“Banda Aceh Academy ini merupakan terobosan kita untuk mewujudkan visi dan misi wali kota dan wakil wali kota, maka ini harus menuntut keseriusan dari kita bersama,” ucap Illiza.
Widget Artikel Samping
Menurutnya, penyusunan kurikulum BAA tidak hanya mengandalkan pandangan internal penyelenggara. Kurikulum harus dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan industri dan perkembangan dunia kerja sehingga keterampilan yang diperoleh peserta dapat diterapkan sesuai kebutuhan lapangan.
Ia menyampaikan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam pengembangan program tersebut. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri, melainkan perlu melibatkan dunia industri, akademisi, komunitas, serta sektor perbankan untuk memperkuat pelaksanaan Banda Aceh Academy.
Illiza juga mendorong agar BAA tidak hanya fokus pada pelatihan keterampilan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem lapangan pekerjaan di Kota Banda Aceh. Dengan demikian, program ini diharapkan mampu membuka peluang bagi masyarakat untuk memperoleh pekerjaan maupun mengembangkan usaha.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa perubahan kebutuhan tenaga kerja dan perkembangan menuntut zaman sumber daya manusia untuk terus beradaptasi. Oleh karena itu, kurikulum dan modul BAA perlu dirancang secara relevan, fleksibel, serta mampu menjawab tantangan dunia kerja di masa mendatang.
Melalui FGD tersebut, Pemerintah Kota Banda Aceh berharap proses peninjauan dan pendalaman kurikulum dapat menghasilkan program pelatihan yang lebih terarah, sesuai kebutuhan pasar kerja, serta didukung oleh keterlibatan berbagai pemangku kepentingan. (Zie)
Ikuti acehindependent di Google News
Dapatkan berita acehindependent terbaru dan terpercaya langsung melalui Google News.
Buka Google News