Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah kejadian bencana hidrometeorologi basah yang terjadi pada periode pemantauan 2 Mei 2026 pukul 07.00 WIB hingga 3 Mei 2026 pukul 07.00 WIB. Kejadian bencana yang didominasi banjir akibat hujan berintensitas tinggi tersebut terjadi di beberapa wilayah, antara lain Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo, dan Kabupaten Cirebon Provinsi Jawa Barat.
Pemerintah daerah bersama BPBD dan unsur terkait terus melakukan penanganan darurat, asesmen, serta pemantauan di lokasi terdampak guna memastikan keselamatan masyarakat dan mempercepat proses pemulihan.
Kejadian pertama dilaporkan terjadi di Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Banjir dipicu hujan dengan intensitas deras yang terjadi pada Kamis, (30/4) 2026 sekitar pukul 17.30 WIB sehingga mengakibatkan meluapnya aliran Sungai Cibolang dan merendam Desa Jamali, Kecamatan Mande. Peristiwa tersebut menyebabkan sejumlah rumah warga serta fasilitas umum terdampak genangan air dan material lumpur.
Berdasarkan data sementara, sebanyak 25 Kepala Keluarga (82 jiwa) terdampak akibat kejadian tersebut. Selain itu, terdapat 2 Kepala Keluarga atau 9 jiwa yang sempat mengungsi ke Aula Desa dan rumah kerabat terdekat untuk menghindari risiko banjir. Dari sisi kerugian materiil, tercatat sebanyak 20 unit rumah terdampak serta 1 unit fasilitas ibadah terdampak banjir.
Merespons kejadian tersebut, BPBD Kabupaten Cianjur segera berkoordinasi dengan unsur terkait, di antaranya Camat Mande, Kapolsek Mande, Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan Kepala Desa Jamali. BPBD bersama unsur gabungan juga melaksanakan asesmen, pengecekan rumah warga dan fasilitas terdampak, serta pembersihan material banjir bersama masyarakat setempat.
Bupati Cianjur bersama Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cianjur turut meninjau langsung lokasi terdampak guna memastikan penanganan berjalan optimal. Selain itu, masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan siaga terhadap potensi bencana susulan.
Dalam pelaksanaan penanganan darurat, berbagai unsur turut terlibat, antara lain TNI, POLRI, BPBD Kabupaten Cianjur, Kecamatan Mande, Damkar Pos Cikalongkulon Kabupaten Cianjur, Pemerintah Desa Jamali, Retana Kecamatan Mande, PMI Kabupaten Cianjur, serta Puskesmas Mande. Saat ini kebutuhan mendesak yang diperlukan di lokasi terdampak meliputi peralatan kebersihan dan peralatan mandi bagi warga terdampak.
Seiring dengan upaya penanganan yang dilakukan, kondisi banjir di wilayah tersebut dilaporkan mulai membaik. Perkembangan penanganan bencana pada Sabtu, (2/5) banjir telah berangsur surut dan para pengungsi kembali ke rumah masing-masing. Pembersihan material lumpur di lokasi terdampak direncanakan dilaksanakan besok pagi pukul 07.00 WIB dengan kebutuhan tambahan berupa mesin alkon untuk mendukung percepatan pembersihan lumpur di area terdampak.
Sementara itu, kejadian serupa juga terjadi di Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo. Hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi pada Selasa, (29/4) sekitar pukul 18.00 WITA mengakibatkan meluapnya Sungai Moluupo dan menyebabkan banjir di Kelurahan Tenilo, Kecamatan Limboto. Luapan air sungai menggenangi permukiman warga dan mengakibatkan sejumlah rumah terdampak banjir.
Berdasarkan data sementara, kejadian tersebut berdampak terhadap 117 Kepala Keluarga atau sebanyak 457 jiwa. Selain itu, tercatat sebanyak 117 unit rumah warga terdampak akibat genangan banjir yang melanda wilayah tersebut.
Sebagai langkah penanganan darurat, BPBD Kabupaten Gorontalo telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi bencana untuk melakukan asesmen dan pendataan terhadap wilayah serta warga terdampak. BPBD juga berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait guna mempercepat penanganan bencana.
Selain itu, BPBD Kabupaten Gorontalo bersama Dinas Pekerjaan Umum melakukan peninjauan terhadap titik yang kerap menjadi penyebab banjir di Kelurahan Tenilo. Peninjauan tersebut sekaligus menindaklanjuti usulan perbaikan kanal sungai sebagai upaya mitigasi dan pengurangan risiko banjir di wilayah tersebut.
Penanganan kejadian ini melibatkan berbagai unsur, di antaranya BPBD Kabupaten Gorontalo, Dinas PU, pihak kecamatan, TNI/POLRI, aparat desa, warga masyarakat, serta unsur terkait lainnya yang turut membantu proses penanganan di lapangan.
Berdasarkan kondisi mutakhir pada Sabtu, (2/5), banjir dilaporkan telah surut dan situasi di wilayah terdampak berangsur kembali normal. Meski demikian, pemerintah daerah bersama instansi terkait tetap melakukan pemantauan dan koordinasi guna mengantisipasi potensi kejadian serupa, khususnya apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi di wilayah Kabupaten Gorontalo.
Selain Cianjur dan Gorontalo, banjir juga melanda Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Curah hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi pada Jumat, (1/5) mulai pukul 18.00 hingga 22.00 WIB mengakibatkan meluapnya air limpasan dari saluran irigasi ke permukiman warga. Kejadian tersebut menyebabkan banjir di wilayah Kecamatan Panguragan, tepatnya di Desa Panguragan Kulon dan Desa Panguragan Wetan.
Berdasarkan data sementara, banjir berdampak terhadap 377 Kepala Keluarga. Selain itu, tercatat sebanyak 377 unit rumah warga terdampak akibat genangan air yang memasuki kawasan permukiman.
Menindaklanjuti kejadian tersebut, tim BPBD Kabupaten Cirebon turun langsung ke lokasi untuk melakukan penyisiran wilayah terdampak guna mendukung penanganan kedaruratan, khususnya proses evakuasi warga terdampak banjir. Selain itu, BPBD melakukan asesmen dan kaji cepat untuk memperoleh data dampak kejadian secara menyeluruh serta melaporkan hasil penanganan kepada pimpinan untuk diteruskan kepada masyarakat luas.
Sebagai langkah mitigasi, BPBD Kabupaten Cirebon turut mengimbau masyarakat agar terus meningkatkan semangat gotong royong, khususnya dalam menjaga kebersihan dan membersihkan aliran sungai dari sampah guna mengurangi risiko terjadinya banjir serupa di kemudian hari.
Penanganan banjir ini melibatkan berbagai unsur, antara lain BPBD Kabupaten Cirebon, Sekretariat Kecamatan Panguragan, MP Panguragan, perangkat desa, serta masyarakat setempat yang turut membantu proses penanganan di lapangan.
Status kebencanaan saat ini mengacu pada Keputusan Bupati Cirebon Nomor 300.2/Kep.677-BPBD/2025 tentang Status Siaga Darurat Bencana Banjir, Banjir Bandang, Cuaca Ekstrem dan Abrasi serta Tanah Longsor di Daerah Kabupaten Cirebon Tahun 2025/2026 yang berlaku mulai 1 November 2025 sampai dengan 31 Mei 2026.
Kondisi terkini pada Sabtu, (2/5), banjir di wilayah terdampak dilaporkan berangsur surut dan kondisi cuaca terpantau cerah. Pemerintah daerah bersama unsur terkait tetap melakukan pemantauan guna mengantisipasi potensi banjir susulan apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi di wilayah Kabupaten Cirebon.
BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk tetap meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah, terutama banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Masyarakat diharapkan rutin memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari instansi berwenang, membersihkan saluran air dan lingkungan sekitar, serta segera melakukan evakuasi mandiri ke tempat aman apabila terjadi hujan deras disertai peningkatan debit air sungai.(**)






