Puncak Milad USK ini dihadiri Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Prof. Dr. Fauzan, M.Pd sebagai Dies Reader, serta Ketua Majelis Wali Amanat USK Dr. Safrizal ZA, M.Si yang turut memberikan sambutannya pada forum tersebut.
Widget Artikel Samping
Rektor memaparkan bahwa USK saat ini telah tumbuh dan berkembang dengan sangat baik, termasuk berhasil mempertahankan akreditasi Unggul. Sebanyak 90 program studi atau 54,54 persen di antaranya telah terakreditasi Unggul/A, sementara 19 prodi lainnya telah mengantongi akreditasi internasional.
Pengakuan global USK juga tercermin dari pemeringkatan THE World University Rankings, yang menempatkan kualitas riset USK pada peringkat enam nasional dan peringkat pertama di Sumatera. Selain itu, tahun ini lima peneliti USK berhasil masuk dalam kelompok 2% Saintis Top Dunia.
“Bagi USK, peringkat ini bukanlah tujuan akhir. Sebab reputasi global harus terus kita bangun dengan kualitas pendidikan yang semakin baik, riset yang semakin bermutu dan berdampak,” ucap Rektor.
Sebagai wujud komitmen, USK selalu berupaya memberikan dampak nyata bagi masyarakat, seperti pembentukan Satgas Respon Senyar Aceh saat bencana banjir lalu.
Melalui satgas tersebut, USK memobilisasi 556 tenaga medis dan relawan serta 1.387 mahasiswa dan dosen untuk memberikan layanan kesehatan, bantuan kemanusiaan, pendampingan psikososial, dan pemulihan. Dukungan sivitas akademika dan masyarakat melalui Rumah Amal dan Satgas USK juga berhasil menghimpun donasi sebesar Rp3,47 miliar.
“USK tidak hanya menghasilkan ilmu pengetahuan, tetapi hadir melalui kepakaran, pengabdian, inovasi, dan solidaritas untuk memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” tutur Rektor.
Ketua MWA USK, Dr. Safrizal ZA, M.Si, turut mengapresiasi seluruh pencapaian ini dan menilai pengakuan dunia menunjukkan USK semakin diperhitungkan. Ia mengingatkan agar USK terus memperluas kiprahnya bagi masyarakat dan bangsa.
“Kebesaran universitas tidak hanya diukur dari apa yang berhasil dibangun di dalam kampus, tetapi dari apa yang mampu diperbaiki dan kontribusi yang diberikan kepada masyarakat di luar kampus. Karena itu, dampak nyata menjadi tema penting bagi USK yang memasuki usia ke-65 tahun,” ujarnya.
Sementara itu, Wamendiktisaintek Prof. Dr. Fauzan, M.Pd menyatakan bahwa konsep Kampus Berdampak berarti menjadikan perguruan tinggi sebagai bagian integral dari kehidupan sosial, yang selaras dengan pemerintah daerah, dunia industri, dan masyarakat.
Menurutnya, hubungan kolaboratif tersebut penting agar perguruan tinggi tidak bekerja sendiri, melainkan menjadi bagian dari ekosistem pembangunan yang mampu menjawab berbagai kebutuhan nyata di tengah masyarakat.
“Dengan demikian, kehadiran perguruan tinggi di mana pun, termasuk Universitas Syiah Kuala, harus menjadi pusat pengembangan pengetahuan sekaligus pusat pemberian solusi atas berbagai persoalan sosial,” kata Wamendiktisaintek.
Seusai menyampaikan orasi ilmiah, Wamendiktisaintek beserta rombongan, didampingi Rektor dan Ketua MWA USK, mengunjungi Pusat Riset Kebencanaan USK atau TDMRC untuk melihat langsung serta mengapresiasi peran pusat riset tersebut dalam upaya pengurangan risiko bencana di masyarakat.
Ikuti acehindependent di Google News
Dapatkan berita acehindependent terbaru dan terpercaya langsung melalui Google News.
Buka Google News