Irigasi Gunung Pudung Tersumbat, Petani Aceh Selatan Terancam Gagal Tanam

Kondisi irigasi free intake Gunung Pudung di Kecamatan Kluet Utara, Aceh Selatan, yang mengalami sedimentasi pada pintu air sehingga distribusi air ke areal persawahan masyarakat terganggu dan mengancam musim tanam petani.
Widget Artikel Samping

Tujuh Muda-Mudi Pesta Miras dan Seks Diserahkan ke Kejari

Baca Selengkapnya

Tapak Tuan – Kondisi infrastruktur pertanian di Kabupaten Aceh Selatan kembali menjadi perhatian serius setelah terganggunya fungsi irigasi free intake Gunung Pudung di Kecamatan Kluet Utara. Saluran irigasi yang selama ini menjadi tumpuan utama pasokan air bagi areal persawahan masyarakat dilaporkan tidak lagi bekerja optimal akibat sedimentasi yang menumpuk pada bagian pintu air.

Akibat kondisi tersebut, distribusi air menuju lahan pertanian masyarakat terganggu bahkan disebut tidak mampu lagi mengairi sawah secara maksimal. Dampaknya mulai dirasakan langsung oleh petani yang kini menghadapi ancaman gagal tanam di tengah persiapan musim tanam yang telah dilakukan.

Bacaan Lainnya

Ketua Fraksi Partai Nanggroe Aceh (PNA) sekaligus Sekretaris Komisi III DPRK Aceh Selatan, Arjuna, menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi tersebut. Ia menilai lambatnya respons dari instansi terkait, khususnya Dinas Pengairan Provinsi Aceh, menjadi salah satu penyebab utama persoalan yang terus berlarut tanpa penyelesaian nyata.

Menurut Arjuna, sedimentasi yang menumpuk pada pintu air menyebabkan debit air tidak dapat mengalir secara normal menuju kawasan persawahan masyarakat. Situasi itu, kata dia, sudah berlangsung cukup lama dan semakin mengkhawatirkan karena belum menunjukkan tanda-tanda adanya penanganan serius.

“Akibat sedimentasi yang menumpuk pada pintu air, aliran air tidak lagi mampu mengairi persawahan masyarakat secara maksimal. Kondisi ini sudah berlangsung kurang lebih selama satu tahun terakhir,” kata Arjuna, Jumat, 29 Mei 2026.

Ia menegaskan, persoalan irigasi tersebut bukan kejadian baru. Dalam beberapa tahun terakhir, petani disebut berulang kali menghadapi masalah serupa. Namun hingga kini belum ada langkah permanen atau pemeliharaan berkala yang mampu memastikan irigasi tetap berfungsi optimal.

Arjuna bahkan membandingkan kondisi saat ini dengan masa kepemimpinan mantan Bupati Aceh Selatan, Husen, yang menurutnya pernah memberikan perhatian serius terhadap persoalan pengairan melalui program normalisasi irigasi. Program tersebut dinilai sempat membantu menjaga kelancaran distribusi air ke areal pertanian warga.

“Ironisnya, perhatian serius terhadap irigasi ini hanya pernah dilakukan pada masa kepemimpinan Bupati Aceh Selatan Husen melalui program normalisasi. Setelah itu penanganannya terkesan tidak maksimal,” ujarnya.

Kondisi yang terus dibiarkan, lanjut Arjuna, berpotensi menimbulkan dampak ekonomi bagi masyarakat tani. Sebab, sebagian petani di Kecamatan Kluet Utara telah mengeluarkan biaya untuk membajak sawah, membeli benih, hingga mempersiapkan lahan tanam. Namun upaya tersebut kini terancam sia-sia karena minimnya pasokan air membuat sawah mengering.

Di sejumlah titik, hamparan sawah yang seharusnya mulai ditanami padi justru terlihat kering dan retak akibat tidak teraliri air. Situasi ini menambah keresahan petani karena keterlambatan musim tanam bisa berdampak langsung pada hasil produksi dan pendapatan keluarga.

“Petani sudah mengeluarkan biaya untuk pengolahan lahan dan penyediaan benih. Namun karena air tidak mengalir, sawah menjadi kering kerontang dan penanaman terancam gagal dilakukan,” kata Arjuna.

Ia meminta pemerintah provinsi melalui instansi terkait segera turun tangan melakukan normalisasi dan pembersihan sedimentasi pada pintu air free intake Gunung Pudung agar aktivitas pertanian masyarakat tidak semakin terganggu. Menurutnya, keberadaan irigasi bukan hanya fasilitas teknis, tetapi urat nadi perekonomian masyarakat pedesaan yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian.

Arjuna juga berharap persoalan tersebut tidak hanya ditangani secara sementara, melainkan melalui perawatan berkala dan pengawasan berkelanjutan agar sedimentasi tidak kembali menghambat distribusi air di masa mendatang.

Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa tindakan cepat, petani dikhawatirkan akan mengalami kerugian lebih besar, termasuk kehilangan momentum musim tanam yang berdampak pada ketahanan pangan masyarakat setempat.(**)

Widget Artikel Samping

Prediksi Paling Akurat Liga-Liga Eropa ada di sini! lengkap, tajam, dan bikin kamu selalu update

Baca Selengkapnya

Pos terkait