Tiga puluh satu tahun lalu, tepatnya pada 1995, saya melangkahkan kaki ke Harian Analisa Medan dengan semangat seorang anak muda yang percaya bahwa surat kabar adalah denyut kehidupan sebuah kota.
Sejak hari itu, begitu banyak fase telah saya lalui bersama media ini, masa berjuang, masa berjaya, hingga kini perlahan memasuki senjakala yang tak terelakkan akibat derasnya perkembangan teknologi.
Kami pernah hidup di sebuah zaman yang sangat berbeda. Saat telepon genggam belum berada di genggaman setiap orang. Ketika internet masih terasa asing. Ketika Android dan media sosial belum lahir mengubah dunia. Foto-foto di surat kabar masih hitam putih, namun semangat para pekerjanya begitu berwarna.
Di masa itu, ruang redaksi dipenuhi gairah. Wartawan berkejaran dengan waktu, aroma tinta koran terasa akrab, dan suara mesin ketik maupun deru percetakan seperti irama yang menghidupkan malam. Kami bekerja dengan keterbatasan, tetapi justru di sanalah letak romantika perjuangannya.
Tanpa terasa, tiga dasawarsa lebih telah berlalu. Dari seluruh perjalanan panjang itu, mungkin sekitar dua puluh tahun adalah masa keemasan media cetak. Saat iklan menjadi napas kehidupan perusahaan. Halaman demi halaman dipenuhi promosi berbagai produk.
Pada hari-hari tertentu, Harian Analisa bisa terbit hingga 40 halaman. Pembaca menanti koran pagi dengan antusias, sementara pemasang iklan harus rela mengantre.
Namun waktu tidak pernah berhenti berjalan. Perkembangan teknologi perlahan mengubah segalanya. Internet datang membawa kecepatan yang tak mampu lagi dikejar media cetak. Media sosial seperti Facebook, Instagram, TikTok, dan berbagai platform digital lainnya tumbuh menjadi raksasa baru dalam penyebaran informasi. Berita kini hadir dalam hitungan detik, bisa diakses kapan saja, dan sering kali tanpa biaya.
Media cetak akhirnya tertinggal oleh zaman yang bergerak terlalu cepat.
Pendapatan iklan yang dulu melimpah mulai menyusut, lalu perlahan menghilang. Sementara biaya operasional tetap harus berjalan.
Untuk bertahan hidup, perusahaan -perusahaan media terpaksa melakukan efisiensi: mengurangi halaman, memangkas karyawan, bahkan menekan berbagai pengeluaran yang dulu tak pernah terpikirkan.
Saya masih ingat ketika Harian Analisa terbit hingga 36 sampai 40 halaman pada awal pekan, dan rata-rata 24 halaman setiap hari. Kini, koran itu hadir maksimal 12 halaman, nyaris tanpa iklan. Sebuah perubahan yang terasa begitu sunyi bagi mereka yang pernah menikmati masa jayanya.
Dan hari ini, dengan hati yang lapang dan kepala yang tegak, kami harus mengatakan: izin, kami pindah untuk efisiensi. Kantor Harian Analisa kini berpindah ke Kompleks CBD Polonia Medan, menempati dua unit ruko.
Bagi saya pribadi, gedung Harian Analisa di Kesawan bukan sekadar tempat bekerja. Ia adalah rumah kedua. Di sanalah begitu banyak cerita hidup tertinggal, tawa, lelah, harapan, kegembiraan, bahkan kecemasan.
Saya tumbuh bersama media ini. Menyaksikannya berdiri gagah, berjaya, lalu perlahan mulai memasuki pasang surut.
Ada rasa sesak ketika melihat lorong-lorong yang dulu sibuk kini mulai sunyi. Ada kenangan yang sulit dijelaskan ketika menyadari bahwa sebuah era perlahan sedang menutup tirainya.**
Sumber Facebook Anthony Limtan






