Fakultas Keperawatan USK bersama College of Nursing University of Rhode Island (USA), Fakultas Kedokteran USK, dan Akper Kesdam Iskandar Muda sukses menggelar workshop bertajuk “Manajemen Nyeri pada Pasien Onkologi: Meningkatkan Self-Efficacy Perawat dalam Implementasi Intervensi Farmakologis dan Non-Farmakologis” di RSUD dr. Zainoel Abidin (RSUDZA), Banda Aceh.
Widget Artikel Samping
Kegiatan ini dirancang untuk mendongkrak kapasitas tenaga keperawatan dalam memberikan pelayanan komprehensif bagi pasien kanker. Ketua Panitia Penyelenggara yang juga perwakilan College of Nursing University of Rhode Island, Ns. Nani Safuni, MNG, menjelaskan bahwa pelatihan ini diikuti oleh 105 perawat pelaksana. Sebanyak 70 peserta hadir secara langsung, sementara 35 lainnya mengikuti secara daring.
Menurut Nani, manajemen nyeri merupakan pilar krusial dalam perawatan pasien kanker yang menuntut ketepatan pengkajian serta pemilihan intervensi, baik farmakologis maupun nonfarmakologis.
“Dengan meningkatnya pengetahuan dan kemampuan tenaga keperawatan, pengelolaan nyeri dapat dilakukan secara lebih terstruktur sebagai bagian dari pelayanan kanker yang berkesinambungan,” ujar Nani.
Case Manager Onkologi RSUDZA, Ns. Salibiah, M.Kep., turut mengapresiasi inisiatif kolaboratif sivitas akademika USK ini dalam mendukung pembaruan wawasan klinis para perawat di rumah sakit.
“Menurut saya, kegiatan ini sangat baik dan diharapkan dapat dilaksanakan secara reguler di masa mendatang. Kegiatan seperti ini juga penting untuk membantu perawat mendapatkan informasi dan pembaruan terbaru terkait manajemen nyeri pada pasien kanker,” kata Salibiah.
Rangkaian acara diawali dengan pre-test untuk mengukur pemahaman awal peserta. Materi inti kemudian dibedah secara mendalam oleh dosen Fakultas Keperawatan USK, Ns. Anda Kamal, MNS, yang mengupas tuntas instrumen pengkajian nyeri hingga prinsip WHO analgesic ladder.
Dalam sesinya, Anda Kamal menekankan pentingnya kepercayaan diri atau self-efficacy perawat dalam mengambil keputusan klinis yang tepat di ruang perawatan.
“Perawat juga perlu memiliki self-efficacy yang baik agar lebih percaya diri dalam melakukan pengkajian, menentukan intervensi yang sesuai, memantau respons pasien, serta berkolaborasi dengan tim kesehatan dalam pengelolaan nyeri,” jelas Anda Kamal.
Selain pemaparan teori, peserta diajak membedah studi kasus nyata yang kerap ditemui di lapangan guna menajamkan kemampuan analisis klinis. Workshop kemudian ditutup dengan post-test untuk mengevaluasi peningkatan pemahaman peserta, memastikan para perawat pulang dengan bekal optimal untuk meningkatkan kualitas hidup pasien kanker di Aceh.
Ikuti acehindependent di Google News
Dapatkan berita acehindependent terbaru dan terpercaya langsung melalui Google News.
Buka Google News