Menariknya, usaha ini dijalankan oleh 12 perempuan tangguh Gampong Lamkeunung. Meski masih terbilang baru, produk yang dijual Rp1.000 per pcs atau Rp20.000 per kemasan ini telah membuka peluang tambahan penghasilan bagi masyarakat sekitar.
Widget Artikel Samping
Salah seorang penggerak, Wina, menyampaikan bahwa produksi briket masih dilakukan secara manual dengan hanya mengandalkan satu mesin sederhana. Kapasitas produksi saat ini baru mencapai 100 pcs per hari, padahal potensi sebenarnya bisa tembus 1.200 pcs jika didukung mesin memadai.
“Bahan baku ampas kopi di Aceh sangat melimpah dan kompetitor masih minim. Produk ini bukan hanya bernilai ekonomi, tapi juga ramah lingkungan,” ujar Wina kepada Tim Media Center Aceh Besar, Selasa (23/09/2025).
Ia berharap dukungan dari berbagai pihak dapat mempercepat perkembangan usaha, membuka lebih banyak lapangan kerja, sekaligus menjadikan Briket LK Coffee sebagai salah satu produk unggulan Aceh.
Sementara itu, Keuchik Lamkeunung, Amiruddin Idris, menegaskan bahwa pengembangan usaha briket akan menjadi fokus utama pihaknya pada tahun 2026.
“Dana desa akan diarahkan untuk mendukung keberlanjutan usaha ini. Kami juga membuka peluang bagi investor yang ingin ikut mendorong kemajuan ekonomi masyarakat Gampong Lamkeunung,” pungkasnya.
Ikuti acehindependent di Google News
Dapatkan berita acehindependent terbaru dan terpercaya langsung melalui Google News.
Buka Google News