“Sejak jatuhnya Malaka ke Portugis 1511 M, seluruh wilayah Asia Tenggara terancam. Sultan Ali Mughayat Syah yang bangkit pertama kali menyatakan perlawanan dan menyatukan seluruh wilayah Aceh,” kata Cut Putri. Menurut Cut Putri, Sultan Ali Mughayat Syah naik takhta pada 913 Hijriah atau sekitar 1507 Masehi. Tidak lama kemudian, Portugis menyerang Malaka dan menguasai pusat perdagangan penting tersebut. Kondisi itu menjadi ancaman serius bagi kerajaan-kerajaan di kawasan Nusantara. Kesultanan Aceh kemudian tampil sebagai salah satu kekuatan yang melakukan perlawanan terhadap Portugis.
Widget Artikel Samping
Cut Putri menuturkan, Sultan Ali Mughayat Syah tercatat memimpin perlawanan terhadap sejumlah serangan Portugis ke wilayah Aceh. Pada 1519, pasukan Portugis yang dipimpin Gaspar de Costa disebut menyerang Aceh. Pasukan Sultan Ali Mughayat Syah berhasil mematahkan serangan tersebut di kawasan Kuala Aceh. Dalam peristiwa tersebut, Gaspar de Costa disebut ditangkap dan kemudian dibebaskan setelah Portugis memberikan tebusan kepada Aceh. Portugis kembali menyerang Aceh pada 1521 dengan kekuatan yang lebih besar. Pasukan Portugis dipimpin Jorge de Brito. Sultan Ali Mughayat Syah memimpin langsung perlawanan menghadapi Portugis di perairan Aceh. Dalam pertempuran tersebut, Jorge de Brito tewas dan pasukan Portugis mengalami kekalahan. Pasukan Portugis kemudian mendirikan basis pertahanan di Pedir. Sultan Ali Mughayat Syah bersama pemimpin Pedir selanjutnya melakukan serangan terhadap basis tersebut hingga Portugis kembali mengalami kekalahan dan mundur ke Samudera Pasai. Di Samudera Pasai, Portugis membangun benteng pertahanan yang kuat. Untuk menghadapi ancaman tersebut, Laksamana Ibrahim, adik Sultan Ali Mughayat Syah, menghimpun kekuatan dari berbagai wilayah Aceh. Pasukan Aceh, Samudera Pasai dan Pedir kemudian bergabung untuk menghadapi Portugis di benteng Samudera Pasai. Pada 1524, pertempuran besar terjadi. Pasukan Aceh berhasil merebut dan menghancurkan benteng Portugis tersebut. Namun, Laksamana Ibrahim gugur dalam pertempuran setelah berhasil mencapai tujuan merebut benteng Portugis. Dalam pertempuran itu, Panglima Portugis Ruy de Brito juga disebut tewas. Kemenangan tersebut memberikan tambahan kekuatan bagi Kesultanan Aceh, termasuk dari hasil rampasan perang, untuk menghadapi Portugis di Malaka.
Upaya Portugis untuk melemahkan Aceh tidak berhenti. Pada 1527, Panglima Portugis Franseco de Mello disebut kembali mencoba menyerang Aceh. Namun, pasukan Sultan Ali Mughayat Syah berhasil mengusir dan mengalahkan pasukan Portugis. Setahun kemudian, pada 1528, Gubernur Portugis Simon de Souza kembali mencoba menyerang Aceh. Sultan Ali Mughayat Syah kemudian menghadapi serangan tersebut dengan kekuatan besar. Dalam pertempuran itu, pihak Portugis kembali mengalami kekalahan dan Simon de Souza disebut tewas. Sejumlah perwira tinggi Portugis juga disebut berhasil ditangkap. Rangkaian kemenangan tersebut memperkuat posisi Kesultanan Aceh sebagai salah satu kekuatan penting yang menentang ekspansi Portugis di kawasan Asia Tenggara. Menurut Cut Putri, kemenangan Aceh juga memberikan harapan bagi kerajaan-kerajaan di Nusantara yang menghadapi ancaman Portugis. “Wafatnya Sultan Ali Mughayat Syah ditangisi oleh rakyat Aceh dan rakyat kerajaan di Nusantara. Kisah seorang pahlawan agung yang dikenal dunia sebagai yang pertama kali bangkit dan berhasil mengalahkan Portugis di Asia Tenggara,” ujar Cut Putri.
Sultan Ali Mughayat Syah kemudian bersiap menghadapi Portugis di Malaka. Namun, dalam kondisi masih relatif muda, Sultan Ali Mughayat Syah jatuh sakit. Ia wafat pada 12 Zulhijjah 936 Hijriah atau 7 Agustus 1530 Masehi. Nisan makam Sultan Ali Mughayat Syah dihiasi ukiran yang menggambarkan kedudukan dan perjuangannya. Cut Putri mengutip penelitian Ludvik Kallus dan Claude Guillot yang mencatat inskripsi pada nisan Sultan Ali Mughayat Syah. Salah satu gelar yang tercantum adalah Al Ghazi Fil Barri Wal Bahri, yang dimaknai sebagai ksatria yang berjuang di darat dan di laut. Inskripsi tersebut juga menyebut Sultan Ali Mughayat Syah sebagai Sultan tertinggi serta memuat doa agar Allah memberikan rahmat dan menjadikan surga sebagai tempat kembali. Menurut Cut Putri, perjalanan Sultan Ali Mughayat Syah berlangsung dalam suasana peperangan yang panjang untuk mempertahankan Aceh dan menghadapi kekuatan Portugis. Perjuangan tersebut kemudian diteruskan oleh para Sultan Aceh berikutnya, di antaranya Sultan Alauddin Al-Qahhar dan Sultan Iskandar Muda. Pada masa-masa berikutnya, Kesultanan Aceh Darussalam berkembang menjadi salah satu kerajaan Islam yang memiliki pengaruh besar di kawasan Asia Tenggara. Bagi Cut Putri, warisan Sultan Ali Mughayat Syah bukan hanya mengenai peperangan, tetapi juga tentang keberanian mempertahankan kedaulatan Aceh serta menghadapi kekuatan asing yang datang ke kawasan Nusantara.
Ikuti acehindependent di Google News
Dapatkan berita acehindependent terbaru dan terpercaya langsung melalui Google News.
Buka Google News