Prediksi Paling Akurat Liga - Liga Asia, Eropa ada di sini! lengkap, tajam, dan bikin kamu selalu update
Baca SelengkapnyaACEH INDEPENDENT, JAKARTA — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus memantau perkembangan bencana yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Berdasarkan pemutakhiran data sejak Kamis (1/10) hingga Jumat (2/10/2026), sejumlah daerah masih menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kekeringan, hingga angin kencang.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena sebagian wilayah masih berada dalam periode musim kemarau dengan kondisi vegetasi yang relatif kering. Cuaca panas dan hembusan angin turut mempercepat penyebaran api ketika kebakaran lahan terjadi.
Salah satu karhutla terjadi di Kabupaten Seram Bagian Timur, Provinsi Maluku. Kebakaran dilaporkan berlangsung sejak Selasa (29/9) di Desa Saalas, Kecamatan Bula, dan Desa Silohan, Kecamatan Bula Barat.
Kondisi cuaca yang panas serta tiupan angin kencang membuat api dengan cepat membakar vegetasi yang mengering akibat kemarau berkepanjangan. Berdasarkan pemutakhiran data pada Kamis (1/10), luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 40 hektare.
BPBD Kabupaten Seram Bagian Timur bersama tim gabungan langsung melakukan penanganan dengan mengerahkan satu unit mobil pemadam untuk melakukan pemadaman sekaligus pendinginan di lokasi kejadian.
Upaya tersebut membuahkan hasil. Per Kamis (1/10), api di wilayah terdampak dilaporkan telah padam.
Karhutla Juga Terjadi di Jawa Tengah
Ancaman karhutla juga terjadi di sejumlah wilayah Jawa Tengah. Di Kabupaten Rembang, kebakaran terjadi pada Rabu (30/9) sekitar pukul 11.15 WIB di Desa Karasgede, Kecamatan Lasem.
Kebakaran tersebut menghanguskan kawasan rumpun bambu, lahan jati, serta lahan tebu dengan luas sekitar satu hektare.
Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Rembang bersama perangkat daerah terkait melakukan pemadaman menggunakan satu unit mobil tangki. Setelah api berhasil dikendalikan, petugas melanjutkan proses pendinginan dan penyisiran untuk memastikan tidak ada bara maupun titik api yang berpotensi kembali memicu kebakaran.
Berdasarkan laporan pada Kamis (1/10), api di lokasi tersebut telah berhasil dipadamkan.
Kebakaran lahan juga terjadi di Kabupaten Wonogiri pada Rabu (30/9) sekitar pukul 13.05 WIB. Lokasi kejadian berada di kawasan hutan Petak 23 D dan 23 A, masing-masing di Desa Giriwono, Kecamatan Wonogiri, serta Desa Sendangijo, Kecamatan Selogiri.
Vegetasi berupa serasah, kirinyuh, dan alang-alang kering terbakar dengan luas sekitar empat hektare.
BPBD Kabupaten Wonogiri bersama tim gabungan dan masyarakat setempat melakukan upaya pemadaman. Hingga Kamis (1/10), kebakaran dilaporkan telah berhasil dipadamkan.
Sementara itu, Kabupaten Grobogan juga menghadapi kejadian serupa. Karhutla terjadi pada Kamis (1/10) sekitar pukul 13.00 WIB di lahan pertanian jagung yang berada di Dusun Juwono, Desa Karangrejo, Kecamatan Grobogan.
Lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar dua hektare. BPBD Kabupaten Grobogan bersama unsur terkait melakukan pemadaman dan pendinginan guna memastikan tidak terdapat bara api maupun titik panas yang dapat memicu kebakaran susulan.
Pada hari yang sama, api berhasil dipadamkan. Meski demikian, pemantauan terhadap lokasi kejadian masih dilakukan sebagai langkah antisipasi.
Sembilan Hektare Lahan Terbakar di Tidore
Karhutla selanjutnya terjadi di Kota Tidore Kepulauan, Provinsi Maluku Utara, pada Kamis (1/10) sekitar pukul 14.30 WIT.
Kebakaran terjadi di Desa Kayasa dan Desa Gosale, Kecamatan Oba Utara. Api bermula dari lahan kosong milik warga yang ditumbuhi pohon bambu dan sagu.
Tiupan angin kencang menyebabkan api dengan cepat menyebar ke area sekitarnya. Berdasarkan perkiraan sementara, sekitar sembilan hektare hutan dan lahan terbakar.
Berbeda dengan sejumlah lokasi lainnya yang telah berhasil dipadamkan, pada laporan Kamis (1/10) masih ditemukan beberapa titik api di wilayah tersebut. TRC BPBD Provinsi Maluku Utara terus melakukan pemadaman untuk mencegah api meluas.
Kemarau Picu Kekurangan Air Bersih
Selain kebakaran hutan dan lahan, musim kemarau juga memberikan dampak terhadap ketersediaan air bersih di sejumlah daerah.
Di Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku, debit sumber air dan sumur warga mengalami penurunan. Kondisi tersebut terjadi di Desa Piru, Kecamatan Seram Barat, dan berdampak terhadap sekitar 80 kepala keluarga.
BPBD Kabupaten Seram Bagian Barat telah melakukan asesmen sekaligus mendukung pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat dengan menyalurkan air bersih.
Pada Kamis (1/10), sebanyak 8.000 liter air bersih didistribusikan kepada warga yang terdampak kekeringan.
Kondisi kekurangan air bersih juga terjadi di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Sejumlah sumber air mulai mengering akibat musim kemarau sehingga masyarakat membutuhkan dukungan pasokan air bersih.
Dampaknya dirasakan sekitar 1.327 kepala keluarga atau 4.242 jiwa di Desa Kalirejo, Kecamatan Singorojo, dan Desa Kedungasri, Kecamatan Ringinarum.
BPBD Kabupaten Kendal bersama perangkat daerah terkait terus melakukan distribusi air bersih kepada masyarakat.
Pada Kamis (1/10), BPBD Kabupaten Kendal bersama PMI Kabupaten Kendal menyalurkan sebanyak 20.000 liter air bersih ke Dusun Kalipuru dan Dusun Surak, Desa Kalirejo, Kecamatan Singorojo.
Sementara itu, bantuan dari CSR (KIK) sebanyak 34.000 liter disalurkan ke Dusun Jatigowok, Desa Kedungasri, Kecamatan Ringinarum.
Secara keseluruhan, hingga Kamis (1/10), total distribusi air bersih di wilayah tersebut telah mencapai 900.000 liter, termasuk bantuan dari berbagai unsur yang turut terlibat dalam penanganan dampak kekeringan.
Angin Kencang Rusak Rumah Warga di Nias
Di wilayah Sumatera Utara, Kabupaten Nias dilanda angin kencang pada Selasa (29/9). Peristiwa tersebut menyebabkan kerusakan terhadap rumah dan perahu milik warga di Desa Hiligeho Sogawu, Kecamatan Tabag Nasa.
Sekitar sembilan kepala keluarga terdampak akibat kejadian tersebut. Sebanyak sembilan unit rumah dilaporkan mengalami kerusakan.
BPBD Kabupaten Nias telah melakukan pendataan terhadap dampak bencana serta berkoordinasi dengan perangkat daerah terkait untuk penanganan rumah warga yang mengalami kerusakan.
Berdasarkan laporan pada Kamis (1/10), kondisi wilayah terdampak telah kembali kondusif.
Pengendalian Karhutla di Enam Provinsi Terus Diperkuat
Pada skala yang lebih luas, pemerintah juga terus melakukan pengendalian karhutla di enam provinsi prioritas, yakni Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat.
Penanganan dilakukan secara terpadu melalui operasi darat dan operasi udara. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga dilaksanakan sesuai kondisi dan kebutuhan di lapangan.
Upaya tersebut mencakup pemadaman, pendinginan, pemantauan, serta pengendalian agar kebakaran tidak meluas ke wilayah lain.
Keberadaan titik api di sejumlah daerah menjadi perhatian karena kondisi cuaca yang relatif kering dapat meningkatkan risiko kebakaran, terutama pada kawasan dengan vegetasi yang mudah terbakar.
BMKG Prediksi Sejumlah Wilayah Masih Diguyur Hujan Rendah hingga Menengah
Potensi karhutla dan kekeringan juga tidak terlepas dari kondisi cuaca dalam beberapa hari mendatang.
Berdasarkan prediksi Curah Hujan Kumulatif Dasarian I Oktober 2026 atau periode 1–10 Oktober 2026 yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sejumlah wilayah Indonesia diprakirakan mengalami curah hujan dominan pada kategori rendah dan menengah.
Wilayah tersebut meliputi Aceh, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua, Papua Pegunungan, Papua Tengah, dan Papua Selatan.
Kondisi tersebut membuat kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan dan kekeringan perlu terus ditingkatkan, terutama di wilayah yang mengalami keterbatasan sumber air serta memiliki vegetasi yang mudah terbakar.
BNPB Imbau Warga Tingkatkan Kewaspadaan
BNPB mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla, kekeringan, maupun cuaca ekstrem.
Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan, terutama pada kondisi cuaca panas dan kering. Apabila menemukan titik api, masyarakat diharapkan segera melaporkannya kepada petugas berwenang agar dapat ditangani sedini mungkin sebelum api meluas.
BNPB juga mengingatkan masyarakat yang berada di wilayah terdampak kekeringan agar menggunakan air secara efisien dan bijaksana.
Selain itu, masyarakat diminta terus mengikuti perkembangan informasi dan peringatan resmi dari BNPB, BPBD, BMKG, serta pemerintah daerah masing-masing.
Kewaspadaan dan keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam mencegah bencana berkembang menjadi lebih luas, terutama ketika kondisi cuaca masih mendukung terjadinya kebakaran lahan dan kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia.(**)
Ikuti acehindependent di Google News
Dapatkan berita acehindependent terbaru dan terpercaya langsung melalui Google News.
Buka Google News






