Prediksi Paling Akurat Liga - Liga Asia, Eropa ada di sini! lengkap, tajam, dan bikin kamu selalu update
Baca SelengkapnyaACEH INDEPENDENT, Pemerintah Aceh mendorong Universitas Syiah Kuala (USK) untuk terus memperkuat peran riset berdampak sebagai instrumen penting dalam menjawab kebutuhan pembangunan daerah. Pesan tersebut ditegaskan oleh Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Aceh, Marthunis, S.T., D.E.A pada kuliah umum di Aula Sekolah Pascasarjana USK. (Banda Aceh, 20 Agustus 2026).
Acara yang dipandu oleh Direktur Sekolah Pascasarjana USK Prof. Muslim Akmal ini dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Akademik USK, Prof. Dr. Heru Fahlevi, S.E., M.Sc., Ak., CA.
“Riset perguruan tinggi tak boleh berhenti sebatas publikasi ilmiah atau mengendap di jurnal, melainkan harus diimplementasikan menjadi kebijakan, inovasi, serta produk yang memberi nilai tambah bagi perekonomian masyarakat,” ucap Marthunis.
Selanjutnya, dirinya menyoroti masih adanya kesenjangan antara supply lulusan dan agenda riset kampus dengan demand dunia industri serta pemerintah. Untuk mengatasi hal tersebut, ia menekankan pentingnya membangun ekosistem sinergis berbasis Quadruple Helix yang menghubungkan perguruan tinggi, pemerintah, dan industri.
“Riset tidak boleh hanya untuk riset. Riset harus diimplementasikan dan menghasilkan nilai tambah yang dibutuhkan oleh ekonomi,” tegas Marthunis.
Pada kesempatan ini, Prof. Heru mengutip pidato Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia lalu, yang mengatakan bahwa kampus tidak boleh sekadar menjadi penonton, melainkan harus menjadi tulang punggung pembangunan daerah melalui penguatan Tridarma Perguruan Tinggi.
Untuk itulah, dirinya menilai Kuliah Umum sangatlah penting untuk menjembatani kampus dengan Pemerintah Aceh.
“USK membuka pintu seluas-luasnya bagi pemerintah daerah untuk berdiskusi merumuskan agenda penelitian bersama agar topik riset yang diangkat benar-benar menjawab persoalan nyata di lapangan,” ucapnya.
Prof. Heru menilai kemitraan kampus dan Pemerintah Aceh ini sangatlah penting untuk menghasilkan kolaborasi yang lebih kuat dan berdampak. USK dapat memberikan kepakaran dan basis ilmiah, sementara pemerintah daerah menghadirkan pengalaman serta kebutuhan nyata di lapangan.
“Di USK kita memiliki kepakaran, pengalaman, dan pengetahuan yang bisa ditransfer ke daerah. Di sisi lain, pemerintah daerah memiliki masalah, pengalaman, dan pengetahuan praktis yang juga bisa dibawa ke USK. Dari situlah kita berharap terjadi kolaborasi untuk kemajuan bersama,” jelasnya.
Ia menegaskan, kolaborasi tersebut pada akhirnya bukan semata-mata untuk kepentingan USK. Tujuan yang jauh lebih penting adalah memastikan kehadiran perguruan tinggi memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan Aceh.
“USK tidak akan maju tanpa kemajuan Aceh. Sebaliknya, pembangunan Aceh juga tidak akan optimal tanpa dukungan dan kontribusi USK,” tegasnya.
Sementara itu, Prof. Muslim Akmal mengatakan reputasi USK saat ini terus menunjukkan perkembangan yang positif. Hal ini terlihat dari keberhasilan universitas tersebut menembus sejumlah pemeringkatan internasional.
Di antaranya, USK meraih peringkat 301–400 dunia pada Times Higher Education (THE) Impact Ratings 2026. Capaian ini melonjak signifikan dari kelompok 601–800 dunia pada tahun 2025, sekaligus menempatkan USK sebagai universitas dengan peringkat THE Impact Ratings tertinggi di Pulau Sumatera.
“Ini semua berkat kerja keras kita semua. Untuk itu kami berharap dukungan semua pihak, agar prestasi USK ini bisa semakin meningkat lagi ke depannya,” ucapnya.
Ikuti acehindependent di Google News
Dapatkan berita acehindependent terbaru dan terpercaya langsung melalui Google News.
Buka Google News






