Prediksi Paling Akurat Liga - Liga Asia, Eropa ada di sini! lengkap, tajam, dan bikin kamu selalu update
Baca SelengkapnyaACEH INDEPENDENT, ACEH TAMIANG — Hancurnya jembatan penghubung Kecamatan Sekerak dan Kecamatan Bandarpusaka akibat dihantam banjir bandang sekitar setahun lalu hingga kini masih menyisakan persoalan bagi masyarakat.
Ketiadaan jembatan tersebut membuat warga dari kedua kecamatan terpaksa mengandalkan perahu getek tradisional untuk menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari, mulai dari mengantar anak sekolah, berbelanja, berdagang, hingga mengangkut hasil pertanian.
Pantauan di lokasi pada Minggu (4/10/2026), terlihat antrean warga yang menggunakan jasa perahu getek untuk menyeberangi sungai. Anak-anak usia sekolah tampak ikut menyeberang, selain pedagang, petani yang membawa hasil pertanian, hingga pengantar paket.
Kondisi tersebut membuat mobilitas masyarakat menjadi lebih sulit. Warga juga harus mengeluarkan biaya tambahan setiap kali menggunakan jasa penyeberangan.
Salah seorang warga Kampung Pematangdurian, Abdul Rahman, mengatakan masyarakat berharap pemerintah segera membangun kembali jembatan penghubung kedua kecamatan tersebut.
“Kalau harapan kita semoga jembatan penghubung kecamatan ini cepat terbangun. Kalau begini terus kami agak merasa kewalahan dan kesusahan, terutama untuk mengantar anak sekolah,” ujar Abdul Rahman saat ditemui di jalur penyeberangan.
Menurutnya, keberadaan getek sebagai satu-satunya alternatif penyeberangan membuat pengeluaran masyarakat bertambah karena harus membayar ongkos setiap kali bepergian.
“Tentu itu perlu biaya pulang pergi untuk menyeberang dengan transportasi getek,” katanya.
Menghambat Aktivitas Ekonomi
Selain menyulitkan aktivitas pendidikan dan mobilitas warga, putusnya akses jembatan juga berdampak terhadap aktivitas perekonomian masyarakat di kedua kecamatan.
Sekerak dan Bandarpusaka merupakan wilayah yang memiliki aktivitas pertanian cukup besar. Namun, kondisi akses yang masih mengandalkan perahu getek membuat petani kesulitan membawa hasil produksi menuju lokasi penjualan maupun pusat distribusi.
“Tak hanya itu juga, akses ini juga sulit bagi kami untuk membawa hasil produksi tani. Sulit untuk membawanya dengan transportasi getek ini,” ujar Abdul Rahman.
Menurut warga, kondisi tersebut tidak hanya menyita waktu, tetapi juga menambah biaya operasional dalam mengangkut hasil pertanian. Keterbatasan kapasitas perahu membuat pengangkutan barang tidak bisa dilakukan dengan mudah seperti ketika akses jalan dan jembatan masih tersedia.
Masyarakat yang selama ini menggantungkan aktivitas sehari-hari pada jalur penghubung tersebut berharap pemerintah segera mempercepat pembangunan kembali jembatan.
Warga berharap proses pembangunan tidak kembali tertunda sehingga masyarakat dapat segera menikmati akses transportasi darat yang lebih aman dan mudah.
“Jadi harapan kita sebagai masyarakat dua kecamatan yang kerap melintasi jalur ini, harapannya jembatan ini dapat cepat dibangun. Mudah-mudahan jangan sampai tahun depan, tahun ini bisa segera,” kata Abdul Rahman.
Bagi masyarakat Sekerak dan Bandarpusaka, pembangunan kembali jembatan bukan sekadar persoalan infrastruktur, tetapi juga menyangkut kelancaran pendidikan, aktivitas ekonomi, distribusi hasil pertanian, serta mobilitas warga dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.(**)
Ikuti acehindependent di Google News
Dapatkan berita acehindependent terbaru dan terpercaya langsung melalui Google News.
Buka Google News






