Mengenang Hasballah M. Saad, Menteri HAM Gus Dur Pembela Rakyat Aceh

Dr. Hasballah M. Saad,
Widget Artikel Samping

Tujuh Muda-Mudi Pesta Miras dan Seks Diserahkan ke Kejari

Baca Selengkapnya

ACEH – Mengenang akhir tahun 1990-an bagi masyarakat Aceh adalah mengenang lembaran sejarah yang penuh dengan linangan air mata dan konflik bersenjata. Di masa-masa kelam ketika berteriak soal keadilan bisa mengancam nyawa, muncul seorang putra daerah yang memilih jalan berani: menjadi tameng kemanusiaan bagi rakyatnya.

Ia adalah Dr. Hasballah M. Saad, jurnalisme sejarah mencatatnya sebagai salah satu singa podium kemanusiaan asal Serambi Mekah.

Bacaan Lainnya

Lahir pada 14 Juli 1948, tokoh intelektual asal Pidie ini nekat mempertaruhkan keselamatan dirinya demi menyuarakan perdamaian, hingga akhirnya rekam jejak yang bersih itu membawanya ke kursi kabinet sebagai Menteri Negara Urusan Hak Asasi Manusia (HAM) andalan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Nekat Mendirikan Komite HAM di Tengah Bara Konflik

Jiwa petarung Hasballah sebenarnya sudah terbentuk sejak ia memimpin gerakan mahasiswa sebagai Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) pada tahun 1978. Lulus dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, ia sempat mengabdi sebagai dosen di almamaternya.

Namun, nuraninya terusik ketika melihat tanah kelahirannya membara akibat konflik berkepanjangan antara pemerintah pusat dan gerakan lokal. Menolak tinggal diam di dalam menara gading akademik, Hasballah mengambil langkah ekstrem pada masa itu: Mendirikan Komite HAM Aceh.

Lembaga ini menjadi institusi garda depan yang berani mendokumentasikan, menginvestigasi, dan menyuarakan pelanggaran-pelanggaran kemanusiaan yang menimpa warga sipil di Aceh. Di era di mana isu HAM masih menjadi hal yang sangat tabu dan berbahaya, tindakan Hasballah ini sama saja dengan menyerahkan lehernya ke garis depan.

Menjadi Tangan Kanan Gus Dur untuk Menyembuhkan Luka Aceh

Keberanian dan ketulusan Hasballah didengar oleh KH Abdurrahman Wahid. Saat Gus Dur terpilih menjadi Presiden RI pada tahun 1999, sang presiden tahu betul bahwa salah satu pekerjaan rumah terbesar bangsa adalah menyembuhkan luka konflik di daerah-daerah seperti Aceh.

Gus Dur kemudian menarik Hasballah—yang kala itu baru saja terpilih sebagai anggota DPR RI hasil Pemilu 1999—untuk masuk ke dalam Kabinet Persatuan Nasional sebagai Menteri Negara Urusan HAM.

Gus Dur sengaja memilih putra asli Aceh ini karena percaya bahwa pendekatan keamanan yang represif harus digantikan dengan pendekatan dialog dan kemanusiaan. Selama menjabat (1999–2000), Hasballah menjadi jembatan krusial yang meredam ketegangan politik dan membuka ruang komunikasi agar suara rakyat Aceh didengar langsung di istana negara.

Warisan Abadi: Dari Pesantren hingga Universitas

Meskipun panggung politik nasional membesarkan namanya, Hasballah tidak pernah melupakan akar rumput. Ia percaya bahwa cara terbaik menyelamatkan masa depan anak-anak Aceh pasca-konflik adalah melalui jalur pendidikan.

Sebelum dan sesudah menjabat menteri, suami dari Darmawati ini mendedikasikan waktu dan hartanya untuk membangun berbagai lembaga pendidikan yang megah dan masih hidup memberikan manfaat hingga hari ini.

Beberapa warisan hidup Dr. Hasballah M. Saad yang tersebar di Aceh hingga Jakarta meliputi:

Dayah (Pesantren) Al-Furqan di Sigli, benteng moral generasi muda.

Universitas Jabal Ghafur (Unigha) di Pidie, oase pendidikan tinggi bagi ribuan mahasiswa lokal.

Yayasan Pendidikan Putra Harapan Bangsa di Jakarta.

Yayasan Modal Bangsa di Jakarta.

Akhir Hayat Sang Guru Bangsa

Perjuangan sang pembela HAM ini akhirnya harus terhenti karena urusan kesehatan. Pada 23 Agustus 2011, Dr. Hasballah M. Saad menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Mitra Keluarga Bekasi Barat, Jawa Barat, akibat serangan jantung di usia 63 tahun.

Sesuai dengan wasiat dan cintanya yang mendalam pada tanah kelahirannya, jenazah almarhum diterbangkan kembali ke Serambi Mekah dan dimakamkan dengan penuh kehormatan di Gampong Lameu, Kota Bakti, Pidie, Aceh.

Dr. Hasballah M. Saad mungkin telah tiada, namun namanya melesat dalam sejarah sebagai sosok menteri yang melintasi bahaya demi kedamaian. Kampus-kampus, dayah, dan ruang-ruang diskusi HAM yang ia dirikan adalah saksi bisu bahwa warisannya akan tetap hidup dan abadi mengalirkan pahala.

Sumber: Wikipedia

Widget Artikel Samping

Prediksi Paling Akurat Liga-Liga Eropa ada di sini! lengkap, tajam, dan bikin kamu selalu update

Baca Selengkapnya

Pos terkait