Prediksi Paling Akurat Liga - Liga Asia, Eropa ada di sini! lengkap, tajam, dan bikin kamu selalu update
Baca SelengkapnyaACEH INDEPENDENT, BANDA ACEH – Upaya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di Kota Banda Aceh tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah dan aparat keamanan. Peran aparatur gampong, terutama para keuchik, dinilai sangat penting karena berada paling dekat dengan masyarakat dan memiliki kemampuan untuk mendeteksi berbagai persoalan sejak dini.
Hal tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Banda Aceh, Afdhal Khalilullah, saat membuka kegiatan Sosialisasi dan Deklarasi Komitmen Para Keuchik dalam Mewujudkan Kamtibmas yang Aman, Tertib, dan Kondusif di Kota Banda Aceh, yang berlangsung di Balai Keurukon, Senin, 28 September 2026.
Dalam kegiatan tersebut, Afdhal mengajak seluruh keuchik bersama aparatur gampong, aparat keamanan, serta unsur terkait lainnya untuk memperkuat sinergi dalam menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif.
Menurutnya, persoalan keamanan dan ketertiban merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah tidak akan mampu menangani seluruh persoalan Kamtibmas apabila tidak didukung keterlibatan masyarakat hingga tingkat gampong.
Keuchik, kata Afdhal, memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan warga. Kondisi sosial masyarakat, potensi konflik, gangguan keamanan, hingga berbagai persoalan yang berkembang di tengah warga dapat diketahui lebih cepat apabila komunikasi antara aparatur gampong dan masyarakat berjalan dengan baik.
“Sebagai ibu kota Provinsi Aceh, Banda Aceh memiliki posisi strategis dan menjadi salah satu daerah yang turut menjadi perhatian dalam melihat berbagai perkembangan di Aceh. Karena itu, kondisi kota yang aman, tertib, dan kondusif perlu dijaga melalui kerja bersama antara pemerintah, aparat keamanan, aparatur gampong, dan masyarakat,” jelas Afdhal.
Ia menegaskan, membangun keamanan tidak hanya dilakukan setelah suatu persoalan terjadi. Langkah pencegahan dan deteksi dini justru harus menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas keamanan di setiap wilayah.
Karena itu, keuchik bersama aparatur gampong diharapkan mampu membangun komunikasi yang intensif dengan masyarakat. Setiap persoalan yang berpotensi berkembang menjadi gangguan Kamtibmas perlu segera diidentifikasi dan dikoordinasikan dengan pihak terkait.
Afdhal juga mengingatkan bahwa perkembangan berbagai persoalan sosial, termasuk penyalahgunaan narkotika, perlu mendapat perhatian serius. Berdasarkan informasi yang diterima dari Polresta Banda Aceh, hingga Mei 2026 tercatat 38 kasus narkoba dengan 57 tersangka di wilayah Kota Banda Aceh.
Data tersebut, menurutnya, menjadi salah satu pengingat bahwa upaya menjaga keamanan masyarakat harus dilakukan secara bersama-sama dan berkelanjutan. Pencegahan tidak hanya menjadi tugas kepolisian, tetapi juga membutuhkan peran keluarga, masyarakat, aparatur gampong, serta pemerintah.
Lingkungan gampong, lanjut Afdhal, harus menjadi ruang pertama dalam membangun kepedulian terhadap keamanan. Dengan komunikasi yang terbuka, berbagai indikasi persoalan sosial di tengah masyarakat diharapkan dapat diketahui lebih cepat sehingga penanganannya tidak menunggu hingga menjadi persoalan yang lebih besar.
Ia juga mendorong para keuchik agar terus membangun koordinasi dengan unsur kepolisian, TNI, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, serta elemen masyarakat lainnya. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk menciptakan sistem keamanan yang tidak hanya bersifat responsif, tetapi juga mengedepankan pencegahan.
Deklarasi komitmen para keuchik dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari penguatan kesadaran bersama bahwa keamanan kota dimulai dari lingkungan paling dekat dengan masyarakat.
Banda Aceh sebagai ibu kota provinsi memiliki dinamika sosial yang cukup tinggi. Karena itu, menurut Afdhal, kondisi Kamtibmas harus dijaga secara konsisten agar masyarakat dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan rasa aman dan nyaman.
Pemerintah Kota Banda Aceh, kata dia, akan terus mendorong kerja sama lintas sektor dalam menjaga keamanan dan ketertiban. Namun, keberhasilan upaya tersebut sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat dan aparatur gampong sebagai ujung tombak pelayanan sekaligus penghubung pemerintah dengan warga.
Melalui penguatan sinergi tersebut, pemerintah berharap setiap potensi gangguan keamanan dapat dicegah sejak awal, sementara persoalan yang muncul di tengah masyarakat dapat ditangani secara cepat, tepat, dan terkoordinasi.
Dengan demikian, terciptanya Banda Aceh yang aman, tertib, dan kondusif bukan hanya menjadi target pemerintah dan aparat keamanan, melainkan menjadi komitmen bersama seluruh masyarakat hingga ke tingkat gampong.(**)
Ikuti acehindependent di Google News
Dapatkan berita acehindependent terbaru dan terpercaya langsung melalui Google News.
Buka Google News






