ACEH INDEPENDENT, LOS ANGELES – Sorotan dunia sepak bola kini mengarah ke Amerika Serikat, dengan para penyelenggara berharap antusiasme terhadap Piala Dunia 2026 mampu mengalahkan berbagai kekhawatiran terkait harga tiket, visa, dan isu lainnya yang mewarnai persiapan turnamen.
Setelah Meksiko sebagai salah satu tuan rumah bersama membuka pesta sepak bola dunia pada Kamis (12/6), Kanada menyambut laga perdana mereka di Toronto pada Jumat. Kini giliran Amerika Serikat mengambil panggung utama, dengan upacara pembukaan di Stadion SoFi, Los Angeles, yang menampilkan penyanyi pop Katy Perry sebelum laga pembuka tim nasional AS menghadapi Paraguay.
Meski menjadi salah satu negara tuan rumah, sepak bola masih belum menjadi olahraga utama di Amerika Serikat. Survei menunjukkan hanya sekitar sepertiga warga Amerika yang berencana mengikuti Piala Dunia, angka yang masih jauh di bawah minat masyarakat di banyak negara peserta lainnya. Dalam sepekan terakhir, perhatian publik Amerika bahkan lebih banyak tertuju pada kiprah New York Knicks di final NBA.
Di kawasan LA Live, Los Angeles, sejumlah pengunjung yang ditemui Reuters mengaku datang bukan karena kecintaan terhadap sepak bola, melainkan untuk melihat mantan pemain NFL yang hadir dalam acara bertema Piala Dunia tersebut.
Namun demikian, gairah sepak bola di Negeri Paman Sam terus berkembang. Ribuan penggemar dari berbagai negara mulai memadati kota-kota besar. Di Manhattan, New York, suasana jalanan berubah menjadi lautan warna ketika pendukung Knicks berbaur dengan suporter Brasil berbaju kuning yang menabuh drum, serta penggemar Meksiko yang merayakan kemenangan pertama tim mereka di turnamen ini.
Wali Kota New York, Zohran Mamdani, mengajak warga untuk menghadiri festival penggemar dan berbagai pameran sepak bola yang digelar di seluruh kota.
“Ketika kita merayakan Piala Dunia, kita merayakan olahraga rakyat dan para pekerja yang memainkannya. Ini adalah momen langka yang menyatukan dunia,” ujar Mamdani, yang dikenal sebagai penggemar klub Arsenal.
Suporter Mulai Memeriahkan Kota-Kota Tuan Rumah
Di Boston, para pendukung Skotlandia menghibur warga sekitar dengan pertunjukan musik bagpipe pada pagi hari di dekat tempat mereka menginap. Sementara itu di Los Angeles, para suporter Amerika Serikat menuju stadion dengan balutan warna merah, putih, dan biru sambil meneriakkan slogan “USA, USA”.
Meski atmosfer turnamen mulai terasa, sejumlah persoalan masih membayangi pelaksanaannya. Salah satu yang paling banyak disorot adalah kebijakan visa dan imigrasi di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.
Beberapa penggemar mengaku ragu atau bahkan membatalkan perjalanan ke Amerika Serikat karena khawatir dengan berbagai laporan mengenai pembatasan masuk dan kebijakan imigrasi yang ketat. Seorang wasit asal Somalia bahkan dilaporkan tidak diizinkan memasuki negara tersebut pekan ini.
Selain itu, banyak suporter mengeluhkan tingginya biaya untuk menghadiri Piala Dunia. Harga tiket pertandingan, akomodasi, dan transportasi mengalami lonjakan signifikan sehingga dinilai memberatkan para penggemar.
Situasi geopolitik juga sempat memunculkan tantangan tersendiri. Tim nasional Iran, misalnya, harus menjalani persiapan khusus setelah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran awal tahun ini. Solusi yang akhirnya diambil adalah menempatkan tim Iran berlatih di Meksiko dan melintasi perbatasan menuju Amerika Serikat saat menjalani pertandingan.
Masalah lain yang belum menemukan kejelasan adalah laga Iran melawan Mesir di Seattle pada 26 Juni mendatang. Pertandingan tersebut direncanakan sebagai laga bertema Pride LGBT oleh panitia lokal, sesuatu yang mendapat penolakan keras dari federasi sepak bola kedua negara.
Cuaca Panas Jadi Tantangan
Selain isu politik dan biaya, cuaca panas musim panas Amerika Utara juga menjadi perhatian.
Seorang pendukung Brasil, David Scarton, yang berada di New York saat suhu mencapai 34 derajat Celsius, mengatakan tim-tim dari negara beriklim tropis kemungkinan lebih mudah beradaptasi dibanding negara-negara Nordik.
“Kami terbiasa bermain sepanjang musim panas. Brasil seharusnya baik-baik saja, tetapi tim seperti Norwegia atau Swedia mungkin akan kesulitan,” katanya.
Di tengah berbagai kekhawatiran tersebut, banyak penggemar tetap memilih menikmati momen bersejarah ini.
Gabriel Aguilar, pendukung tim AS berusia 67 tahun yang hadir di Los Angeles, mengaku telah menunggu hari ini selama lebih dari tiga dekade.
“Saya hadir di Piala Dunia 1994 di Texas. Saat itu antusiasme dan rasa kebanggaan seperti sekarang belum terasa. Suatu hari nanti kami akan seperti para penggemar Meksiko yang benar-benar menghidupkan atmosfer turnamen. Kami memang belum sampai ke sana, tetapi kami semakin mendekatinya,” ujarnya.
Dengan pertandingan-pertandingan besar yang mulai bergulir dan jutaan mata tertuju ke Amerika Serikat, Piala Dunia 2026 menjadi ujian sekaligus peluang bagi negara tersebut untuk menunjukkan bahwa sepak bola terus berkembang dan semakin mendapat tempat di hati masyarakatnya.







