TAKENGON, ACEH INDEPENDENT – Dr. Salman Yoga S, Ketua Kurator 14 negara Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV mencetuskan dan mengusulkan Seni Didong Gayo sebagai Warisan Budaya Takbenda atau Intangible Cultural Heritage (ICH) ke United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).
Pencetusan tersebut disampaikan Salman ketika menyampaikan pidato khusus di Pendopo Bupati Aceh Tengah Selasa malam, 23 Juni 2026.
Dihadapannya, ada Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Hafidz Muksin, S.Sos., M.Si, Wakil Bupati Aceh Tengah Muchsin Hasan, M.SP, sejumlah Kepala Balai Bahasa dari berbagai provinsi, Rektor IAIN Takengon Prof. Dr. Ridwan Nurdin, Ketua Majelis Ulama Tgk. Amry Jalaluddin dan sejumlah Pejabat serta Kepala Dinas Kabupaten Aceh Tengah, Mandatoris PPN Ahmadun Yosi Herfanda serta ratusan penyair dan sastrawan peserta PPN XIV dari berbagai provinsi dan negara.
“Sebagai sebuah kesenian massal masyarakat Gayo Didong sudah layak diusulkan sebagai Warisan Budaya Takbenda ke UNESCO. Didong adalah induk sastra lisan dan puncak kebudayaan Gayo. Keberadaannya bukan lagi sekedar kesenian tradisional biasa tetapi lebih dari sekedar eksistensi,” cetus Salman.
Dengan suara yang menggelegar, Salman menegaskan, Didong telah menjelma menjadi media transformasi nilai, pelestari bahasa adat-budaya, agama dan bahkan menjadi microfon pemerintah dalam memsosialisasikan program-programnya.
Dia bilang, Didong merupakan museum dan kamus kata-kata dalam kebudayaan Gayo. Bayangkan saja dalam setiap tertandingan Didong semalam suntuk, berlangsung sejak jam Sembilan atau jam sepuluh malam hingga jam tiga sampai jam empat pagi.
Setiap pementasannya tidak kurang masing-masing group akan tampil tujuh ronde dengan hitungan 30 menit, dan setiap ronde tidak kurang akan membawakan 5-7 judul karangan, masing-masing karangan berisi 350-450 syair. Jadi setiap kali ada Didong Jalu bisa dijumlahkan syair-syair yang tercipta tidak kurang 44.100 syair dalam satu malam.
Jumlah tersebut belum dikalikan dengan volume penampilan Didong dalam seminggu, sebulan atau setahun, jelas Salman, yang semua jenjang pendidikannya dari S1, S2 dan S3-nya meneliti tentang Didong Gayo.
Fenomena sastra lisan dan sastra tradisi seperti ini barangkali hanya terjadi di Gayo dan belum tentu ada di belahan dunia lain. Justru karena itu Didong sudah selayaknya diusulkan kepada UNESCO sebagai ICH.
Untuk sampai ke tahap tersebut, lanjut Salman, harus ada sinergi antara seniman, pemerintah daerah, akademisi juga lembaga negara setingkat kementerian.
Pada akhir pidatonya, Salman juga sempat menyebutkan bahwa pengusulan Didong sebagai Warisan Budaya Takbenda ke UNESCO sebenarnya agak lambat dari Tari Saman Gayo Lues yang telah disahkan pada tanggal 24 November 2011 lalu.
Meski demikian, dia menaruh harapan, Badan Bahasa Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, dan kementerian serta lembaga pemerintah terkait dapat memfasilitasi. ()







