Banjir, kekeringan, dan puting beliung di Indonesia

Banjir, kekeringan, dan puting beliung di Indonesia
Petugas BPBD bersama relawan melakukan penanganan bencana di sejumlah wilayah terdampak banjir, kekeringan, dan angin puting beliung. BNPB mengimbau masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi dan kekeringan yang masih berpotensi terjadi di berbagai daerah di Indonesia.

ACEH INDEPENDENT, Jakarta – Banjir, kekeringan, dan puting beliung di Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah bencana hidrometeorologi basah maupun kering masih terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Dalam laporan perkembangan penanganan bencana periode Kamis (25/6) pukul 07.00 WIB hingga Jumat (26/6) pukul 07.00 WIB, BNPB menyebutkan banjir, kekeringan, hingga cuaca ekstrem berupa angin puting beliung menjadi bencana yang mendominasi di beberapa daerah.

Fenomena cuaca yang dipengaruhi oleh perubahan musim masih menjadi tantangan bagi pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dalam memberikan penanganan cepat kepada masyarakat terdampak. BNPB pun terus memantau perkembangan situasi serta mengoordinasikan berbagai upaya penanggulangan agar dampak yang ditimbulkan dapat diminimalkan.

Bacaan Lainnya
Ads

Banjir Rendam Puluhan Rumah di Mandailing Natal

Di Provinsi Sumatera Utara, banjir melanda Kabupaten Mandailing Natal pada Rabu (24/6). Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang mengguyur wilayah tersebut sejak pukul 06.00 hingga 08.00 WIB menyebabkan debit sungai meningkat drastis hingga meluap ke kawasan permukiman warga.

Bencana ini menerjang dua kecamatan, yakni Kecamatan Kotanopan yang meliputi Kelurahan Pasar Kotanopan dan Desa Saba Dolok, serta Kecamatan Tambangan di Desa Lumban Pasir.

Sedikitnya 30 kepala keluarga terdampak akibat luapan air tersebut. Selain merendam sekitar 30 unit rumah warga, banjir juga menggenangi sekitar 5,5 hektare lahan milik masyarakat.

Merespons kejadian itu, BPBD Kabupaten Mandailing Natal langsung turun ke lokasi melakukan asesmen, pendataan serta berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk memastikan kebutuhan warga dapat segera dipenuhi.

Hingga laporan terakhir, kondisi banjir dilaporkan telah berangsur surut. Meski demikian, petugas masih terus melakukan pemantauan dan pendataan untuk memastikan tidak ada dampak lanjutan yang membahayakan masyarakat.

Kemarau Picu Krisis Air Bersih di Grobogan

Sementara itu, musim kemarau mulai memunculkan dampak serius di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Penurunan debit sumber air bersih mengakibatkan masyarakat di Desa Gedangan, Kecamatan Wirosari, mengalami kesulitan memperoleh air untuk kebutuhan sehari-hari.

Sebanyak 55 kepala keluarga terdampak akibat kekeringan tersebut. Meski tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerugian material, keterbatasan pasokan air bersih menjadi persoalan utama yang harus segera ditangani.

BPBD Kabupaten Grobogan bergerak cepat dengan mendistribusikan 10.500 liter air bersih menggunakan tiga armada truk tangki. Bantuan ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat sembari menunggu kondisi sumber air kembali normal.

Untuk mengantisipasi meluasnya dampak kekeringan, Pemerintah Kabupaten Grobogan juga telah menetapkan Status Siaga Darurat Penanganan Bencana Kekeringan, Kebakaran Hutan dan Lahan melalui Keputusan Bupati Nomor 100.3.3.2/418/2026. Status tersebut berlaku selama 184 hari, mulai 1 Mei hingga 31 Oktober 2026.

Puluhan KK di Pemalang Alami Kesulitan Air Bersih

Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Menurunnya curah hujan membuat debit sejumlah sumber mata air terus berkurang sehingga masyarakat mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih.

Wilayah yang terdampak berada di Desa Gombong, Kecamatan Belik, dan Desa Gemuruh, Kecamatan Bawang. Berdasarkan data sementara, sebanyak 86 kepala keluarga terdampak.

BPBD Kabupaten Pemalang bersama pemerintah desa telah menyalurkan bantuan satu tangki air bersih atau sekitar 5.000 liter kepada masyarakat. Selain itu, proses pendataan dan pemantauan terus dilakukan guna memastikan kebutuhan air bersih warga tetap terpenuhi apabila musim kemarau berlangsung lebih lama.

Puting Beliung Rusak Rumah dan Musala di Bener Meriah

Di Provinsi Aceh, cuaca ekstrem berupa angin puting beliung disertai hujan lebat menerjang Kabupaten Bener Meriah pada Kamis (25/6) sekitar pukul 14.30 WIB.

Peristiwa tersebut terjadi di Gampong Mekar Ayu, Kecamatan Timang Gajah, serta Gampong Ulu Naron, Kecamatan Pintu Rime Gayo.

Data sementara menunjukkan sedikitnya lima kepala keluarga terdampak. Kerusakan yang ditimbulkan meliputi dua unit rumah rusak berat, tiga unit rumah rusak ringan, serta satu unit musala mengalami rusak berat.

Sesaat setelah kejadian, BPBD Kabupaten Bener Meriah mengerahkan Tim Pemadam 02 Lampahan dan Tim Reaksi Cepat (TRC) menuju lokasi untuk melakukan asesmen sekaligus penanganan darurat. Proses penanganan juga melibatkan relawan kebencanaan bersama masyarakat setempat guna mempercepat pendataan dan pembersihan lokasi terdampak.

Hingga kini BPBD bersama unsur terkait masih melakukan pemantauan sekaligus memastikan kebutuhan masyarakat yang terdampak dapat segera dipenuhi.

BNPB Imbau Masyarakat Tetap Waspada

BNPB mengingatkan seluruh pemerintah daerah, BPBD, dan masyarakat agar terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi maupun kekeringan yang masih berpotensi terjadi seiring dinamika cuaca dan musim.

Masyarakat diimbau untuk selalu memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari instansi berwenang, menggunakan air secara hemat di wilayah yang mengalami keterbatasan pasokan air bersih, serta segera melaporkan kepada aparat apabila menemukan potensi bahaya maupun kondisi darurat.

Menurut BNPB, kesiapsiagaan seluruh pihak menjadi faktor penting dalam mengurangi risiko bencana, mempercepat penanganan, serta meminimalkan dampak yang ditimbulkan terhadap masyarakat.(**)

Widget Artikel Samping

Prediksi Paling Akurat Liga-Liga Eropa ada di sini! lengkap, tajam, dan bikin kamu selalu update

Baca Selengkapnya

Pos terkait