BANDA ACEH — Dunia riset Indonesia kembali menunjukkan geliat inovasi yang menjanjikan. Kali ini, terobosan datang dari para peneliti UIN Ar-Raniry Banda Aceh yang berhasil mengembangkan material baterai ramah lingkungan berbasis tumbuhan lokal.
Material inovatif tersebut berasal dari daun yang dikenal masyarakat sebagai “Oen Sikhoh-khoh” atau daun balakacida—tanaman lokal yang selama ini belum banyak dimanfaatkan dalam teknologi modern. Melalui pendekatan green synthesis, tim peneliti memanfaatkan ekstrak daun tersebut sebagai agen alami dalam proses pembentukan material baterai, menggantikan bahan kimia berbahaya yang lazim digunakan dalam industri.
Penelitian ini dipimpin oleh Abd Mujahid Hamdan yang mengombinasikan ekstrak daun dengan material berbasis nikel oksida (NiO) dan grafit. Kombinasi ini menghasilkan material komposit yang berperan penting dalam meningkatkan performa baterai, khususnya pada teknologi lithium-ion yang saat ini mendominasi pasar global, (24/3/2026).
Tak hanya menjadi proyek internal kampus, riset ini juga melibatkan kolaborasi lintas institusi ternama seperti Institut Teknologi Bandung, Badan Riset dan Inovasi Nasional, serta Universitas Negeri Surakarta melalui pusat unggulan iptek. Sinergi ini memperkuat kualitas penelitian sekaligus membuka peluang besar untuk pengembangan lebih lanjut hingga tahap industri.
Hasil yang diperoleh pun terbilang signifikan. Material yang dikembangkan menunjukkan kapasitas penyimpanan energi sekitar 22,73 persen lebih tinggi dibandingkan grafit komersial yang umum digunakan saat ini. Selain itu, efisiensi coulombic-nya mendekati 99 persen, menandakan stabilitas tinggi dalam siklus pengisian dan pelepasan energi—dua indikator penting dalam performa baterai modern.
Secara praktis, temuan ini membuka jalan bagi pengembangan baterai yang tidak hanya lebih efisien, tetapi juga lebih ramah lingkungan. Dalam konteks global, inovasi ini sangat relevan dengan upaya transisi menuju energi bersih, terutama pada sektor kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin.
Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Mujiburrahman, menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. Ia menilai penelitian ini sebagai bukti nyata bahwa perguruan tinggi di daerah mampu berkontribusi dalam isu strategis nasional, khususnya dalam memperkuat kemandirian energi Indonesia.
Meski demikian, perjalanan inovasi ini masih panjang. Tim peneliti menargetkan tahap berikutnya berupa optimasi material agar lebih stabil dan efisien, sekaligus mendorong pengembangan ke skala produksi. Tantangan utama ke depan adalah memastikan teknologi ini tidak hanya unggul secara ilmiah, tetapi juga layak secara ekonomis untuk diproduksi massal.
Di tengah meningkatnya kebutuhan energi global dan tekanan untuk mengurangi emisi karbon, inovasi seperti ini menjadi harapan baru. Indonesia, dengan kekayaan biodiversitasnya, memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama dalam teknologi hijau berbasis sumber daya lokal.
Kini, pertanyaan pentingnya bukan lagi soal kemampuan berinovasi, melainkan seberapa cepat hasil riset anak bangsa dapat menembus pasar dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas.(**)






