Undangan acara disampaikan secara sederhana melalui sambungan telepon WhatsApp. Dengan nada akrab khas persaudaraan Aceh, Bg Din menyampaikan ajakan untuk hadir.
“Kajak urumoh beh uroe minggu, pajoh bu cok uroe,” ucapnya ramah. Kalimat singkat namun penuh makna itu sudah cukup membuat saya merasa betapa hangatnya suasana yang akan berlangsung.
Widget Artikel Samping
Ketika hari yang dinanti tiba, tamu undangan mulai berdatangan. Setibanya di lokasi, suasana rumah tampak ramai namun tetap tertata. Hidangan khas Aceh sudah terhidang, aromanya mengundang selera. Namun, yang dicari pertama kali tentu sang tuan rumah.
“Bg Din hoi?” tanya seorang tamu kepada undangan lainnya. Rupanya, tuan rumah sedang berada di dapur. Sebuah hal yang jarang terlihat pada acara serupa, di mana biasanya tuan rumah menunggu di ruang tamu. Namun, kesederhanaan itu justru menambah kesan hangat.
“Oh ajir, silahkan, ureng inong tamong u dalam. Yang agam silahkan aju menikmati hidang,” kata Bg Din sambil menyambut tamu. Dengan senyum tulus, ia mempersilakan hadirin untuk langsung menikmati sajian yang tersedia. Tamu-tamu pun dipersilakan bersalaman, menandai eratnya hubungan yang terjalin.
Hidangan khas Aceh tersaji di meja: nasi, kuah beulangong, gulai, hingga aneka lauk pawuk. Semua tamu menikmatinya dengan penuh kebersamaan. Tidak ada jarak antara tuan rumah dan undangan, semua larut dalam suasana persaudaraan.
Setelah semua rangkaian selesai, para undangan satu per satu berpamitan. “Bg Din, kamoe pamit beh,” ucap salah seorang tamu. “Ok get, selamat,” jawab Bg Din singkat namun penuh kehangatan. Ucapannya sederhana, tetapi terasa tulus.
Di tengah kesibukan zaman, tradisi semacam ini menjadi pengingat penting bahwa silaturahmi harus selalu dijaga. Bagi para tamu undangan, pulang dari acara itu bukan hanya membawa kenyang di perut, tetapi juga hangat di hati.
Ikuti acehindependent di Google News
Dapatkan berita acehindependent terbaru dan terpercaya langsung melalui Google News.
Buka Google News