Prediksi Paling Akurat Liga - Liga Asia, Eropa ada di sini! lengkap, tajam, dan bikin kamu selalu update
Baca SelengkapnyaACEH INDEPENDENT, ACEH BESAR – Ulama muda asal Aceh, Ustaz Masrul Aidi, menyoroti kebiasaan sejumlah pemuka agama yang masih merokok di ruang publik, terutama ketika sedang menjalankan aktivitas keagamaan maupun berada di lingkungan pendidikan.
Pimpinan Dayah Terpadu Babul Maghfirah, Aceh Besar, itu menilai kebiasaan tersebut tidak semestinya dilakukan oleh seorang pendidik, terlebih guru agama yang memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan contoh dan keteladanan kepada masyarakat serta peserta didik.
Menurut Masrul, persoalan tersebut bukan semata-mata menyangkut aktivitas merokok, tetapi lebih kepada keteladanan seorang pendidik. Guru agama, kata dia, tidak cukup hanya memiliki pengetahuan agama yang luas, tetapi juga harus mampu menunjukkan nilai-nilai yang diajarkannya melalui perilaku sehari-hari.
Ia mencontohkan, lingkungan pendidikan pada umumnya menerapkan larangan merokok. Karena itu, para pendidik, termasuk guru agama, seharusnya turut menghormati aturan tersebut.
“Makanya dalam Qasidah Burdah ada bait yang menyatakan ‘Saya suruh kalian melaksanakan kebaikan, sedangkan aku sendiri tidak melakukannya. Maka ucapanku itu tidak tepat dan tidak pula aku yang bersikap lurus’. Kita suruh murid-murid untuk tidak merokok, sedangkan kita sendiri merokok. Itulah perilaku yang sangat buruk, karena pada seorang pendidik, apalagi guru agama, yang paling utama itu bukan kecerdasannya, tetapi keteladanannya,” kata Ustaz Masrul dalam wawancara dengan wartawan, Jumat (2/10/2026).
Ia menegaskan, keteladanan merupakan salah satu aspek paling penting dalam proses pendidikan. Seorang guru, terutama guru agama, akan menjadi figur yang diamati dan ditiru oleh murid-muridnya.
Karena itu, menurutnya, akan menjadi kontradiktif apabila seorang guru mengingatkan murid agar tidak merokok, sementara dirinya sendiri masih melakukan kebiasaan tersebut di hadapan para siswa.
“Sulit bagi kita melarang murid merokok kalau kita sendiri merokok. Anak-anak akan melihat apa yang dilakukan gurunya, bukan hanya mendengar apa yang disampaikan,” demikian inti pandangan Masrul mengenai pentingnya keteladanan pendidik.
Masrul juga memahami bahwa tidak semua orang yang sudah terbiasa merokok dapat langsung menghentikan kebiasaan tersebut. Namun, ia mengingatkan agar setidaknya aktivitas merokok tidak dilakukan ketika seseorang sedang menyampaikan pengajian atau berada di hadapan jamaah.
Menurutnya, seorang pemuka agama memiliki tanggung jawab lebih besar dalam menjaga perilaku ketika tampil di ruang publik. Sebab, masyarakat tidak hanya mendengarkan nasihat yang disampaikan, tetapi juga memperhatikan sikap dan kebiasaan orang yang menyampaikannya.
Terlebih jika pengajian berlangsung di dalam masjid. Masrul menilai, merokok di tempat tersebut bukan hanya berkaitan dengan pribadi perokok, tetapi juga berpotensi mengganggu kenyamanan jamaah lainnya.
Dalam konteks hukum merokok di masjid, Masrul menjelaskan bahwa ketentuannya dapat dilihat dari dampak yang ditimbulkan terhadap orang lain.
“Jika aktivitas merokok tersebut mengganggu orang lain, hukumnya dapat menjadi haram. Sementara jika tidak menimbulkan gangguan, hukumnya dapat dihukumi makruh,” jelasnya.
Ia mengatakan, asap dan bau rokok dapat mengganggu jamaah lain yang sedang beribadah. Karena itu, seseorang tidak seharusnya mengabaikan kenyamanan orang lain hanya karena menganggap merokok sebagai kebiasaan pribadi.
Masrul juga mengingatkan bahwa pendapat mengenai hukum merokok yang dinilai makruh tidak serta-merta dapat diterapkan tanpa melihat kondisi dan dampaknya. Menurutnya, ketika aktivitas tersebut menimbulkan mudarat atau mengganggu orang lain, hukumnya dapat berubah.
Bahkan, ia menilai posisi seorang alim atau tokoh agama perlu mendapat perhatian khusus. Sebab, perilaku seorang alim memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap masyarakat dibandingkan perilaku orang biasa.
“Kalau dilakukan oleh seorang alim, tentu ada pertimbangan lain karena dia menjadi panutan masyarakat. Apa yang dilakukan seorang guru atau ulama bisa saja ditiru oleh murid dan jamaah,” ujarnya.
Masrul berharap para pendidik dan pemuka agama dapat semakin menyadari pentingnya menjaga sikap, terutama ketika berada di hadapan murid dan jamaah. Menurutnya, dakwah tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi juga melalui perilaku yang menjadi contoh nyata.
Ia menekankan bahwa seorang guru agama idealnya menjadi cerminan dari nilai-nilai yang diajarkannya. Dengan demikian, nasihat tentang kebaikan akan lebih mudah diterima ketika masyarakat melihat adanya kesesuaian antara ucapan dan perbuatan.(**)
Ikuti acehindependent di Google News
Dapatkan berita acehindependent terbaru dan terpercaya langsung melalui Google News.
Buka Google News






