Prediksi Paling Akurat Liga - Liga Asia, Eropa ada di sini! lengkap, tajam, dan bikin kamu selalu update
Baca SelengkapnyaACEH INDEPENDENT, Di USK, Gubernur Lemhannas RI Bahas Masa Depan Kepemimpinan dan Ketahanan Nasional di Era Digital
Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI), Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si., memberikan kuliah umum di Universitas Syiah Kuala (USK) dalam kegiatan Lemhannas Goes to Campus yang berlangsung di Gedung AAC Dayan Dawood, Banda Aceh, Selasa (3/11/2026).
Kuliah umum bertema “Transformasi Kepemimpinan dan Inovasi Mahasiswa: Mengawal Ketahanan Nasional demi Dampak Nyata bagi Negeri” tersebut diikuti sekitar 1.100 peserta dari kalangan sivitas akademika USK, unsur Forkopimda, serta pimpinan perguruan tinggi negeri dan swasta se-Aceh.
Dalam paparannya, Ace Hasan menyoroti perubahan geopolitik global, persaingan ekonomi, perkembangan teknologi, hingga disrupsi informasi yang menghadirkan tantangan baru bagi ketahanan nasional. Menurutnya, kondisi tersebut menuntut Indonesia mempersiapkan generasi pemimpin yang adaptif, inovatif, dan memiliki karakter kebangsaan yang kuat.
Ia menjelaskan bahwa persaingan antarnegara kini tidak hanya berlangsung dalam bidang militer, tetapi juga mencakup penguasaan teknologi, perdagangan, energi, dan rantai pasok global. Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), keamanan siber, dan ekonomi digital juga menjadi bagian dari dinamika geopolitik yang perlu dipahami generasi muda.
“Generasi muda adalah bagian dari ekosistem geopolitik. Setiap aspek kehidupan sehari-hari terhubung dengan dinamika kekuatan global,” ungkapnya.
Ace Hasan menegaskan bahwa mahasiswa tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi harus mampu menciptakan inovasi dan mengembangkan solusi untuk memperkuat kemandirian bangsa.
“Indonesia perlu mencipta, mengembangkan, menguasai, mengamankan teknologi,” tegasnya.
Dalam konteks kepemimpinan, ia mengingatkan bahwa mahasiswa perlu membangun kemampuan intelektual, integritas moral, kematangan emosional, serta kesadaran kebangsaan. Kepemimpinan masa depan harus mampu menjawab tantangan zaman sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Kepemimpinan tidak harus menunggu jabatan, melainkan dimulai dari keberanian mengambil tanggung jawab, peduli pada persoalan masyarakat, dan bersedia bekerja menciptakan perubahan,” pesannya.
Secara khusus, Ace Hasan menilai USK memiliki peluang besar mengembangkan inovasi berbasis lima potensi unggulan Aceh, yakni ekonomi kelautan dan perikanan, ketahanan pangan, energi baru terbarukan, teknologi kebencanaan dan mitigasi iklim, serta ekonomi kreatif dan digitalisasi UMKM.
Menurutnya, perguruan tinggi harus menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, pembentukan karakter, dan penciptaan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Keberhasilan kampus tidak cukup diukur dari jumlah publikasi atau penelitian, tetapi juga dari dampaknya terhadap pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.
Menutup kuliah umumnya, Ace Hasan mengajak mahasiswa USK menjadi generasi pemimpin yang berintegritas, inovatif, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia.
“Dari Universitas Syiah Kuala, mari kita teguhkan tekad untuk melahirkan pemimpin yang negarawan, inovator yang berintegritas, dan generasi muda yang siap mengawal ketahanan nasional, demi dampak nyata bagi negeri,” pungkasnya.
Sementara itu, Rektor USK, Prof. Mirza Tabrani, S.E., M.B.A., D.B.A., menyampaikan apresiasi kepada Lemhannas RI atas pelaksanaan kuliah umum tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat wawasan kebangsaan dan membangun karakter mahasiswa di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
Rektor mengingatkan bahwa kemajuan teknologi dan keterbukaan informasi menghadirkan tantangan terhadap karakter generasi muda. Menurutnya, tanpa wawasan kebangsaan yang kuat, generasi muda akan mudah kehilangan jati diri dan terpengaruh oleh berbagai paham yang tidak sejalan dengan nilai-nilai Pancasila.
“Wawasan kebangsaan bukan sekadar pengetahuan tentang sejarah dan simbol negara. Wawasan kebangsaan adalah kesadaran, sikap, dan tindakan nyata untuk menjaga persatuan, menghormati perbedaan, serta memastikan Indonesia tetap kuat di tengah berbagai tantangan,” ujar Rektor.
Prof. Mirza menjelaskan bahwa USK terus memperkuat pendidikan karakter melalui Unit Pendidikan Agama dan Pembinaan Karakter. Seluruh mahasiswa diwajibkan mengikuti mata kuliah pembinaan karakter selama satu semester sebagai bagian dari upaya membentuk lulusan yang berintegritas dan bertanggung jawab.
“Bagi kami, persoalan karakter adalah hal utama yang harus kita bentuk, bahkan sebelum kami membentuk mahasiswa dengan ilmu akademik. Kami meyakini bahwa ilmu yang tinggi tanpa karakter yang kokoh justru bisa menjadi berbahaya, sedangkan karakter yang baik akan menjadi landasan agar ilmu benar-benar bermanfaat,” tegasnya.
Selain kuliah umum, kegiatan ini juga ditandai dengan penandatanganan perpanjangan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara USK dan Lemhannas RI. Perpanjangan kerja sama ini menjadi wujud komitmen kedua lembaga untuk memperkuat kolaborasi dalam pengembangan kajian dan riset strategis, peningkatan kapasitas kepemimpinan, penguatan wawasan kebangsaan, serta ketahanan nasional.
Ikuti acehindependent di Google News
Dapatkan berita acehindependent terbaru dan terpercaya langsung melalui Google News.
Buka Google News






