Menurut Azhari, ijtima’ atau konjungsi awal Ramadhan terjadi pada Selasa (17/2/2026) pukul 19.01.07 WIB. Namun, secara astronomis posisi bulan pada saat matahari terbenam masih berada di bawah ufuk, sehingga tidak memenuhi kriteria visibilitas hilal.
Widget Artikel Samping
“Berdasarkan data hisab, pada 29 Sya’ban 1447 H posisi hilal di Markaz Observatorium Tgk Chiek Kuta Karang, Lhoknga, Aceh Besar, berada pada ketinggian minus 0,97 derajat dengan elongasi geosentrik 0,93 derajat. Artinya, hilal belum mungkin terlihat,” jelas Azhari.
Ia menegaskan, rukyatul hilal tetap menjadi salah satu metode penting dalam penentuan awal bulan Hijriah. Namun, dalam kondisi tertentu ketika secara perhitungan astronomi hilal masih berada di bawah horizon, maka pengamatan tidak akan membuahkan hasil.
Karena itu, Kanwil Kemenag Aceh tidak menggelar rukyat hilal seperti biasanya. Sebagai gantinya, kegiatan di Markaz Observatorium Tgk Chiek Kuta Karang difokuskan pada edukasi astronomi Islam serta penyampaian informasi resmi kepada masyarakat terkait posisi hilal dan estimasi awal Ramadhan.
Ketua Tim Falakiyah Kanwil Kemenag Aceh, Dr. Alfirdaus Putra, SHI, MH, menjelaskan bahwa secara teknis bulan telah lebih dahulu terbenam sebelum matahari. Pada 29 Sya’ban, matahari terbenam pukul 18.52 WIB dengan azimut 258 derajat, sedangkan bulan terbenam pukul 18.48 WIB dengan azimut 257 derajat dari utara searah jarum jam.
“Dengan posisi seperti ini, mustahil hilal dapat dirukyat. Secara ilmiah, objek yang sudah berada di bawah ufuk tentu tidak dapat diamati,” ujarnya.
Berdasarkan perhitungan tersebut, 1 Ramadhan 1447 H di Aceh diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Azhari pun mengajak seluruh umat Islam di Aceh untuk menyambut bulan suci dengan penuh kesiapan.
“Kami mengucapkan selamat menyambut Ramadhan 1447 H. Mari kita persiapkan diri, baik secara fisik maupun mental, untuk menjalani ibadah puasa dan amalan lainnya dengan optimal,” tutupnya.
Dengan kepastian posisi hilal yang masih di bawah ufuk, masyarakat diharapkan dapat memahami bahwa penentuan awal Ramadhan tidak hanya berlandaskan pengamatan, tetapi juga didukung perhitungan astronomi yang akurat dan terukur.(**)
Ikuti acehindependent di Google News
Dapatkan berita acehindependent terbaru dan terpercaya langsung melalui Google News.
Buka Google News