Gas Andaman Jangan Ulangi Luka Arun, Mahasiswa UIN Ar-Raniry Ingatkan Pemerintah soal Keadilan Energi untuk Aceh

Ketua DEMA Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Ar-Raniry, M. Ikram Al Ghifari, mengingatkan agar pengelolaan cadangan gas raksasa South Andaman tidak mengulang ketimpangan masa lalu saat Aceh menjadi tulang punggung energi nasional melalui Arun. Menurutnya, kekayaan alam harus sejalan dengan kesejahteraan masyarakat Aceh. 
Widget Artikel Samping

Tujuh Muda-Mudi Pesta Miras dan Seks Diserahkan ke Kejari

Baca Selengkapnya

ACEH – Penemuan cadangan gas raksasa di Blok South Andaman menjadi angin segar bagi masa depan energi Indonesia. Dengan estimasi potensi cadangan mencapai lebih dari 8 hingga 10 Trillion Cubic Feet (TCF), proyek ini digadang-gadang sebagai salah satu temuan gas terbesar di Asia Tenggara dalam beberapa dekade terakhir dan diproyeksikan menjadi salah satu pilar penting ketahanan energi nasional.

Harapan besar kini tertuju pada pengembangan lapangan gas tersebut. Pemerintah pusat menilai potensi South Andaman dapat membantu memperkuat swasembada energi Indonesia di tengah meningkatnya kebutuhan energi domestik. Operator proyek, Mubadala Energy bersama para mitranya, juga terus mempercepat proses pengembangan dengan target produksi awal pada 2028.

Bacaan Lainnya

Namun di tengah optimisme tersebut, suara kritis mulai muncul dari kalangan akademisi dan mahasiswa Aceh. Ketua DEMA Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Ar-Raniry, M. Ikram Al Ghifari, mengingatkan agar keberhasilan eksplorasi gas Andaman tidak hanya menjadi cerita tentang angka investasi dan keuntungan negara, tetapi juga tentang keadilan bagi masyarakat Aceh.

Menurut Ikram, sejarah panjang Aceh sebagai daerah penghasil energi nasional harus menjadi bahan refleksi bersama. Ia menilai masyarakat Aceh memiliki alasan kuat untuk bersikap kritis terhadap arah kebijakan pengelolaan gas Andaman karena pernah mengalami pengalaman pahit ketika menjadi pusat industri energi nasional melalui ladang gas Arun, namun manfaat kesejahteraan yang dirasakan masyarakat tidak sebanding dengan besarnya kontribusi yang diberikan.

“Penemuan gas Andaman tentu patut disyukuri. Ini merupakan peluang besar, bukan hanya bagi Aceh tetapi juga Indonesia. Namun kita tidak boleh terjebak dalam euforia semata. Aceh pernah menjadi tulang punggung energi nasional melalui Arun dan sejarah itu harus menjadi pelajaran agar ketidakadilan yang sama tidak terulang,” ujar Ikram, Selasa (2/6/2026).

Ia menjelaskan bahwa pada masa kejayaannya, Arun merupakan salah satu ladang gas terbesar di dunia dan menjadi aset strategis nasional yang sangat menentukan perekonomian Indonesia. Arun pernah menyumbang sekitar 30 persen produksi LNG nasional dan menjadi salah satu sumber devisa terbesar negara selama bertahun-tahun.

Tidak hanya itu, sepanjang masa produksinya, Arun disebut menghasilkan lebih dari 16 TCF gas dan sekitar 700 juta barel kondensat. Angka fantastis tersebut menjadikan Aceh sebagai salah satu kontributor utama sektor energi Indonesia dalam kurun waktu panjang.

Namun ironisnya, kata Ikram, kekayaan sumber daya alam itu tidak sepenuhnya bertransformasi menjadi kesejahteraan yang merata bagi masyarakat Aceh. Hingga kini, berbagai persoalan sosial dan ekonomi masih menjadi tantangan, mulai dari pengangguran, ketimpangan pembangunan, hingga keterbatasan akses ekonomi masyarakat di sejumlah wilayah.

Karena itu, ia menilai pengelolaan gas Andaman harus dilakukan dengan pendekatan berbeda. Pemerintah pusat maupun daerah diharapkan tidak hanya fokus pada target produksi dan keuntungan fiskal, tetapi juga memastikan adanya dampak nyata bagi masyarakat lokal.

Menurutnya, manfaat tersebut harus diwujudkan dalam bentuk pembangunan infrastruktur yang merata, penguatan kualitas pendidikan dan kesehatan, peningkatan kapasitas tenaga kerja lokal, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan industri.

“Jangan sampai Aceh kembali hanya menjadi penonton di rumah sendiri. Jika Andaman benar-benar menjadi sumber energi besar nasional, maka masyarakat Aceh juga harus menjadi bagian utama dari manfaat ekonominya,” tegasnya.

Ikram juga menyoroti pentingnya transparansi dalam pengelolaan sumber daya energi, termasuk keterlibatan publik dalam pengawasan kebijakan agar potensi konflik kepentingan dan ketimpangan distribusi manfaat dapat diminimalkan.

Baginya, keberhasilan proyek gas Andaman tidak cukup hanya diukur dari volume produksi atau besarnya investasi yang masuk, tetapi sejauh mana proyek tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memperkuat pembangunan Aceh secara berkelanjutan.

Penemuan gas South Andaman memang membuka harapan baru bagi Indonesia. Namun bagi Aceh, proyek ini juga menghadirkan pertanyaan penting: apakah sejarah kejayaan energi akan kembali meninggalkan luka lama, atau justru menjadi momentum lahirnya keadilan ekonomi yang selama ini dinantikan?(**)

Widget Artikel Samping

Prediksi Paling Akurat Liga-Liga Eropa ada di sini! lengkap, tajam, dan bikin kamu selalu update

Baca Selengkapnya

Pos terkait