Banda Aceh – Muhsin, seorang ayah asal Kota Langsa, rela menitipkan anaknya di Pesantren Teknologi MSBS Aceh, tepatnya di Bukit Meusara, Kec. Kota Jantho, Kabupaten Aceh Besar. Keputusan itu ia ambil dengan alasan sederhana, yakni agar sang anak tumbuh menjadi pribadi mandiri.
Muhsin mengakui, awalnya tidak mudah bagi sang buah hati untuk beradaptasi dengan kehidupan di pesantren. “Anak sering mengeluh capek, bahkan pada tahun pertama saya harus rutin menjenguknya setiap dua minggu sekali,” ujarnya dalam sebuah bincang santai bersama alumni MNU di Banda Aceh, Sabtu (30/8/2025).
Perjalanan jauh dari Langsa ke Indrapuri bukanlah hal ringan. Namun, demi memberi semangat dan memastikan anaknya betah di lingkungan baru, Muhsin tetap melakukannya dengan penuh kesabaran. Baginya, pendidikan pesantren bukan hanya soal ilmu agama, tetapi juga pembentukan karakter dan kemandirian.
Kali ini, Muhsin hadir ke pesantren bukan hanya untuk melepas rindu pada buah hati, tetapi juga karena adanya acara khusus yang digelar di pesantren setelah salat Isya. “Sekarang anak sudah mulai bisa menyesuaikan diri, dan saya bersyukur melihat perubahan positifnya,” tambahnya.
Pesantren ini sendiri dikenal baik nasional maupun internasional sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam terkemuka di Aceh Besar, yang menekankan pembinaan akhlak, kedisiplinan, serta kecakapan santri agar siap menghadapi tantangan masa depan.






