“Iya lah, terserah. Sebenarnya kita imbau untuk tidak dinaikkan,” ujar Mualem usai melantik Pengurus Baitul Mal Aceh, Senin malam (17/11/2025).
Widget Artikel Samping
Namun demikian, Mualem menyebut tindakan itu lebih banyak dilakukan oleh kalangan muda. Menurutnya, hal tersebut wajar selama tidak memicu kegaduhan.
“Itu anak muda. Si go-go hana pue (sekali-sekali tidak apa-apa),” ucapnya.
Pernyataan serupa juga disampaikan Mualem pada sidang paripurna Persetujuan Bersama KUA-PPAS 2026 di DPRA, Jumat pekan lalu. Saat itu, seorang anggota dewan menanyakan kapan Bendera Bulan Bintang dapat dikibarkan secara resmi.
Dalam sidang tersebut, Mualem—yang juga menjabat Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA)—tengah menjelaskan hasil pertemuannya dengan Presiden Prabowo Subianto. Ia menyampaikan bahwa pemerintah pusat berkomitmen memenuhi sejumlah permintaan Aceh pada 2026, termasuk tambahan dana Rp8 triliun dan dana hibah Rp2 triliun bagi para kombatan.
Di tengah penjelasannya, muncul pertanyaan dari salah satu anggota dewan mengenai status Bendera Bulan Bintang.
“Bendera Bulan Bintang bagaimana, Mualem?” tanya anggota DPRA itu.
Dengan nada santai, Mualem menjawab:
“Bek ile, teunang mantong (jangan dulu, tenang saja). Bek syeh-syoh (jangan gaduh).”
Jawaban itu disambut tawa para anggota dewan yang hadir, menandai bahwa isu bendera tetap menjadi perhatian, namun tidak untuk diperdebatkan secara tegang pada forum tersebut.
Ikuti acehindependent di Google News
Dapatkan berita acehindependent terbaru dan terpercaya langsung melalui Google News.
Buka Google News