USK Dorong Kemitraan Berorientasi Luaran dan Berdampak bagi Perguruan Tinggi

Universitas Syiah Kuala (USK) mendorong penguatan tata kelola kemitraan agar tidak berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman (MoU), tetapi menghasilkan program dan dampak yang terukur. Foto/Istimewa
Widget Artikel Samping

Prediksi Paling Akurat Liga - Liga Asia, Eropa ada di sini! lengkap, tajam, dan bikin kamu selalu update

Baca Selengkapnya

ACEH INDEPENDENT, Universitas Syiah Kuala (USK) mendorong penguatan tata kelola kemitraan agar tidak berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman (MoU), tetapi menghasilkan program dan dampak yang terukur.

Hal tersebut disampaikan Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kemitraan dan Bisnis USK, Dr. Ir. Ramzi Adriman, S.T., M.Sc., saat membuka Sosialisasi Indikator Kinerja Utama Bidang Kerja Sama dan Sosialisasi Teknis Pengurusan Perjalanan Luar Negeri di Balai Sidang Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK, Banda Aceh, Jumat (21/8/2026).

Bacaan Lainnya
Widget Artikel Samping

Dalam sambutannya, Ramzi menekankan perlunya perubahan paradigma dalam membangun kerja sama. Menurutnya, ukuran keberhasilan kemitraan bukan terletak pada banyaknya MoU maupun perjanjian kerja sama (IA) yang ditandatangani, melainkan pada sejauh mana kerja sama tersebut menghasilkan luaran dan memberikan manfaat bagi USK.

Ia mengingatkan setiap rencana kerja sama perlu terlebih dahulu dikaji dari sisi manfaat, tujuan, serta luaran yang hendak dicapai. Kerja sama yang hanya menghasilkan dokumen tanpa diikuti program nyata dinilai tidak sejalan dengan prinsip efisiensi dan efektivitas pengelolaan anggaran.

“Lebih baik jumlah kerja sama tidak terlalu banyak, tetapi benar-benar terlaksana dan memberikan dampak, daripada memiliki banyak MoU dan IA tetapi tidak ada satu pun program yang dijalankan,” ujar Ramzi.

Karena itu, Ramzi meminta seluruh unit di lingkungan USK menjadikan orientasi pada luaran dan kualitas sebagai budaya baru dalam membangun kemitraan. Setiap kerja sama diharapkan memiliki indikator keberhasilan yang jelas serta dapat dipertanggungjawabkan.

“Yang lebih penting adalah apa yang dihasilkan dari kerja sama tersebut, apakah ada programnya, apakah memberikan manfaat, dan apakah berdampak terhadap peningkatan mutu USK,” jelasnya.

Selanjutnya, terkait pengurusan perjalanan luar negeri, Ramzi mengatakan pemahaman terhadap ketentuan perjalanan dinas luar negeri penting bagi sivitas akademika USK. Menurutnya, perjalanan ke luar negeri dalam rangka tugas kedinasan memiliki konsekuensi yang berbeda dengan perjalanan pribadi. Ketika seseorang menjalankan tugas atau membawa kepentingan universitas di luar negeri, maka dirinya turut bertanggung jawab sebagai bagian dari representasi Indonesia.

“Ada tanggung jawab sebagai representasi negara. Karena itu, prosedur dan ketentuan perjalanan luar negeri harus benar-benar dipahami,” katanya.

Ramzi mengungkapkan, pemahaman terhadap prosedur administrasi diperlukan agar perjalanan dinas luar negeri dapat dipertanggungjawabkan dan tidak menimbulkan persoalan dalam pelaksanaannya.

“Untuk itu, kami berharap peserta memanfaatkan kegiatan ini untuk memperoleh penjelasan langsung mengenai dokumen, mekanisme, serta ketentuan yang berlaku terkait perjalanan dinas ini,” ucapnya.

Sosialisasi bidang kerja sama disampaikan oleh Kepala Bagian Evaluasi dan Kerja Sama pada Sekretariat Jenderal Kemdiktisaintek Firman Hidayat, S.Si., M.Si. Sementara itu, materi Sosialisasi Teknis Pengurusan Perjalanan Luar Negeri disampaikan Ketua Tim Kerja Sama Dalam Negeri dan Perjalanan Dinas Luar Negeri Utami Dwi Nastiti.

Ikuti acehindependent di Google News

Dapatkan berita acehindependent terbaru dan terpercaya langsung melalui Google News.

Buka Google News

Pos terkait