Dinkes Aceh Fokuskan Pencegahan Kesehatan Ibu dan Anak Sejak Sebelum Kehamilan

Dinas Kesehatan Aceh terus memperkuat pelayanan kesehatan ibu dan anak melalui pendekatan yang menitikberatkan pada pencegahan sejak sebelum kehamilan hingga pemantauan tumbuh kembang anak. Upaya tersebut menjadi salah satu fokus dalam Pertemuan Monitoring dan Evaluasi Kabupaten/Kota dalam Pelayanan Kesehatan dan Gizi Keluarga yang berlangsung di Ayani Hotel, Banda Aceh, pada 5–7 Agustus 2026. Foto/Istimewa
Widget Artikel Samping

Prediksi Paling Akurat Liga - Liga Asia, Eropa ada di sini! lengkap, tajam, dan bikin kamu selalu update

Baca Selengkapnya

ACEH INDEPENDENT, BANDA ACEH – Dinas Kesehatan Aceh terus memperkuat pelayanan kesehatan ibu dan anak melalui pendekatan yang menitikberatkan pada pencegahan sejak sebelum kehamilan hingga pemantauan tumbuh kembang anak. Upaya tersebut menjadi salah satu fokus dalam Pertemuan Monitoring dan Evaluasi Kabupaten/Kota dalam Pelayanan Kesehatan dan Gizi Keluarga yang berlangsung di Ayani Hotel, Banda Aceh, pada 5–7 Agustus 2026.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Aceh, Ners. Yennizar, S.ST, S.Kep, M.Si, mengatakan, keberhasilan menurunkan kematian ibu, kematian bayi, dan stunting tidak hanya bergantung pada pelayanan saat persalinan, tetapi harus dimulai sejak masa sebelum kehamilan sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Intervensi ini dilakukan secara berkesinambungan mulai dari remaja putri, calon pengantin, pasangan usia subur, ibu hamil, ibu menyusui, bayi hingga balita.

Bacaan Lainnya
Widget Artikel Samping

Calon pengantin dan pasangan usia subur perlu menjalani skrining layak hamil untuk mendeteksi anemia, status gizi, penyakit menular, penyakit tidak menular, gangguan kesehatan jiwa hingga faktor risiko lainnya. Secara nasional, sasaran pelayanan kesehatan reproduksi sebelum hamil mencakup sekitar 4 juta calon pengantin dan 43 juta pasangan usia subur perempuan. Enam kondisi ideal untuk hamil sehat meliputi rentang usia ibu 20–35 tahun, status gizi normal, tidak anemia, jumlah anak kurang dari tiga, jarak kehamilan lebih dari dua tahun, serta tidak ada riwayat kehamilan buruk dan penyakit penyerta yang terkontrol.

Selain itu, ibu hamil didorong menjalani pemeriksaan antenatal atau ANC minimal enam kali, yang terdiri atas satu kali pada trimester pertama, dua kali pada trimester kedua, dan tiga kali pada trimester ketiga. Dua dari enam kunjungan tersebut harus dilakukan oleh dokter, termasuk pemeriksaan USG obstetri dasar terbatas, dengan total 12 komponen pemeriksaan mulai dari status gizi, tekanan darah, laboratorium, pemberian tablet tambah darah, konseling hingga skrining kesehatan jiwa.

Dinas Kesehatan Aceh juga menekankan pentingnya deteksi dini komplikasi kehamilan seperti risiko preeklamsia agar ibu hamil yang berisiko dapat segera dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut. Dalam pencegahan stunting, remaja putri didorong menjalani skrining anemia dan minum tablet tambah darah, sementara ibu hamil dengan kurang energi kronis (KEK) mendapat makanan tambahan berbahan pangan lokal minimal 120 hari.

Setelah bayi lahir, intervensi dilanjutkan dengan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan, MP-ASI kaya protein hewani, imunisasi lengkap, dan pemantauan pertumbuhan rutin setiap bulan di Posyandu. Balita dengan gangguan pertumbuhan akan diberikan makanan tambahan serta tata laksana dan rujukan jika diperlukan.

Yennizar menambahkan, skrining bayi baru lahir juga krusial untuk mendeteksi hipotiroid kongenital, defisiensi enzim G6PD, hiperplasia adrenal kongenital, penyakit jantung bawaan kritis, serta kelainan saluran empedu. Melalui kegiatan monitoring dan evaluasi di Banda Aceh ini, pemerintah kabupaten/kota didorong memperkuat pelayanan dari tingkat keluarga, Posyandu, Puskesmas hingga rumah sakit agar risiko dapat ditangani sedini mungkin.

Ikuti acehindependent di Google News

Dapatkan berita acehindependent terbaru dan terpercaya langsung melalui Google News.

Buka Google News

Pos terkait