Aksi tersebut diikuti oleh gabungan mahasiswa dari BEM UI, DEMA UIN Ar-Raniry, PEMA USM, PEMA UNIDA, bersama Aliansi Rakyat Aceh (ARA). Mereka menyuarakan sejumlah persoalan yang dinilai belum mendapat perhatian serius dari pemerintah, mulai dari penanganan masyarakat terdampak bencana hingga aktivitas pertambangan di kawasan Beutong.
Widget Artikel Samping
Sebelum massa tiba, aparat kepolisian dan petugas pengamanan telah bersiaga di sekitar Kantor Gubernur Aceh untuk mengantisipasi jalannya aksi. Namun, setelah menunggu lebih dari dua jam, demonstrasi baru dimulai pada sore hari.
Saat memasuki kawasan kantor gubernur, massa sempat terlibat aksi saling dorong dengan aparat yang berjaga di gerbang utama. Meski sempat terjadi ketegangan, situasi tetap dapat dikendalikan dan para demonstran akhirnya berhasil memasuki kompleks kantor melalui pintu keluar.
Di halaman depan Kantor Gubernur Aceh, massa kemudian membentangkan Bendera Bulan Bintang sebagai bagian dari simbol aksi mereka. Selain itu, sejumlah peserta aksi menyemprotkan cat pilox di beberapa titik kawasan kantor dengan berbagai tulisan bernada kritik terhadap pemerintah, di antaranya bertuliskan “Pemerintah Sakit” dan “Prabowo Mumang”. Tidak hanya itu, ban bekas juga dibakar di depan kantor gubernur sebagai bentuk ekspresi kekecewaan terhadap kondisi yang mereka anggap belum mendapatkan penyelesaian.
Sepanjang aksi berlangsung, para peserta secara bergantian menyampaikan orasi. Mereka menilai pemerintah belum menunjukkan langkah yang cepat dan konkret dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat Aceh, khususnya bagi warga yang terdampak bencana.
Salah seorang orator, Darris, mengatakan masyarakat yang menjadi korban bencana masih hidup dalam kondisi yang memprihatinkan. Menurutnya, hingga kini masih banyak warga yang belum memperoleh kepastian terkait pemulihan tempat tinggal maupun bantuan yang dijanjikan.
“Sudah delapan bulan mereka menderita, belum bisa tidur dengan nyenyak. Sudah delapan bulan pemerintah berbohong kepada rakyatnya. Di mana nurani pemerintah hari ini?” ujar Darris dalam orasinya.
Selain persoalan penanganan bencana, massa juga mendesak pemerintah untuk memberikan perhatian terhadap aktivitas pertambangan di kawasan Beutong yang dinilai berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat sekitar. Mereka meminta seluruh aspirasi yang disampaikan tidak hanya didengar, tetapi juga ditindaklanjuti dengan langkah nyata.
Aksi berlangsung di bawah pengawalan aparat kepolisian yang berjaga di sejumlah titik untuk memastikan demonstrasi tetap berjalan kondusif. Meskipun sempat diwarnai ketegangan dan aksi simbolik berupa pembakaran ban serta vandalisme di beberapa bagian kompleks kantor gubernur, situasi secara umum tetap terkendali hingga rangkaian unjuk rasa berakhir.
Melalui aksi tersebut, aliansi mahasiswa dan masyarakat berharap Pemerintah Aceh maupun pemerintah pusat segera mengambil langkah konkret dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang mereka angkat, terutama terkait percepatan penanganan korban bencana dan evaluasi terhadap aktivitas pertambangan yang menjadi perhatian masyarakat.(**)
Ikuti acehindependent di Google News
Dapatkan berita acehindependent terbaru dan terpercaya langsung melalui Google News.
Buka Google News