Illiza Buka DEDIKASI Vol. I, Dorong Adat Tetap Relevan di Tengah Perubahan

Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal membuka kegiatan DEDIKASI Vol. I yang digelar di Museum Tsunami Aceh, Banda Aceh, pada 29–31 Agustus 2026. Kegiatan tersebut menjadi ruang dialog dan refleksi bersama mengenai pentingnya menjaga adat, budaya, serta nilai-nilai syariat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari jati diri masyarakat Aceh. Foto/Istimewa
Widget Artikel Samping

Prediksi Paling Akurat Liga - Liga Asia, Eropa ada di sini! lengkap, tajam, dan bikin kamu selalu update

Baca Selengkapnya

ACEH INDEPENDENT,  BANDA ACEH — Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal membuka kegiatan DEDIKASI Vol. I yang digelar di Museum Tsunami Aceh, Banda Aceh, pada 29–31 Agustus 2026. Kegiatan tersebut menjadi ruang dialog dan refleksi bersama mengenai pentingnya menjaga adat, budaya, serta nilai-nilai syariat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari jati diri masyarakat Aceh.

Dalam kesempatan tersebut, Illiza menyampaikan bahwa menjaga adat dan tradisi tidak berarti menutup diri terhadap perubahan zaman. Sebaliknya, tradisi perlu terus dirawat, dikembangkan, dan ditempatkan dalam konteks kehidupan masyarakat yang terus mengalami perubahan.

Bacaan Lainnya
Widget Artikel Samping

Menurutnya, tantangan dalam menjaga adat dan budaya saat ini bukan semata-mata bagaimana mempertahankan tradisi dalam bentuknya yang lama, tetapi bagaimana memastikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan dapat diterima oleh generasi masa kini maupun generasi yang akan datang.

“Menjaga adat bukan berarti menolak perubahan, tetapi bagaimana tradisi tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman,” demikian pesan yang disampaikan Illiza dalam pembukaan kegiatan tersebut.

Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa perkembangan zaman tidak harus dipertentangkan dengan adat dan budaya. Kemajuan teknologi, perubahan pola komunikasi, serta dinamika kehidupan sosial justru dapat menjadi peluang untuk memperkenalkan dan memperkuat kembali nilai-nilai kearifan lokal melalui pendekatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan generasi sekarang.

DEDIKASI Vol. I diharapkan dapat menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan berbagai pemikiran, pengalaman, dan gagasan mengenai masa depan adat dan budaya Aceh. Dialog yang berlangsung selama tiga hari tersebut menjadi momentum untuk melihat kembali posisi adat dalam kehidupan masyarakat sekaligus membicarakan bagaimana warisan budaya dapat terus dipertahankan tanpa kehilangan relevansinya.

Bagi Aceh, adat bukan sekadar rangkaian tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Di dalamnya terdapat nilai-nilai sosial, kebersamaan, penghormatan terhadap sesama, serta berbagai prinsip kehidupan yang telah menjadi bagian dari perjalanan masyarakat Aceh. Karena itu, pelestarian adat memiliki makna yang jauh lebih luas, yakni menjaga identitas dan karakter masyarakat.

Hal yang sama juga berlaku terhadap budaya dan nilai-nilai syariat. Ketiganya memiliki keterkaitan erat dalam membentuk kehidupan sosial masyarakat Aceh. Ketika perubahan zaman berlangsung begitu cepat, penguatan terhadap nilai-nilai tersebut menjadi penting agar modernisasi tidak membuat generasi muda kehilangan akar sejarah dan kebudayaannya.

Illiza berharap dialog dalam DEDIKASI Vol. I tidak berhenti sebatas kegiatan seremonial, tetapi mampu melahirkan gagasan dan langkah nyata untuk terus merawat adat, budaya, serta nilai-nilai syariat. Menurutnya, upaya tersebut membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari pemerintah, tokoh adat, tokoh agama, budayawan, akademisi, komunitas, generasi muda, hingga masyarakat secara luas.

Kolaborasi menjadi kata kunci dalam upaya menjaga warisan budaya. Pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri dalam mempertahankan adat dan budaya. Dibutuhkan ruang partisipasi yang memungkinkan masyarakat menjadi bagian aktif dalam proses pelestarian sekaligus pengembangan kebudayaan.

Terlebih lagi, generasi muda memiliki posisi strategis dalam keberlanjutan adat dan budaya Aceh. Mereka merupakan generasi yang akan menerima, meneruskan, sekaligus memberikan warna baru terhadap warisan yang telah ditinggalkan para pendahulu.

Karena itu, pendekatan terhadap generasi muda juga perlu disesuaikan dengan perkembangan zaman. Nilai-nilai adat dan budaya dapat diperkenalkan melalui pendidikan, kegiatan kreatif, ruang komunitas, teknologi digital, hingga berbagai platform media sosial. Dengan cara tersebut, adat tidak hanya menjadi sesuatu yang dikenang, tetapi tetap hadir dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pemilihan Museum Tsunami Aceh sebagai lokasi kegiatan juga memberikan nuansa tersendiri. Museum tersebut bukan hanya menjadi tempat untuk mengenang sejarah dan tragedi tsunami, tetapi juga menjadi salah satu ruang penting untuk melihat bagaimana masyarakat Aceh mampu bangkit, menjaga identitas, dan menata masa depan.

Dalam konteks tersebut, DEDIKASI Vol. I menjadi momentum untuk menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Warisan yang telah dibangun oleh generasi terdahulu perlu dijaga, sementara generasi masa kini memiliki tanggung jawab untuk meneruskannya dengan cara yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Illiza menegaskan harapannya agar dialog yang berlangsung selama kegiatan tersebut dapat menjadi ruang bersama untuk memperkuat komitmen dalam merawat adat, budaya, dan nilai-nilai syariat yang menjadi bagian dari identitas Aceh.

Ia juga berharap berbagai gagasan yang lahir dari kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, khususnya dalam membangun Banda Aceh sebagai kota yang maju dan terbuka terhadap perubahan, namun tetap memiliki karakter serta identitas yang kuat.

Semangat tersebut sejalan dengan upaya membangun Banda Aceh sebagai kota yang mengedepankan kolaborasi. Kemajuan kota tidak hanya diukur dari pembangunan fisik dan perkembangan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan masyarakat dalam menjaga nilai, sejarah, budaya, dan kearifan lokal.

Dengan demikian, DEDIKASI Vol. I diharapkan menjadi salah satu langkah untuk memperkuat kesadaran bersama bahwa adat dan budaya bukanlah sesuatu yang harus ditempatkan berlawanan dengan modernitas. Keduanya dapat berjalan beriringan selama nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya terus dijaga.

Melalui dialog, kolaborasi, dan keterlibatan berbagai elemen masyarakat, adat dan budaya Aceh diharapkan tetap tumbuh, hidup, dan relevan di tengah perubahan zaman. Bukan sekadar menjadi warisan masa lalu, tetapi menjadi nilai yang terus memberi arah bagi kehidupan masyarakat Aceh di masa depan.(**)

Ikuti acehindependent di Google News

Dapatkan berita acehindependent terbaru dan terpercaya langsung melalui Google News.

Buka Google News

Pos terkait