Perwakilan Provinsi Aceh resmi menggelar Kick Off Program Pendidikan Kebanksentralan (PPK) Tahun 2026 sebagai langkah strategis memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) unggul di daerah. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula FMIPA Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Selasa (15/4), dan menjadi momentum penting dalam mempererat sinergi antara dunia akademik dan otoritas kebijakan moneter.

Program ini ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Bank Indonesia dengan enam perguruan tinggi di Aceh, yakni Universitas Syiah Kuala, UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Universitas Teuku Umar, Universitas Muhammadiyah Aceh, Universitas Abulyatama, dan Universitas Serambi Mekkah. Kolaborasi ini menjadi fondasi penting dalam pengembangan pendidikan berbasis kebanksentralan yang lebih aplikatif dan relevan dengan kebutuhan zaman.

Bacaan Lainnya

Kegiatan Kick Off turut dirangkaikan dengan kuliah umum kebanksentralan yang diikuti sekitar 250 dosen dan mahasiswa dari berbagai kampus mitra. Antusiasme peserta mencerminkan tingginya minat terhadap isu-isu ekonomi makro, kebijakan moneter, serta peran bank sentral dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional dan daerah.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Agus Chusaini, dalam keynote speech-nya menegaskan bahwa Program Pendidikan Kebanksentralan merupakan inisiatif strategis yang mengintegrasikan tiga pilar utama, yakni pembelajaran, penelitian, dan pemberdayaan. Ketiga pilar tersebut selaras dengan prinsip Tri Dharma Perguruan Tinggi, sehingga mampu mendorong lahirnya SDM unggul yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga adaptif terhadap dinamika ekonomi global.

Menurutnya, program ini juga menjadi penguatan dari program beasiswa Bank Indonesia yang selama ini telah berjalan. Tidak hanya meningkatkan literasi kebanksentralan, PPK juga dirancang untuk memperluas kapasitas riset dan mendorong kolaborasi nyata antara akademisi dan praktisi dalam merumuskan kebijakan yang lebih efektif dan berdampak luas.

“Melalui program ini, kami ingin membangun ekosistem kolaboratif yang kuat antara dunia kampus dan Bank Indonesia, sehingga kebijakan yang dihasilkan benar-benar berbasis riset dan mampu menjawab tantangan ekonomi ke depan,” ujar Agus.

Ke depan, berbagai kegiatan akan dilaksanakan dalam kerangka PPK, mulai dari kuliah umum berkelanjutan, riset kolaboratif antar institusi, penguatan kurikulum berbasis kebanksentralan, hingga program pemberdayaan mahasiswa. Langkah ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam mendukung pemulihan ekonomi Aceh sekaligus mempersiapkan generasi muda menuju visi Indonesia Emas 2045.

Dalam paparannya, Agus juga mengungkapkan bahwa perekonomian Aceh pada tahun 2026 diprakirakan akan berangsur pulih. Pemulihan ini didorong oleh percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah terdampak bencana, serta implementasi berbagai program prioritas pemerintah di berbagai sektor strategis.

Ia menekankan bahwa keberhasilan pemulihan ekonomi tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan sinergi kuat antara pemerintah, dunia usaha, dan akademisi. Dalam konteks ini, perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus mitra dalam menghasilkan kebijakan berbasis riset yang berkualitas.

Selain itu, Bank Indonesia juga terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dengan menerapkan strategi 4K, yaitu ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Strategi ini dinilai krusial dalam menjaga stabilitas harga serta mengendalikan inflasi di daerah.

Upaya pemulihan ekonomi turut diperkuat melalui pengembangan sektor-sektor unggulan seperti pertanian, perdagangan, transportasi, dan industri pengolahan. Bank Indonesia juga mendorong pengembangan klaster pangan berbasis end-to-end guna meningkatkan produktivitas, menjaga stabilitas harga, serta memperkuat ketahanan pangan di Aceh.

Melalui berbagai langkah strategis tersebut, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus hadir sebagai mitra pembangunan daerah, tidak hanya dalam menjaga stabilitas ekonomi, tetapi juga dalam mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan di Provinsi Aceh.(**)

Widget Artikel Samping

Prediksi Paling Akurat Liga-Liga Eropa ada di sini! lengkap, tajam, dan bikin kamu selalu update

Baca Selengkapnya

Pos terkait