Enam Bulan di Tenda, Korban Banjir Bireuen Harap Huntara

Fitriani bersama keluarganya bertahan di tenda darurat selama enam bulan pascabanjir di Desa Teupin Mane, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, Sabtu (2/5/2026). Mereka berharap segera mendapat bantuan hunian sementara dari pemerintah.
Widget Artikel Samping

Tujuh Muda-Mudi Pesta Miras dan Seks Diserahkan ke Kejari

Baca Selengkapnya

Bireuen – Derita panjang masih dirasakan para korban banjir besar yang melanda Kabupaten Bireuen beberapa waktu lalu. Hingga kini, sebagian warga yang kehilangan tempat tinggal belum juga mendapatkan hunian yang layak. Salah satunya adalah Fitriani bersama keluarganya yang masih bertahan hidup di bawah tenda darurat selama hampir enam bulan terakhir.

Di Desa Teupin Mane, Kecamatan Juli, Fitriani tinggal bersama suaminya, M. Dedi, serta dua anak mereka dalam kondisi serba terbatas. Tenda darurat berwarna jingga yang mereka tempati menjadi satu-satunya tempat berlindung sejak rumah mereka hanyut disapu arus Sungai Peusangan saat banjir melanda.

Bacaan Lainnya

Dengan suara bergetar dan air mata yang tak terbendung, Fitriani mengungkapkan harapannya kepada pemerintah daerah. Ia mengaku tidak pernah menolak bantuan hunian sementara (huntara), bahkan sangat berharap bantuan tersebut segera direalisasikan.

“Harapan kami kepada bupati dan gubernur, jangan lagi kami di tenda. Kami sudah tidak sanggup. Kalau hujan dan petir, kami sangat ketakutan,” ujar Fitriani saat ditemui, Sabtu (2/5/2026).

Selama berbulan-bulan tinggal di tenda, Fitriani dan keluarganya harus menghadapi berbagai kondisi yang tidak nyaman. Saat siang hari, panas terik membuat tenda terasa menyengat, sementara ketika hujan turun, mereka harus bergegas mencari perlindungan ke rumah warga sekitar.

“Setiap hujan kami harus lari ke rumah tetangga. Setelah reda, baru kembali lagi ke tenda,” tuturnya.

Trauma semakin mendalam setelah tenda yang mereka tempati pernah tersambar petir. Peristiwa tersebut membuat mereka dihantui rasa takut setiap kali cuaca memburuk.

“Tenda ini pernah disambar petir, mungkin karena ada besi. Sejak itu kami sangat takut kalau hujan turun,” katanya.

Lebih menyedihkan lagi, Fitriani mengaku belum pernah mendapatkan kunjungan dari pihak pemerintah setempat, baik dari jajaran Pemerintah Kabupaten Bireuen maupun dinas terkait. Bahkan, menurutnya, pihak kecamatan juga belum pernah datang langsung ke lokasi tempat mereka tinggal.

“Belum ada yang datang ke sini satu pun. Mungkin datang ke desa, tapi tidak sampai ke tempat kami,” ungkapnya.

Fitriani juga menyebut bahwa dirinya telah terdata sebagai korban kehilangan rumah akibat bencana. Namun hingga saat ini, belum ada bantuan yang diterima, baik berupa Dana Tunggu Hunian (DTH), jatah hidup (jadup), maupun bantuan perabot rumah tangga.

Di lokasi tersebut, tidak hanya keluarga Fitriani yang mengalami nasib serupa. Setidaknya dua kepala keluarga lainnya, termasuk kerabat dekatnya, juga masih bertahan hidup di tenda darurat yang berdampingan sejak bencana terjadi.

“Ada kakak saya dan mamak saya juga di sini. Kami semua tinggal di tenda,” ujarnya.

Kondisi ini menggambarkan masih adanya warga terdampak bencana yang belum tersentuh bantuan secara merata. Harapan besar kini tertuju pada pemerintah agar segera menghadirkan solusi nyata, baik melalui pembangunan hunian sementara maupun penyaluran bantuan yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup para korban.

Bagi Fitriani dan keluarga, kepastian tempat tinggal bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga soal rasa aman dan masa depan anak-anak mereka. Mereka berharap, penderitaan panjang ini segera berakhir dan mereka dapat kembali menjalani kehidupan yang lebih layak.(**)

Widget Artikel Samping

Prediksi Paling Akurat Liga-Liga Eropa ada di sini! lengkap, tajam, dan bikin kamu selalu update

Baca Selengkapnya

Pos terkait