Kunjungan tersebut menjadi forum strategis untuk membahas penguatan ekosistem riset dan inovasi di Aceh, termasuk peningkatan kapasitas peneliti, dukungan terhadap pemerintah daerah, pemanfaatan fasilitas penelitian BRIN, pendanaan penelitian, serta pengembangan inovasi yang dapat menghasilkan produk unggulan daerah.
Widget Artikel Samping
Plt. Direktur Kebijakan Riset dan Inovasi Daerah BRIN, Dr. Muhamad Amin, S.T., M.M.S.I., menyatakan bahwa penguatan inovasi di daerah memerlukan kolaborasi erat antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga riset, dan para pemangku kepentingan. Menurutnya, pemerintah daerah perlu memiliki arah pengembangan inovasi yang terintegrasi dalam Rencana Induk dan Peta Jalan Kemajuan Iptek Daerah.
Ia menambahkan, BRIN mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat kapasitas kelembagaan inovasi, termasuk mengoptimalkan peran Badan Inovasi Daerah. USK dinilai memiliki posisi yang sangat strategis dalam membantu pemerintah daerah untuk meningkatkan kapasitas inovasi dan mengembangkan potensi lokal berbasis riset.
Proses penyusunan tersebut masih berjalan sehingga memerlukan komitmen, konsistensi, serta kolaborasi yang kuat bersama USK. BRIN berharap kerja sama ini dapat segera ditindaklanjuti melalui program-program konkret seperti pendanaan penelitian kompetitif dan pengembangan potensi daerah, salah satunya adalah minyak nilam Aceh. BRIN juga memberikan apresiasi kepada Atsiri Research Center (ARC) USK sebagai contoh sukses pengelolaan pusat riset berbasis potensi lokal.
Selain pendanaan, BRIN juga membuka kesempatan bagi para peneliti di Aceh untuk memanfaatkan fasilitas penelitian yang dimiliki BRIN secara bersama-sama. Langkah ini diharapkan mampu memperluas akses sarana riset sekaligus menciptakan efisiensi pembiayaan.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Rektor USK Bidang Akademik, Prof. Dr. Heru Fahlevi, S.E., M.Sc., Ak., CA., menyambut baik inisiatif kolaborasi ini dan menyatakan kesiapannya untuk menindaklanjuti melalui koordinasi bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) USK.
Prof. Heru menjelaskan bahwa USK akan melakukan penyusunan rencana serta pemetaan kebutuhan secara bertahap agar kerja sama dengan BRIN dan pemerintah daerah dapat berjalan terarah serta memberikan hasil yang nyata bagi pembangunan di Aceh.
Terdapat tiga arah utama tindak lanjut kerja sama. Pertama, memperkuat kolaborasi antara peneliti USK dan periset BRIN di Aceh melalui koordinasi LPPM USK. Kedua, mengembangkan program pelatihan peningkatan kapasitas bagi pemerintah daerah dalam menyusun Rencana Induk dan Peta Jalan Kemajuan Iptek Daerah. Ketiga, menjajaki skema pendanaan bersama atau matching fund yang melibatkan pemerintah daerah, USK, dan BRIN.
Selain itu, penguatan budaya penelitian juga menjadi fokus penting di Aceh. Melalui LPPM dan pusat riset seperti ARC, USK siap berperan dalam membina kapasitas peneliti lokal. Pemetaan kebutuhan penelitian di berbagai daerah di Aceh juga akan dilakukan agar riset yang dihasilkan benar-benar menjawab persoalan nyata di masyarakat melalui sinergi dengan Bappeda dan instansi terkait.
Audiensi ini turut dihadiri oleh Sekretaris USK Prof. Dr. Nur Fadli, S.Pi., M.Sc., Kepala LPPM USK Prof. Dr. Taufiq C. Dawood, S.E., M.Ec.Dev., Wakil Kepala Bidang Pengembangan Riset, Kolaborasi dan Hilirisasi Prof. Dr. drh. Basri, M.Si., serta Kepala ARC USK Dr. Ir. Syaifullah, S.T., M.Eng. Dari pihak BRIN, hadir Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah Dr. Yopi, Plt. Direktur Kebijakan Riset dan Inovasi Daerah Dr. Muhamad Amin, S.T., M.M.S.I., Analis Pemanfaatan IPTEK Ahli Madya Sri Ayu Suryani, S.IP., M.Si., serta Analis Kebijakan Ahli Madya Sulistyo Nugroho, S.T.
Ikuti acehindependent di Google News
Dapatkan berita acehindependent terbaru dan terpercaya langsung melalui Google News.
Buka Google News