Prediksi Paling Akurat Liga - Liga Asia, Eropa ada di sini! lengkap, tajam, dan bikin kamu selalu update
Baca SelengkapnyaACEH INDEPENDENT, Sore itu, Bunga kembali menerima pesan dari Riza. Awalnya, percakapan mereka terdengar biasa. Riza mengatakan bahwa ada seorang duda yang dikenalnya dan berniat mencari istri. Namun, begitu mendengar hal itu, Bunga langsung merasa tidak nyaman.
“Jangan, Bang. Bunga takut,” jawabnya.
Bunga bukan takut kepada pernikahan. Yang membuatnya takut adalah kemungkinan kembali terjebak dalam keadaan yang sama. Ia masih menyimpan harapan untuk kembali kepada Kumbang, tetapi jalan untuk menuju ke sana terasa begitu rumit.
Riza kemudian menjelaskan bahwa duda yang dimaksud adalah seseorang yang istrinya telah meninggal. Orang itu bahkan sudah memiliki kehidupan yang cukup mapan.
Namun Bunga tetap menolak.
“Bunga nggak percaya diri. Nggak enak hati,” katanya.
Baginya, menikah dengan orang lain bukanlah perkara sederhana. Ia takut jika suatu hari orang tersebut tidak mau melepaskannya lagi. Bunga hanya ingin menemukan jalan yang benar untuk menyelesaikan persoalannya dengan Kumbang.
Karena itu, pembicaraan mereka kemudian beralih kepada sesuatu yang jauh lebih serius. Bunga bertanya apakah Riza mengetahui tempat atau dayah yang dapat membantu urusan pernikahan secara agama.
“Ada dayah,” jawab Riza.
Bunga langsung bertanya di mana tempatnya dan bagaimana prosedurnya. Apakah mereka bisa datang langsung, atau harus mendaftar terlebih dahulu? Bunga mengaku bahwa dirinya sedang mencari tempat karena ia dan Kumbang tidak mengetahui harus meminta bantuan kepada siapa. Ia bahkan mengatakan bahwa jika ada nomor yang bisa dihubungi, ia ingin mendapatkan informasi terlebih dahulu agar tidak pergi sendirian tanpa mengetahui apa-apa.
Riza kemudian mengingatkan Bunga agar tidak pergi sendiri.
“Jangan pergi sendiri,” pesannya.
Bunga mengiyakan. Tetapi persoalan yang mereka bicarakan bukan perkara ringan. Bunga kemudian menjelaskan bahwa dirinya dan Kumbang sebelumnya sudah berkonsultasi mengenai persoalan talak yang mereka alami. Menurut Bunga, mereka bahkan pernah berkonsultasi dengan pihak yang dianggap memahami persoalan agama. Ada pertimbangan mengenai keadaan mereka, terutama karena anak-anak mereka masih kecil. Bunga mengatakan bahwa masa iddahnya juga telah selesai beberapa waktu sebelumnya. Namun, persoalannya sekarang adalah mencari jalan yang benar dan sah apabila mereka memang ingin kembali bersama. Ia tidak ingin mengambil keputusan secara sembarangan.
Riza pun mengingatkan bahwa persoalan pernikahan dalam Islam memiliki aturan yang harus dihormati.
“Semua sudah diatur dalam hukum Islam,” katanya.
Bunga memahami hal itu. Justru karena itulah ia tidak mau membuat perjanjian semacam “hitam di atas putih” dengan seseorang hanya untuk memastikan bahwa setelah menikah orang tersebut harus menceraikannya kembali. Menurut Bunga, hal seperti itu tidak bisa dipaksakan. Pernikahan harus dilakukan oleh dua orang yang sama-sama sadar dan memahami apa yang mereka lakukan.
Di balik semua percakapan itu, sebenarnya ada satu hal yang terus dipikirkan Bunga. Ia masih ingin kembali kepada Kumbang. Namun ia juga takut salah mengambil langkah. Ia takut mencari jalan pintas. Ia takut bertemu orang yang salah. Dan yang paling ia takutkan, setelah semua pengorbanan dan perjalanan panjang yang telah dilaluinya, justru muncul masalah baru yang membuatnya semakin jauh dari keluarganya.
Riza akhirnya menyarankan agar Bunga bertemu langsung dengan seorang tengku atau orang yang benar-benar memahami persoalan tersebut. Bunga mengaku bahwa ia sebenarnya sudah pernah berkonsultasi beberapa bulan sebelumnya. Saat itu, ia diminta menyelesaikan masa iddah terlebih dahulu sebelum membicarakan langkah selanjutnya. Kini masa tersebut telah dilaluinya. Yang tersisa hanyalah kebingungan tentang ke mana harus pergi dan siapa yang dapat memberikan penjelasan yang benar.
Bunga akhirnya berkata bahwa ia akan mencari informasi sendiri. Bukan karena tidak membutuhkan bantuan, tetapi karena ia sadar bahwa keputusan sebesar ini tidak boleh dibuat terburu-buru. Sore itu, percakapan mereka berakhir sederhana. Namun bagi Bunga, persoalan itu belum selesai. Di satu sisi ada masa lalu yang masih ingin ia perjuangkan. Di sisi lain ada aturan agama yang tidak ingin ia langgar. Dan di antara keduanya, Bunga hanya ingin menemukan satu hal: jalan pulang yang benar, tanpa harus mengorbankan dirinya sendiri.
Ikuti acehindependent di Google News
Dapatkan berita acehindependent terbaru dan terpercaya langsung melalui Google News.
Buka Google News






