Namun, realitas di lapangan dinilai jauh berbeda. Hingga hari ini, sebagian masyarakat di berbagai kabupaten/kota masih harus menghadapi pemadaman listrik berkepanjangan. Kelangkaan gas LPG turut memperburuk keadaan, membuat warga semakin terdesak dalam situasi pemulihan pascabencana.
Widget Artikel Samping
Di sejumlah gampong, aktivitas malam hari lumpuh total. Anak-anak yang biasanya mengikuti pengajian malam di meunasah terpaksa diliburkan karena tidak adanya penerangan. Warga mengaku harus bertahan dalam kondisi gelap dan serba terbatas selama beberapa hari terakhir.
Seorang akademisi sekaligus warga Aceh, M. Nur, S.I.Kom., M.I.Kom., menyayangkan pernyataan Bahlil yang dinilai tidak mencerminkan fakta lapangan.
“Seorang pejabat di hadapan pimpinannya saja berani menyampaikan informasi yang tidak tepat, apalagi kepada rakyat. Janganlah demi menyenangkan hati atasan, kebenaran dikorbankan. Kami di sini masih hidup dalam kegelapan,” ujarnya.
Masyarakat berharap pemerintah memberikan data akurat serta penjelasan yang jujur mengenai kondisi sebenarnya di Aceh. Ketidakakuratan informasi dikhawatirkan dapat memengaruhi pengambilan keputusan strategis yang seharusnya berpihak pada kebutuhan mendesak warga.
“Ini bukan soal angka. Ini tentang nasib orang-orang yang sedang berduka, yang membutuhkan penerangan, kebutuhan pokok, dan kepastian,” tambah M. Nur.
Warga Aceh mengharapkan pemerintah pusat dan daerah bekerja lebih cepat dalam memulihkan jaringan listrik, menstabilkan distribusi LPG, serta memastikan bantuan darurat sampai ke seluruh daerah terdampak banjir. Transparansi dan kejujuran pejabat publik dianggap menjadi kunci untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat dalam situasi sulit seperti saat ini.(*)
Ikuti acehindependent di Google News
Dapatkan berita acehindependent terbaru dan terpercaya langsung melalui Google News.
Buka Google News